JAKARTA – Pada hari Sabtu, 6 Juni 2026, matahari mulai naik perlahan, memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Di pesisir Pantai Tirang Kota Semarang, debur ombak terdengar berulang kali menghempas pasir, meninggalkan jejak buih putih yang perlahan menghilang. Suasana tenang ini dihiasi oleh suara langkah kaki yang semakin dekat; puluhan orang berkumpul dengan semangat, membawa harapan baru untuk menanam bibit cemara laut dan mangrove demi melindungi pantai dari ancaman abrasi.
Pada kesempatan tersebut, mereka tidak hanya menanam pohon, tetapi juga sedang membangun sabuk hijau yang akan menjadi jaminan bagi masa depan pesisir. Peserta kegiatan berasal dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pemerintah, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, dan warga setempat. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Di Pantai Tirang, sebanyak 200 batang cemara laut dan 2.750 batang mangrove ditanam. Selain itu, dilakukan pula gerakan bersih-bersih pantai secara gotong royong. Pada hari yang sama, penanaman mangrove dan tanaman pesisir juga dilakukan serentak di 16 kabupaten/kota pesisir di Jawa Tengah dengan total 92.290 bibit.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan
Dalam sambutannya, Luthfi menekankan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Ia menyatakan bahwa isu lingkungan harus dilihat sebagai masalah bersama dan membutuhkan kesadaran kolektif.
Luthfi menjelaskan bahwa kegiatan penanaman pohon di kawasan pesisir merupakan bagian dari program Gerakan Mageri Segoro. Gerakan ini bertujuan melindungi laut dan kawasan pesisir dari ancaman rob dan abrasi. “Mageri Segoro itu segoro yang dikasih pager. Artinya, laut kita harus kita pagari,” ujarnya.
Ia mencontohkan beberapa kawasan pantai di Pantura yang mengalami tekanan serius akibat abrasi. Oleh karena itu, penanaman mangrove dan tanaman pesisir harus dianggap sebagai upaya jangka panjang untuk menjaga garis pantai.
Pentingnya Perawatan Tanaman
Meskipun penanaman sudah dilakukan, Luthfi mengingatkan bahwa perawatan tanaman sangat penting agar tidak mati dan benar-benar memberikan manfaat. Ia meminta dinas terkait, penggiat lingkungan, hingga kawasan industri ikut serta menjaga tanaman yang telah ditanam. Terlebih, penanaman dilakukan menjelang musim kemarau, sehingga perlu pemantauan rutin.
“Tiga hari sekali minimal dilakukan pengecekan,” tegasnya.
Selain abrasi dan rob, Luthfi juga menyampaikan pentingnya evaluasi kebijakan pengambilan air tanah. Ia meminta pemerintah daerah lebih intensif melakukan evaluasi guna mencegah penurunan tanah, khususnya di wilayah pesisir. Masyarakat juga diminta untuk tidak sembarangan mengambil air tanah.
Solusi untuk Masalah Sampah
Masalah sampah juga menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. Luthfi menjelaskan bahwa Pemprov Jateng telah memetakan persoalan sampah di seluruh kabupaten/kota. Daerah dengan timbulan sampah sekitar 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan skema aglomerasi atau regional. Skema ini disiapkan untuk kawasan Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. Sementara daerah dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan refuse-derived fuel (RDF), yang dapat dimanfaatkan oleh pabrik semen.
Tema Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jawa Tengah mengusung tema Saatnya Bekerja untuk Iklim. Tema ini relevan dengan kondisi Jawa Tengah yang telah merasakan dampak perubahan iklim, termasuk bencana hidrometeorologi yang mendominasi kejadian bencana alam di provinsi ini.
Seorang peserta dari Saka Kalpataru, Aisyah, berharap penanaman mangrove dapat menjaga keberlanjutan kawasan pesisir Pantai Tirang. “Harapan saya, semoga Pantai Tirang ini jangan sampai terkikis oleh air laut,” katanya.






