Daftar Top Gainers & Losers Minggu Ini: TPIA dan WBSA Terpuruk Paling Dalam

Saham LCKM Jadi Top Gainers, TPIA Terpuruk di Puncak Top Losers

Selama minggu 18 hingga 22 Mei 2026, saham PT LCK Global Kedaton Tbk. (LCKM) mendominasi daftar top gainers atau saham dengan pertumbuhan terbesar. Di sisi lain, saham emiten yang terkait dengan Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), berada di puncak daftar top losers.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham LCKM ditutup pada posisi Rp141, meningkat sebesar 29,36% dibandingkan harga sebelumnya di level Rp109. Berikutnya, saham PT Asiaplast Industries Tbk. (APLI) menguat 12,39% menjadi Rp254, disusul oleh saham PT Dafam Property Indonesia Tbk. (DFAM) yang naik 12% ke level Rp140.

Saham PT Unggul Indah Cahaya Tbk. (UNIC) juga mengalami kenaikan sebesar 11,03% menjadi Rp14.600, sedangkan saham PT Citra Tubindo Tbk. (CTBN) menguat 10,58% ke posisi Rp5.750. Berikut ini adalah daftar lengkap saham-saham yang termasuk dalam top gainers pekan ini:

Daftar Top Gainers Sepekan

  • LCKM – Rp141 (+29,36%)
  • APLI – Rp254 (+12,39%)
  • DFAM – Rp140 (+12,00%)
  • UNIC – Rp14.600 (+11,03%)
  • CTBN – Rp5.750 (+10,58%)
  • TALF – Rp780 (+9,09%)
  • GGRP – Rp328 (+8,61%)
  • CITA – Rp3.790 (+8,60%)
  • SRAJ – Rp14.000 (+7,69%)
  • INTD – Rp258 (+7,50%)

Di sisi lain, saham TPIA mengalami penurunan terbesar selama seminggu ini. Harga sahamnya turun ke level Rp2.000, mencerminkan koreksi sebesar 53,49% dari harga sebelumnya di Rp4.300. Selanjutnya, saham PT BSA Logistic Indonesia Tbk. (WBSA) mengalami penurunan 50,20% dari harga Rp1.265 menjadi Rp630. WBSA resmi melakukan IPO pada Jumat (10/5/2026) dengan harga penawaran Rp168 per saham.

Di posisi ketiga, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) mengalami koreksi sebesar 47,34%, turun dari Rp1.035 menjadi Rp545. Setelah DSSA, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) juga turun sebesar 39,41% dari Rp850 menjadi Rp515.

Daftar Top Losers Sepekan

  • TPIA – Rp2.000 (-53,49%)
  • WBSA – Rp630 (-50,20%)
  • DSSA – Rp545 (-47,34%)
  • CUAN – Rp515 (-39,41%)
  • NSSS – Rp472 (-38,30%)
  • BANK – Rp304 (-37,45%)
  • MGNA – Rp88 (-37,14%)
  • RLCO – Rp2.960 (-34,22%)
  • BUKK – Rp735 (-33,78%)
  • YPAS – Rp595 (-32,39%)

Selama periode tersebut, indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah sebesar 8,35% atau 561,27 poin dari level 6.723 ke posisi 6.162.

Equity analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa volatilitas pasar tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang sering menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global. Fokus pasar juga tertuju pada implementasi MSCI rebalancing menjelang tanggal efektif 29 Mei 2026.

Selain itu, pasar mulai mengantisipasi potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI. Hal ini dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging, termasuk Indonesia.

Menurut Imam, tekanan pasar saat ini lebih disebabkan oleh faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing, bukan karena penurunan fundamental ekonomi domestik secara struktural. Meskipun demikian, dengan pertumbuhan PDB Indonesia kuartal I-2026 yang stabil di level 5,61%, pasar domestik masih memiliki fondasi yang cukup kuat.

“Namun, hingga arus dana asing mulai stabil pasca-effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” ujarnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *