Titik Nol Singaraja Jadi Ikon Baru Bali Utara, Tampung Banjir dan Poros Wisata Kota

Proyek Penataan Titik Nol Kota Singaraja



Buleleng, Bali – Proyek penataan Titik Nol Kota Singaraja dipastikan tidak memberatkan APBD Buleleng secara berlebihan. Kebijakan ini diambil karena proyek tersebut dinilai sangat strategis, sekaligus menjawab kebutuhan kota mulai dari mitigasi banjir hingga pengembangan pariwisata berbasis heritage.

“Proyek ini anggarannya kami inovasikan tanpa memberatkan APBD Buleleng. Pendanaannya berasal dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Badung dan Pemprov Bali. Ini merupakan bentuk sinergi yang sangat baik sehingga pembangunan tetap bisa berjalan tanpa membebani keuangan daerah,” ujar Kadis Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR Perkim) Buleleng Putu Adiptha Ekaputra.

Fungsi Penting Di Balik Keindahan

Penataan kawasan Titik Nol tidak hanya berorientasi pada keindahan kota. Di balik proyek tersebut terdapat fungsi penting sebagai upaya penanggulangan banjir yang selama ini menjadi persoalan di sejumlah kawasan perkotaan Singaraja.

Di kawasan Titik Nol terdapat saluran utama yang memiliki peran besar dalam sistem drainase kota. Melalui proyek tersebut, saluran yang ada akan dimodernisasi dan ditingkatkan kapasitasnya agar mampu mengalirkan debit air secara lebih optimal menuju Tukad Banyumala.

Menghidupkan Identitas Sejarah

Selain infrastruktur, penataan Titik Nol diarahkan untuk menghidupkan kembali identitas sejarah Singaraja sebagai kota lama. Dikelilingi bangunan bernilai historis dan ekonomi bagi Buleleng, kawasan ini dinilai sangat layak menjadi pusat wisata sejarah perkotaan.

Putu Adiptha Ekaputra mengatakan keberadaan Kantor Bupati Buleleng, Gedung Gallery, hingga Gedung Laksmi Graha memperkuat potensi tersebut. “Titik Nol adalah pusat kawasan bersejarah Singaraja. Melalui penataan ini, kami ingin menghubungkan nilai sejarah dengan kebutuhan kota modern agar masyarakat bisa menikmati ruang publik yang tertata sekaligus mengenal sejarah daerahnya.”

Utilitas Perkotaan yang Lebih Baik

Penataan ini juga menyasar utilitas perkotaan, di mana kabel listrik dan telekomunikasi bertahap dipindahkan ke bawah tanah demi estetika dan keamanan. Nantinya, Titik Nol akan diintegrasikan ke dalam jalur city tour sejarah-budaya Singaraja, yang menghubungkan Puri Agung, Taman Bung Karno, sentra kerajinan Beratan, kawasan heritage SMAN 1, hingga Eks Pelabuhan Buleleng.

Konsep Pariwisata Urban

Konsep pariwisata urban ini akan diperkuat pada Buleleng Festival Agustus mendatang, dengan memanfaatkan Titik Nol dan Gedung Gallery sebagai ruang ekspresi UMKM serta ekonomi kreatif lokal. “Kami ingin kawasan ini hidup dan berdampak ekonomi. Oleh karena itu, fasilitas pendukung seperti Wi-Fi, toilet, keamanan, hingga kantong parkir sudah masuk dalam perencanaan,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *