Penyelidikan Kecelakaan Tambang di Sijunjung
Polres Sijunjung sedang melakukan penyelidikan mendalam terkait kecelakaan tambang yang menewaskan dua orang di Galoro, Jorong Lintas Harapan, Nagari Palangki, Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (9/4/2026) sore dan menimbun dua penambang tradisional berinisial DK dan RF saat sedang beraktivitas di lokasi kejadian.
Kapolres Sijunjung, AKBP Willian Harbensyah melalui Kasat Reskrim, AKP Hendra Yose menyatakan bahwa proses penyelidikan kini difokuskan pada pengumpulan keterangan saksi dan pemeriksaan barang bukti di lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan kronologi serta legalitas aktivitas di area tersebut.
Hingga saat ini, pihak penyidik telah melakukan klarifikasi terhadap tujuh orang saksi yang berada di lokasi saat longsor terjadi. Berdasarkan pemeriksaan awal, para saksi mengonfirmasi bahwa kedua korban merupakan warga setempat yang tengah melakukan aktivitas penambangan secara mandiri.
Selain pemeriksaan saksi, Satuan Reserse Kriminal Polres Sijunjung juga telah mengamankan sejumlah peralatan penambangan. Barang bukti yang dibawa ke Mapolres antara lain mesin pompa air (robin), selang, dan alat dulang tradisional yang digunakan oleh para korban.
“Kami masih melakukan rangkaian penyelidikan lebih lanjut terkait peristiwa ini. Sejumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan tersebut sudah kami amankan sebagai bagian dari proses prosedur hukum,” kata Hendra Yose, Minggu (12/4/2026).
Penyelidikan awal menunjukkan faktor cuaca berperan signifikan dalam memicu ketidakstabilan struktur tanah. Lokasi kejadian sendiri diidentifikasi sebagai bekas area tambang lama yang permukaannya sudah tidak padat lagi. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya pergerakan tanah, terutama ketika masyarakat melakukan penggalian menggunakan mesin pompa air yang terus menerus menyemprotkan air ke dinding tanah.
Fakta lain yang terungkap dalam proses penyelidikan adalah status lahan tersebut. Area Galoro merupakan tambang yang sebelumnya telah ditinggalkan oleh pengelola terdahulu dan tidak lagi memiliki izin operasional aktif. Namun, desakan ekonomi membuat sejumlah warga kembali melakukan penambangan atas inisiatif sendiri. Mereka memanfaatkan peralatan sederhana untuk mencari sisa-sisa deposit emas tanpa adanya pengawasan aspek keselamatan kerja (K3) yang memadai.
Prosedur evakuasi dan penanganan korban juga menjadi fokus penyelidikan. Setelah longsor menghantam pada pukul 16.15 WIB, warga sempat berupaya menolong korban secara manual sebelum akhirnya alat berat didatangkan. Penggunaan dua unit ekskavator dalam proses evakuasi menjadi poin yang diperhatikan kepolisian untuk melihat sejauh mana respons darurat di area tersebut. Setelah ditemukan, kedua jenazah langsung ditangani sesuai prosedur sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Pasca-insiden ini, kepolisian memperketat pengawasan terhadap lokasi-lokasi tambang rakyat yang tidak memiliki izin resmi. Langkah ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan serupa di wilayah-wilayah rawan longsor lainnya. Masyarakat diimbau untuk menghentikan aktivitas penambangan di area tebing atau lereng, terutama saat intensitas hujan meningkat.
“Kami meminta warga meningkatkan kewaspadaan dan memahami bahwa keselamatan jauh lebih utama dibandingkan aktivitas di zona berbahaya,” tutup Hendra.
Identitas Jasad Pria di Sungai Batang Agam Terungkap
Identitas jasad pria mengambang di Sungai Batang Agam, Jorong Sawah Laweh, Nagari Situjuah Tungka, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota akhirnya terungkap, yakni AY (55). Korban diketahui beralamat di Jorong Bumbuang, Kenagarian Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.
Keterangan ini disampaikan oleh Kapolsek Situjuah Limo Nagari, AKP Hendra saat dikonfirmasi, Minggu (12/4/2026) usai penemuan jasad tersebut. Kata dia, pihaknya mendapatkan laporan penemuan dari Wali Nagari Situjuah Tungka, Yusrizal sekira pukul 12:12 WIB dan langsung menuju lokasi.
“Kita dapat informasi dari wali nagari, ada penemuan mayat di Sungai Batang Agam, lalu langsung ke lokasi,” ucapnya. Saat dilakukan pendataan, jenazah tersebut bernama Ari Yusman (55) dengan jenis kelamin laki-laki.
Ia menjelaskan, kronologi kejadian bermula ketika laporan dari wali nagari terkait orang hanyut di batang pohon pada aliran Sungai Batang Agam, Lubuak Gadang, Jorong Sawah Laweh. “Saat di lokasi, kondisi jasad sudah membengkak, kemudian warga dan petugas berusaha membawa korban ke pinggir sungai,” katanya.
Petugas sempat mendapat kendala dikarenakan kondisi TKP jauh dari pemukiman penduduk. Selain itu, petugas juga kesulitan dengan akses medan ditemukannya jasad pria di Sungai Batang Agam tersebut. “Kini, jasad tersebut sudah dibawa ke RS Adnaan WD Payakumbuh untuk penanganan lebih lanjut,” tambahnya.

Gunung Marapi Erupsi Lagi Minggu Pagi Ini
Gunung Marapi yang berada di wilayah Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat, kembali mengalami erupsi pada Minggu (12/4/2026) pagi. Letusan terjadi sekitar pukul 08.02 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Bukittinggi, Ahmad Rifandi, menyampaikan bahwa kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan mengarah ke tenggara.
“Erupsi terjadi pukul 08.02 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 3.391 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah tenggara,” ujar Ahmad Rifandi. Ia menjelaskan, aktivitas erupsi tersebut juga terekam di alat seismogram dengan amplitudo maksimum 21,4 mm dan berlangsung selama kurang lebih 29 detik.
Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Gunung Api Marapi, hingga saat ini status gunung api tersebut masih berada pada Level II atau Waspada. Oleh karena itu, masyarakat maupun wisatawan dan pendaki diminta untuk tidak memasuki serta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas, yakni Kawah Verbeek.
Selain potensi erupsi, warga yang bermukim di sekitar lembah, aliran, dan bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Marapi juga diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar, terutama saat musim hujan. “Potensi lahar bisa terjadi sewaktu-waktu saat hujan turun. Untuk itu masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai diminta selalu waspada,” katanya.
Di sisi lain, dampak abu vulkanik juga menjadi perhatian. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Marapi diimbau untuk menggunakan masker pelindung hidung dan mulut guna menghindari gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain itu, warga juga disarankan menggunakan pelindung mata dan kulit saat terjadi hujan abu.
Tak hanya itu, masyarakat diminta untuk mengamankan sumber air bersih dari paparan abu vulkanik serta rutin membersihkan atap rumah dari timbunan abu guna mencegah kerusakan atau risiko roboh akibat beban berlebih. Ahmad Rifandi juga mengingatkan seluruh pihak untuk tetap menjaga situasi tetap kondusif serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Masyarakat diharapkan tidak menyebarkan informasi yang belum tentu benar atau hoaks, serta selalu mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah,” tutupnya.

Longsor Padang Laweh Tanah Datar Tutup Sungai
Sebuah video yang memperlihatkan peristiwa tanah longsor menutup aliran sungai hingga membentuk kolam besar viral di media sosial, Minggu (12/4/2026). Dalam keterangan video, peristiwa tersebut terjadi di kawasan Jorong Padang Laweh, Nagari Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, pada Sabtu (11/4/2026). Kejadian longsor disebut bermula saat warga mendengar suara dentuman dari arah perbukitan pada Sabtu dini hari.
Setelah dilakukan pengecekan, dentuman tersebut ternyata berasal dari longsoran tanah yang menimbun aliran Sungai Batang Muaro Samuik. Akibatnya, aliran sungai tersumbat dan membentuk bendungan alami dengan genangan air yang cukup luas dan tinggi. Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah warga bersama aparat kepolisian turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Tampak tumpukan material longsor yang cukup tinggi serta genangan air yang menggenangi area di sekitarnya.
“Ini merupakan lokasi longsoran di Jorong Padang Laweh, Nagari Padang Laweh Malalo, tepatnya di aliran Batang Air Muaro Samuik. Longsorannya cukup besar, mungkin sekitar 15 meter, dan membentuk seperti telaga,” ujar seorang pria dalam video tersebut.
Wali Jorong Tanjung Sawah, Dasril Pandeka Rajo, membenarkan kejadian itu. Ia menyebutkan warga pertama kali mendengar dentuman sekitar pukul 00.30 WIB. “Betul, kami mendapat informasi adanya suara dentuman dari arah bukit sekitar pukul 00.30 WIB. Pagi harinya kami bersama anggota DPRD, BPBD, dan Satgas Nagari langsung melakukan pengecekan ke lokasi,” kata Dasril.
Ia menjelaskan, material longsor dari bukit jatuh dan menutup aliran Sungai Batang Muaro Samuik hingga membentuk bendungan air. Menurutnya, kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan karena sungai tersebut merupakan salah satu aliran yang terdampak bencana galodo sebelumnya. “Jaraknya sekitar dua kilometer dari lahan pertanian dan permukiman warga. Ini tentu berpotensi mengancam jika bendungan itu jebol,” ujarnya.
Dasril menambahkan, risiko akan semakin besar apabila terjadi hujan karena debit air dapat meningkat dengan cepat. “Untungnya saat ini tidak hujan. Kalau hujan, air akan cepat penuh dan berpotensi memicu galodo kembali,” katanya. Pihak nagari bersama pemerintah setempat telah melaporkan kejadian tersebut kepada Bupati dan instansi terkait agar segera dilakukan penanganan. Mereka berharap adanya pengerahan alat berat untuk membuka material longsor dan melancarkan kembali aliran sungai.
“Kalau hanya mengandalkan tenaga manual atau swadaya masyarakat tidak akan mampu, karena materialnya batu besar. Harus menggunakan alat berat,” tutupnya.







