Ketersediaan Bahan Pangan di Surabaya Selama Libur Idul Adha
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah memastikan ketersediaan bahan pangan melimpah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama libur panjang Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan dalam pasokan dan menjaga stabilitas harga.
Kepala Bidang Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Muhammad Khusnul Amin, menyampaikan bahwa kondisi pangan di Surabaya saat ini relatif stabil. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan pangan.
Menurutnya, peningkatan Indeks Kecukupan Pangan (IKP) Surabaya pada Mei 2026 menjadi 3,55 menunjukkan bahwa stok bahan pangan di Kota Pahlawan dalam kondisi aman untuk beberapa bulan ke depan. Angka ini menunjukkan bahwa pasokan bahan pangan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Indeks kecukupan pangan Surabaya saat ini mencapai 3,55. Artinya stok pangan lebih dari cukup dan aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama libur panjang Iduladha,” ujarnya di Surabaya, Rabu (27/5).
Selain ketersediaan stok, sejumlah harga bahan pangan di Surabaya terpantau turun pada Mei 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas seperti telur, daging ayam, bawang putih, gula, tomat, hingga ikan mujair menjadi penyumbang deflasi. Harga-harga tersebut menunjukkan penurunan yang signifikan, terutama pada cabai rawit, yang menjadi komoditas dengan penurunan harga paling besar dibandingkan April 2026.
Kondisi ini dinilai membantu menjaga kestabilan harga pangan menjelang Hari Raya Iduladha 2026. Warga cenderung membeli kebutuhan pangan sesuai keperluan rumah tangga. Khusnul Amin menyebut hingga hari ini, belum ditemukan adanya fenomena panic buying di masyarakat.
“Pembelian dalam jumlah besar lebih banyak dilakukan oleh pedagang. Kalau masyarakat umum sejauh ini belanja secukupnya, belum ada fenomena memborong bahan pokok secara berlebihan,” imbuh Amin.
Stabilitas Harga dan Pengawasan Pasokan
Kondisi serupa juga terlihat saat pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai wilayah Surabaya. Menurutnya, masyarakat tetap berbelanja secara wajar tanpa melakukan penimbunan bahan pokok.
Pembatasan pembelian sebelumnya hanya diberlakukan pada minyak goreng bersubsidi guna memastikan distribusi berjalan merata serta mencegah aksi pemborongan oleh masyarakat maupun pelaku usaha tertentu.
Amin mengimbau warga untuk tidak khawatir dan panic buying. Menurutnya, pembelian berlebih berpotensi memicu pemborosan dan meningkatkan sampah makanan akibat bahan pangan rusak atau terbuang.
“Masyarakat tidak perlu panik. Stok pangan aman dan Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan pemantauan agar kebutuhan pokok tetap terkendali. Tetap berbelanja secara bijak dan sesuai kebutuhan,” pungkasnya.





