SINGAPURA – Sejumlah kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas alam cair (LNG) dilaporkan meninggalkan Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Dari data pelayaran yang dihimpun oleh LSEG dan Kpler, tiga kapal tersebut diketahui memiliki transponder yang dimatikan saat berada di wilayah tersebut. Mereka menuju India dan Tiongkok.
Dua kapal tanker raksasa (VLCC) serta satu kapal LNG menjadi bagian dari kelompok kapal yang mulai meninggalkan kawasan Teluk sepanjang bulan ini. Meski demikian, lalu lintas pengiriman minyak dan LNG secara keseluruhan masih terbatas.
Salah satu kapal VLCC yang tercatat adalah Eagle Veracruz. Kapal ini membawa dua juta barel minyak mentah dari Arab Saudi sejak akhir Februari dan diperkirakan akan tiba di Pelabuhan Quanzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok tenggara pada 16 Juni. Pelabuhan tersebut merupakan lokasi kilang milik Sinochem. Hingga saat ini, AET Tankers selaku pemilik dan operator Eagle Veracruz serta Sinochem belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Sebelumnya, sumber Reuters melaporkan bahwa Eagle Veracruz termasuk salah satu dari tujuh kapal yang diminta Malaysia untuk mendapatkan izin melintasi perairan Iran. Hal ini menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Selain itu, VLCC Nissos Keros juga dilaporkan membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah Das dari Uni Emirat Arab. Kapal ini diperkirakan tiba di Pelabuhan Visakhapatnam, India, pada 3 Juni. Pelabuhan tersebut menjadi lokasi kilang milik Hindustan Petroleum (HPCL). Vitol sebagai penyewa kapal Nissos Keros dan Kylades Maritime selaku pengelola kapal juga belum memberikan respons.
Data Kpler menunjukkan bahwa kedua kapal tanker raksasa tersebut keluar dari Selat Hormuz pada Selasa. Pada Rabu (27/5/2026), kapal berbendera China Hua Lin Wan yang dioperasikan grup pelayaran COSCO juga keluar dari selat tersebut. Kapal ini membawa nafta dari Kuwait sejak awal Maret dan diperkirakan tiba di Pelabuhan Huizhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, pada 12 Juni.
Di sisi lain, kapal LNG Umm Al Ashtan terakhir kali terpantau tanpa muatan di lepas pantai Uni Emirat Arab pada 1 Mei berdasarkan data pelacakan Kpler dan LSEG. Kapal tersebut kembali muncul dalam data pelacakan pada 27 Mei dengan membawa muatan dari Pulau Das dan kini berada di lepas pantai Oman menuju India.
ADNOC, yang tercatat sebagai pengelola kapal Umm Al Ashtan, menolak memberikan komentar terkait posisi, pergerakan, maupun rute kapal dengan alasan kebijakan perusahaan.
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari telah membatasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Sebelum konflik berlangsung, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mencapai rata-rata 125 hingga 140 perjalanan kapal per hari. Saat ini, sekitar 20 ribu pelaut masih tertahan di ratusan kapal di kawasan Teluk.






