Banjir di Cikalang Pesantren: Pintu Air Mindi Jadi Penyebab Utama
Banjir yang terjadi di wilayah Kampung Cikalang, Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya pada Kamis (2/4/2026) menimbulkan kekhawatiran bagi warga setempat. Luapan Sungai Cikalang menyebabkan puluhan rumah terendam air dengan ketinggian bervariasi mulai dari mata kaki hingga lutut orang dewasa. Kejadian ini berdampak langsung pada dua RT, yaitu RT 01/06 dan RT 05/06.
Menurut informasi yang diperoleh, penyebab utama banjir adalah kerusakan pada pintu air Gunung Mindi. Pintu air tersebut tidak dapat dibuka dan mengakibatkan aliran air tertahan, sehingga memicu luapan yang cukup besar. Hal ini juga diungkapkan oleh Dinas PUTR Kota Tasikmalaya saat melakukan peninjauan bersama petugas gabungan.
Evaluasi dan Perencanaan Tindakan
Kadis PUTR Kota Tasikmalaya, Hendra Budiman, menjelaskan bahwa setelah dilakukan evaluasi, titik paling hilir ternyata mengalami masalah pada pintu air yang tidak berfungsi. “Setelah kami evaluasi barusan ini titik paling hilir dan ternyata ada pintu air yang tidak bisa dibuka alias tidak berfungsi dan putarannya hilang,” ujarnya.
Pihaknya juga akan melakukan pengecekan ke lokasi pintu air bersama BWWS dan PSDA Provinsi Jabar. “Besok kami akan cek ke lapangan dengan konsultan. Karena curah hujan tidak bisa diprediksi sampai kapan dan ini paling hilir, otomatis arus dari Leuwimunding tertahan. Kalau ini sudah lepas semua bisa ngalir,” tegasnya.
Selain itu, rencana pembongkaran pintu air yang rusak juga sedang dipertimbangkan. “Kita rencanakan (pintu air yang tidak bisa dibuka) akan dibongkar supaya air lari dan tidak tertahan,” jelasnya.
Penjelasan Mengenai Penyebab Banjir
Hendra menegaskan bahwa banjir bukan disebabkan oleh tumpukan sampah, melainkan karena debit air yang tinggi yang terbentuk di pintu air Gunung Mindi. “Kalau sampah tidak ada yang menumpuk, ini lepas semua, tapi tertahan di pintu air di hilirnya sehingga tak bisa mengalirkan debit air yang cukup tinggi,” katanya.
Jika tidak segera dilakukan pembongkaran, kejadian serupa akan terulang dan semakin parah. “Pintu air Gunung Mindi paling hilir, jadi airnya terus tertahan, kalau tidak segera dibongkar, ini akan terus begini kejadiannya,” ungkap Hendra.
Dampak pada Warga
Sebelum kejadian banjir, warga mengaku telah mengalami hujan deras selama sekitar dua jam. “Ini kan air lintasan dari kota juga, makanya banyak yang terendam banjir,” jelas Zaenal Kamal, Ketua RT 01/06.
Dari pengakuan Zaenal, jumlah rumah yang terdampak cukup banyak. “Mungkin hampir 70 rumah, untuk RT 05 hampir semua terdampak, tapi di RT 01 saya perkirakan 20 rumah terendam,” ujarnya.
Warga terdampak langsung melakukan evakuasi barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Petugas gabungan dari BPBD, Tagana, dan Damkar Kota Tasikmalaya juga turun tangan dengan melakukan penyedotan air menggunakan mesin di beberapa rumah yang masih tergenang.
Langkah Selanjutnya
Meski debit air mulai berangsur menurun, masyarakat tetap waspada menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem yang bisa terjadi kembali. Dinas PUTR dan instansi terkait berkomitmen untuk segera menyelesaikan permasalahan pintu air Gunung Mindi agar tidak terjadi lagi banjir yang sama.





