Lawan Kebocoran Devisa, DSI Jadi Pilar Transformasi Aset Negara

Peran PT Danantara Sumber Daya Indonesia dalam Penguatan Kedaulatan Ekonomi Nasional

PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) hadir sebagai sebuah badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki legitimasi dan mandat khusus untuk memperkuat kedaulatan ekonomi di sektor sumber daya alam. Keberadaannya mencerminkan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa sumber daya alam Indonesia dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh masyarakat, bukan hanya sebagai angka ekspor.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menilai bahwa DSI memiliki peran penting sebagai pusat kendali ekonomi nasional. Tugas utama lembaga ini adalah memastikan transparansi serta kontrol penuh terhadap arus devisa komoditas strategis. Untuk menjalankan tugas tersebut, diperlukan tata kelola yang kredibel, transparan, dan didasarkan pada prinsip profesionalisme. Hal ini akan memungkinkan DSI berfungsi secara efektif dalam pengawasan dan pengelolaan sumber daya alam.

“Kehadiran DSI bisa dipahami sebagai instrumen koreksi struktural negara agar kekayaan alam tidak berhenti sebagai angka ekspor, tetapi benar-benar menjadi sumber penguatan fiskal, stabilitas moneter, dan pembiayaan pembangunan nasional,” ujar Ronny dalam keterangannya.

Ronny menegaskan bahwa ada tiga indikator utama untuk mengukur efektivitas kinerja DSI sejak awal transformasi. Pertama, peningkatan retensi devisa hasil ekspor di dalam negeri yang terukur. Kedua, transparansi transaksi melalui integrasi data lintas lembaga. Ketiga, efisiensi ekonomi yang menjaga daya saing dunia usaha.

Sistem Pelacakan Transaksi yang Terintegrasi

Sistem pelacakan transaksi yang terintegrasi dinilai memiliki potensi besar untuk menutup celah yang sering dimanfaatkan oleh pelaku ekspor komoditas, seperti praktik under invoicing dan transfer pricing. Masalah pengawasan komoditas selama ini sering kali bertumpu pada fragmentasi data dan lemahnya koordinasi antar-instansi terkait.

“Ketika data ekspor, kepabeanan, perpajakan, perbankan, dan lalu lintas devisa berada dalam satu ekosistem yang terkoneksi, ruang manipulasi otomatis menyempit drastis,” imbuhnya.

Menurut Ronny, sistem terintegrasi DSI bisa menjadi game changer jika disertai insentif dan disinsentif yang tepat. Para eksportir pada dasarnya akan mengikuti struktur insentif ekonomi. Jika memarkir devisa di dalam negeri memberikan manfaat yang kompetitif, misalnya fleksibilitas penggunaan, insentif pajak tertentu, atau kepastian regulasi, maka kepatuhan akan meningkat.

DSI sebagai Intervensi Struktural Penting

Ronny menilai, DSI berpotensi menjadi salah satu intervensi struktural paling penting dalam satu dekade terakhir untuk memperkuat stabilitas rupiah. Hal ini mengingat Indonesia kerap menghadapi situasi surplus komoditas yang tinggi namun tekanan terhadap rupiah tetap berulang.

Nah, ketika negara melalui DSI berhasil meningkatkan kontrol terhadap arus devisa dari sektor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan batu bara, efeknya bukan hanya pada cadangan devisa namun juga pada kedalaman pasar valas domestik. Rupiah akan memiliki fondasi yang lebih kuat karena pasokan dollar di pasar domestik lebih stabil.

“Dengan mekanisme retensi devisa yang lebih kuat, negara memiliki bantalan likuiditas yang lebih besar untuk menjaga stabilitas kurs, membiayai impor strategis, dan meredam kepanikan pasar. Dalam bahasa sederhana, DSI bisa menjadi shock absorber baru bagi ekonomi Indonesia,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *