Penurunan Harga Telur Ayam di Jawa Timur
Harga telur ayam di tingkat peternak di Jawa Timur terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini disebabkan oleh surplus produksi dan lemahnya daya serap pasar. Peternak sempat mengalami kesulitan menjual hasil produksi mereka, bahkan ada yang membagikan telur secara gratis karena stok menumpuk.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Indyah Aryani, mengakui bahwa kondisi tersebut memang tengah terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur. Menurutnya, Jawa Timur merupakan daerah dengan populasi unggas terbesar di Indonesia, baik ayam broiler maupun ayam petelur, sehingga produksi telur di wilayah ini selama ini selalu mengalami surplus.
“Unggas di Jawa Timur ini memang terbesar populasinya, baik broiler maupun petelur. Semuanya terbesar dan Jawa Timur selalu surplus produksi,” ujarnya saat menanggapi dikonfirmasi Harian Surya, Sabtu (24/5/2026).
Menurut Indyah, penurunan harga telur yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dipicu oleh melimpahnya stok produksi di pasaran, sementara daya serap masyarakat dan industri belum mampu mengimbangi jumlah produksi yang terus meningkat. Kondisi tersebut membuat harga telur di tingkat peternak jatuh hingga berada di bawah harga pokok produksi (HPP).
Peternak Kesulitan Jual Telur, Ada yang Membagikan Gratis
Situasi itu bahkan sempat menimbulkan gejolak di sejumlah sentra peternakan ayam petelur di Jawa Timur, salah satunya di Kabupaten Magetan. Lemahnya serapan pasar membuat sebagian peternak kesulitan menjual hasil produksi mereka sehingga stok telur menumpuk di kandang.
“Saat ini harga telur memang sedang anjlok. Kemarin sempat terjadi gejolak di Magetan karena harganya mulai turun dan penyerapannya tidak bagus. Bahkan ada peternak yang sampai membagikan telur secara gratis,” katanya.
Pemprov Jatim Tambah Menu Telur di Program MBG
Indyah menjelaskan, kondisi tersebut sebenarnya dipengaruhi oleh meningkatnya produksi telur di kalangan peternak dalam beberapa bulan terakhir. Banyak peternak sebelumnya meningkatkan populasi ayam petelur dan kapasitas produksi untuk mengantisipasi tingginya permintaan saat hari raya serta kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun dalam perjalanannya, ekspektasi pasar yang sebelumnya diperkirakan akan meningkat ternyata tidak sesuai dengan realisasi di lapangan.
Penyerapan telur yang diharapkan mampu menopang harga justru belum berjalan maksimal sehingga produksi yang melimpah tidak terserap optimal.
“Masalahnya saat ini para peternak sudah terlanjur meningkatkan skala produksi karena mengantisipasi MBG dan kebutuhan hari raya. Tapi ternyata ekspektasinya tidak sesuai realisasi. Bahkan kemarin ada penurunan penyerapan dari SPPG,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah pusat saat ini terus melakukan langkah koordinasi guna menstabilkan harga telur ayam di tingkat peternak. Salah satunya melalui rapat koordinasi yang melibatkan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, serta dinas peternakan kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Dari hasil koordinasi tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan penyerapan telur melalui program MBG dengan mewajibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menambah menu telur dalam setiap porsinya. Program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi jangka pendek untuk membantu menyerap produksi telur peternak yang saat ini melimpah di pasaran.
“Kami sudah melakukan rakor bersama Bapanas dan teman-teman dinas kabupaten/kota. Mulai hari ini kami sudah berkomitmen agar SPPG menambah menu telur untuk membantu menyerap produksi peternak,” ungkapnya.
Subsidi Jagung untuk Peternak
Di sisi lain, Indyah mengakui tingginya biaya produksi juga menjadi persoalan besar yang saat ini dihadapi peternak ayam petelur. Salah satu penyebab utama tingginya biaya produksi berasal dari kenaikan harga pakan ternak, terutama jagung yang menjadi bahan baku utama.
Menurutnya, komponen jagung menyumbang sekitar 50 hingga 60 persen biaya produksi pakan ayam. Karena itu, ketika harga jagung mengalami kenaikan, maka biaya produksi peternak otomatis ikut meningkat secara signifikan.
“Jagung ini bahan baku utama pakan ternak, porsinya bisa 50 sampai 60 persen. Saat ini harga jagung berkisar Rp6.500 sampai Rp7.000 per kilogram,” ujarnya.
Untuk membantu meringankan beban peternak, pemerintah saat ini tengah menyiapkan skema subsidi harga jagung melalui Bulog dan Bapanas bekerja sama dengan Kementerian Pertanian. Nantinya peternak diharapkan bisa memperoleh jagung dengan harga yang lebih murah melalui koperasi peternak.
“Sekarang akan ada subsidi jagung melalui Bulog dan Bapanas dari Kementerian Pertanian. Untuk peternak nanti harganya sekitar Rp5.000 dan penyalurannya melalui koperasi. Ini bentuk kehadiran pemerintah,” tegasnya.
Ekspor Produk Peternakan
Tidak hanya fokus pada penyerapan pasar dalam negeri, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mulai mendorong perluasan pasar ekspor produk peternakan. Menurut Indyah, pembukaan pasar luar negeri menjadi langkah penting agar produksi unggas Jawa Timur tidak hanya bergantung pada pasar domestik yang sewaktu-waktu bisa mengalami kejenuhan.
“Kalau pasar di dalam negeri sudah jenuh, maka kita harus membuka pasar ke luar negeri,” ujarnya.
Saat ini, komunikasi dan penjajakan kerja sama ekspor telah dilakukan dengan sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, hingga Jepang. Beberapa negara bahkan disebut sudah memberikan respons positif terhadap produk peternakan asal Jawa Timur.
“Jepang sudah melakukan analisa risiko dan mereka tertarik mengambil telur serta frozen meat ayam dari Jawa Timur. Malaysia juga memberikan perhatian terhadap produk susu. Ini bentuk komitmen kami untuk terus mencarikan pasar agar produksi dalam negeri tidak jenuh,” pungkasnya.
Ia berharap berbagai langkah yang dilakukan pemerintah, baik melalui peningkatan penyerapan dalam negeri, subsidi pakan, hingga perluasan pasar ekspor, dapat membantu menstabilkan harga telur ayam di tingkat peternak.






