PLN NP Perkuat Transisi Energi, PLTA Brantas Hasilkan 1.480 GWh Listrik Bersih

Teks Foto : Teknologi digital dan kecerdasan buatan mendukung pemantauan serta pemeliharaan prediktif pembangkit di UP Brantas, yang sepanjang 2025 mencatat Equivalent Availability Factor sebesar 98,12 persen. (ist)

JAKARTA – Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi salah satu strategi PT PLN Nusantara Power (PLN NP) untuk meningkatkan kinerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang telah beroperasi selama puluhan tahun. Melalui Nusantara Control Center (NuCC), perusahaan mengoptimalkan pengelolaan pembangkit di Unit Pembangkitan (UP) Brantas, Jawa Timur, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan keandalan pasokan listrik.

Inovasi tersebut mendapat pengakuan internasional setelah PLN NP meraih penghargaan Silver dalam kategori Sustainable Renewable Energy Initiative of the Year pada ajang Asian Power Awards 2026. Penghargaan itu diserahkan dalam acara yang berlangsung di InterContinental Kuala Lumpur, Malaysia, pada 15 Oktober 2026.

Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, mengatakan optimalisasi aset pembangkit yang telah dimiliki menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam mendukung transisi energi. Menurutnya, pengembangan energi bersih tidak hanya dilakukan dengan menambah kapasitas pembangkit baru, tetapi juga memaksimalkan potensi fasilitas yang sudah beroperasi.

“Transisi energi membutuhkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada penambahan kapasitas, tetapi juga pada bagaimana kita memaksimalkan potensi energi bersih yang sudah tersedia. Melalui teknologi digital dan AI, PLN Nusantara Power terus meningkatkan efisiensi, menjaga keandalan pembangkit, serta mengoptimalkan manfaat aset yang kami kelola bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Ruly.

Di Jawa Timur, UP Brantas mengoperasikan 13 PLTA dengan total 28 unit pembangkit berkapasitas terpasang mencapai 291,54 megawatt (MW). Sejumlah fasilitas tersebut telah beroperasi selama 40 hingga 50 tahun, sehingga memerlukan strategi pengelolaan yang mampu mengatasi tantangan penuaan peralatan, pemeliharaan, hingga ketersediaan suku cadang.

Untuk menjawab tantangan itu, PLN NP mengandalkan NuCC yang mengintegrasikan pemantauan dan pengoperasian pembangkit dengan analisis data, teknologi Internet of Things (IoT), serta sistem pemeliharaan prediktif. Teknologi tersebut dilengkapi HydroOpt untuk mengoptimalkan penggunaan air dan HydroBot yang membantu operator mengidentifikasi kondisi pembangkit serta menentukan langkah operasional secara lebih cepat dan tepat.

Penerapan sistem digital ini memungkinkan potensi gangguan diantisipasi lebih awal, waktu henti pembangkit ditekan, dan penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien. Hasilnya, UP Brantas mencatat Equivalent Availability Factor (EAF) sebesar 98,12 persen dan Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) hanya 0,03 persen sepanjang 2025. Pada periode yang sama, biaya operasi dan pemeliharaan berhasil dikurangi sekitar 66 persen.

Selain memperbaiki kinerja operasional, optimalisasi pembangkit juga memberikan kontribusi terhadap upaya pengurangan emisi. PLTA yang dikelola UP Brantas menghasilkan sekitar 1.480 gigawatt hour (GWh) energi bersih sepanjang 2025, dengan kontribusi penghindaran emisi karbon sekitar 1,42 juta ton CO₂ per tahun.

Upaya menjaga produksi listrik dari energi terbarukan turut didukung optimalisasi pemanfaatan air, termasuk melalui dukungan teknologi modifikasi cuaca. Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan pembangkit yang menggabungkan efisiensi operasional dengan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Ke depan, PLN NP berencana memperluas penerapan teknologi digital ke aset PLTA lainnya di berbagai wilayah Indonesia. Pengembangan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai aset pembangkit, menjaga keandalan pasokan listrik, serta memperluas peluang efisiensi di seluruh portofolio pembangkitan perusahaan.