SURABAYA – Komitmen Universitas Airlangga (Unair) dalam memperkuat jejaring internasional sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi ramah lingkungan kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA) 2026.
Program yang diinisiasi Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) itu berlangsung di Plaza Unair, Kamis (30/7/2026), dengan melibatkan mahasiswa serta akademisi dari berbagai negara.
SEGTA tidak sekadar menjadi forum pertukaran akademik, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi lintas negara dalam mengembangkan teknologi hijau yang diterapkan langsung kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut memadukan unsur pendidikan, riset, dan pengabdian sebagai implementasi Tridarma Perguruan Tinggi.
Rektor Unair, Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat harus mampu memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga komunitas internasional.
Menurutnya, SEGTA menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa dari berbagai negara dapat bekerja bersama mencari solusi atas tantangan yang dihadapi masyarakat melalui pendekatan ilmiah dan inovatif.
“Program ini mempertemukan mahasiswa internasional dari Pakistan, Prancis, Thailand, Tiongkok, Hong Kong, dan sejumlah negara lainnya dengan mahasiswa Unair. Mereka bersama-sama melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sehingga terjadi pertukaran ilmu sekaligus menghasilkan dampak positif bagi masyarakat,” ujar Madyan.
Ia mengungkapkan, antusiasme mahasiswa asing untuk mengikuti SEGTA terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ke depan, Unair menargetkan keterlibatan lebih banyak fakultas agar semangat internasionalisasi tidak hanya terpusat di FTMM, melainkan menjadi budaya akademik di seluruh lingkungan kampus.
Selain SEGTA, Unair juga secara konsisten menjalankan berbagai program internasional lainnya, di antaranya Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional dan International Community Development yang telah dilaksanakan di Malaysia, Australia, Taiwan, Jepang, hingga Thailand.
“Kami ingin setiap kegiatan pengabdian kepada masyarakat benar-benar memberikan nilai tambah, baik bagi masyarakat di Indonesia maupun di luar negeri. Prinsip itulah yang terus kami kembangkan dalam setiap program community development,” katanya.
Sementara itu, Dekan FTMM Unair, Prof. Dr. Ir. Retna Apsari, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa SEGTA merupakan agenda tahunan yang dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan implementasi teknologi hijau di tengah masyarakat.
Menurut Retna, program tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi Unair dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya di bidang energi bersih, pelestarian lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Pada penyelenggaraan tahun ini, salah satu lokasi pengabdian dipusatkan di Gili Iyang, Kabupaten Sumenep. Di kawasan tersebut, para peserta bersama masyarakat melaksanakan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pemanfaatan energi terbarukan, konservasi lingkungan, serta edukasi mengenai pentingnya energi bersih.
“Melalui kegiatan ini kami mengajak masyarakat dan pelajar memahami potensi energi surya sekaligus mengenalkan teknologi ramah lingkungan yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan daerah,” jelas Retna.
Ia menambahkan, SEGTA kini telah memasuki tahun ketiga pelaksanaannya. Selama mengikuti program, mahasiswa internasional tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal budaya lokal serta merancang solusi teknologi yang relevan dengan kondisi wilayah setempat.






