Prediksi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan
Harga emas diproyeksikan tetap mengalami fluktuasi selama pekan depan, mulai dari Senin, 27 April hingga 2 Mei 2026. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti meningkatnya ketegangan geopolitik global, dinamika politik di Amerika Serikat, serta kebijakan bank sentral. Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai bahwa akhir April menjadi periode penting bagi pergerakan logam mulia dunia.
Pada perdagangan terakhir pekan lalu, yaitu Sabtu (25/4), harga emas dunia ditutup di level USD 4.708 per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri berada di kisaran Rp 2.845.000 per gram. Ibrahim memprediksi bahwa jika perdagangan awal pekan depan dibuka dalam kondisi support menurun, maka harga emas batangan akan berada sekitar Rp 2,8 juta per gram.
“Jika terjadi penurunan, support pertama ada di USD 4.651 per troy ounce, dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.800.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (26/4). Di sisi lain, jika tekanan terus berlanjut, support kedua diperkirakan berada di level USD 4.520 per troy ounce dengan harga emas domestik berpotensi turun ke Rp 2.790.000 per gram.
Namun apabila harga kembali menguat, Ibrahim memperkirakan emas dunia bisa menembus level USD 4.779 per troy ounce. Sedangkan harga logam mulia berpotensi naik ke Rp 2.865.000 per gram. “Untuk resisten berikutnya, emas diproyeksikan mengarah lebih tinggi dengan harga logam mulia domestik berpotensi menyentuh Rp 2.980.000 per gram,” jelasnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Emas
Ibrahim menjelaskan, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi volatilitas harga emas dunia. Pertama adalah faktor geopolitik, kedua dinamika politik Amerika Serikat, ketiga kebijakan bank sentral, dan keempat keseimbangan suplai serta permintaan.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah disebut masih menjadi perhatian utama pasar. Amerika Serikat dikabarkan mendorong pertemuan lanjutan dengan Iran di Pakistan, namun di sisi lain, muncul ancaman keras terkait konflik di kawasan Selat Hormuz. “Iran sebelumnya menolak pertemuan karena menilai Amerika melanggar gencatan senjata, termasuk penangkapan kapal tanker Iran. Ditambah Israel masih terus menyerang Lebanon Selatan. Ini membuat situasi akhir April cukup krusial, apakah menuju perang atau perdamaian,” bebernya.
Dinamika Politik di Amerika Serikat
Faktor berikutnya berasal dari politik domestik AS. Ibrahim menyoroti langkah Presiden Donald Trump yang melakukan pergantian sejumlah pejabat militer untuk memperkuat loyalitas kabinetnya. Menurut dia, langkah tersebut dibaca pasar sebagai sinyal bahwa Washington tengah menyiapkan strategi baru jika negosiasi dengan Iran gagal.
Selain itu, pasar juga menanti arah kebijakan bank sentral AS. Pergantian kepemimpinan Federal Reserve dinilai dapat memicu volatilitas baru, terutama bila kebijakan suku bunga berubah.
Permintaan Emas Fisik Masih Kuat
Di sisi lain, permintaan emas fisik juga masih kuat. Negara-negara anggota BRICS disebut kembali meningkatkan pembelian emas sebagai cadangan devisa. “Ketika harga turun, itu justru jadi momentum bank sentral negara-negara BRICS untuk menambah cadangan emas. Ini faktor fundamental yang menopang harga emas,” pungkas Ibrahim.






