Latar Belakang Kematian Lansia di Boyolali
Seorang lansia berinisial A (57 tahun), warga Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ditemukan meninggal dunia di rumahnya pada Selasa (19/5/2026) pagi. Berdasarkan keterangan keluarga, korban menerima kiriman sate ayam yang diantar melalui jasa ojek online (ojol) pada Senin (18/5/2026) sore. Sate ayam tersebut diduga dikirim oleh anak menantunya berinisial P yang tinggal di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Pada malam harinya, P disebut sempat datang ke rumah korban untuk menjenguk mertuanya sambil membawa roti. Namun, hubungan antara korban dan P tidak harmonis sejak lama. Kakak kandung korban, Widodo (61), mengungkapkan bahwa P kerap meminta uang kepada korban dengan berbagai alasan yang belakangan diketahui tidak benar. Menurut Widodo, P tidak merasa bersalah atau memiliki rasa malu atas tindakannya.
Hubungan yang Tidak Harmonis
Widodo menambahkan bahwa hubungan antara korban dan menantunya semakin memburuk setelah sejumlah kebohongan yang dilakukan P diketahui oleh korban. Sejak saat itu, komunikasi keduanya disebut tidak lagi berjalan baik. Ia juga menilai rekam jejak P selama ini kurang baik. Selain disebut sering meminjam uang kepada sejumlah teman, P juga diduga memiliki kebiasaan bermain judi online.
Kecurigaan keluarga semakin kuat setelah muncul informasi bahwa tidak hanya korban yang meninggal dunia setelah mengonsumsi sate ayam tersebut. Sejumlah ayam yang turut memakan sisa makanan itu juga dilaporkan mati. Meski demikian, Widodo tetap menyerahkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.
Penyebab Kematian Masih Misteri
Kapolres Boyolali, AKBP Indra Maulana Saputra, menjelaskan saat ini proses pemeriksaan di Dokpol Polda Jateng masih berjalan. Sehingga, polisi belum menerima hasil resmi mengenai penyebab kematian korban. “Apakah ada indikasi tanda-tanda kekerasan atau hal lain terkait penyebab meninggalnya itu,” kata Indra, Senin (1/6/2026). Pihak kepolisian juga belum menyimpulkan penyebab kematian korban. “Kan indikasinya banyak. Apakah karena sakit, apakah karena serangan jantung, atau penyebab lain. Kita masih menunggu hasil autopsi,” jelasnya.
Terkait isu yang beredar bahwa korban meninggal setelah mengonsumsi sate yang dikirim orang tak dikenal lewat ojek online, Indra menegaskan hal itu masih sebatas dugaan. “Karena rumah pun sudah dibersihkan sama keluarga, sudah bersih dan semuanya. Sehingga kita menunggu hasil dari Dokpol saja,” papar Indra.
Sate Dipesan Pakai Nama Anak Korban
Kuasa hukum keluarga korban, Wiwik Dwi Habsari SH, mengungkapkan pihaknya memperoleh sejumlah keterangan dari saksi yang mengarah pada dugaan keterlibatan seseorang berinisial P dalam pengiriman sate ayam kepada korban. Menurut Wiwik, berdasarkan informasi yang diperoleh dari saksi, seseorang yang diduga berinisial P membeli sate ayam di wilayah Pandean, Kecamatan Ngemplak. P kemudian meminta seorang pengemudi ojek online untuk mengantarkan makanan tersebut ke rumah korban di Dukuh Sindon.
“Proses pembelian sate ayam di Desa Pandean hingga makanan tersebut diantar ke rumah korban diketahui dari cerita driver ojek online yang kemudian mengetahui kabar meninggalnya A dari tayangan di Facebook,” jelas Wiwik. Wiwik melanjutkan, pemesanan layanan ojek online tersebut menggunakan nama Luriyanti. Padahal, Luriyanti merupakan anak kedua korban yang tinggal di Kismoyoso, Kecamatan Ngemplak, dan mengaku tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya.
“Setelah ditelusuri, ternyata anak kedua korban yang namanya digunakan dalam pemesanan itu merasa tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya yang tinggal sendirian di Sindon,” jelas Wiwik.
Kronologi Korban Ditemukan Tewas
Korban ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya dan telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Sindon, Selasa (19/5/2026). Diberitakan TribunSolo.com, sebelum mengonsumsi sate ayam, korban sempat menghubungi anaknya. Ketika itu, anak korban meminta agar orang tuanya tidak memakan sate tersebut karena belum mengetahui secara pasti siapa pengirimnya. Namun, keesokan harinya, Selasa pagi, korban ditemukan sudah meninggal dunia.
Saat korban ditemukan, terdapat baju yang terkena muntahan sisa makanan. Selain itu, mulut korban juga mengeluarkan busa. Keluarga semakin curiga setelah melihat kondisi mulut dan telinga korban yang tampak membiru. Atas dasar kecurigaan tersebut, keluarga kemudian berkonsultasi dengan Polsek Ngemplak pada Kamis (21/5/2026). Kasus tersebut selanjutnya dilaporkan secara resmi ke Polres Boyolali pada Senin (25/5/2026).
Setelah muncul dugaan kematian tidak wajar, keluarga meminta kepolisian melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan membongkar makam korban untuk kepentingan autopsi. Kakak kandung korban, Widodo, mengaku awalnya mendapat informasi dari tetangga mengenai kondisi adiknya. Saat itu, korban ditemukan dalam keadaan tergeletak terlentang di dalam rumah.
“Awalnya saya mendapat informasi dari tetangga untuk melihat kondisi adik saya. Saat itu korban ditemukan di dalam rumah dalam posisi terlentang,” ujarnya kepada TribunSolo.com, Minggu (31/5/2026). Kecurigaan bermula dari anak kedua korban yang setiap pagi biasa menitipkan anaknya kepada sang ibu. Pada hari kejadian, anak korban mendapati lampu rumah masih menyala hingga pagi hari, sesuatu yang tidak biasa karena korban selalu mematikan lampu sebelum beraktivitas.
“Anaknya curiga karena lampu rumah masih menyala. Biasanya pagi hari lampu sudah dimatikan semua. Setelah dipanggil berkali-kali tidak ada respons,” ungkap Widodo. Karena tidak mendapat jawaban dari dalam rumah, anak korban kemudian meminta bantuan tetangga untuk memeriksa kondisi ibunya. Bersama warga sekitar, mereka berusaha masuk ke dalam rumah dengan membuka pintu secara paksa. Setelah warga berhasil masuk, korban ditemukan sudah tidak bernyawa.






