Penanaman 36.000 Bibit Mangrove di Kampung Maibo, Kabupaten Sorong
Sebanyak 36.000 bibit mangrove ditanam di lahan seluas 20 hektare di Kampung Maibo, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Aksi penanaman ini dilakukan pada Jumat (1/5/2026) dan turut dihadiri oleh Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, bersama Ketua TP PKK Orpa Susana Kambu serta sejumlah pejabat lainnya. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan upaya nyata dalam menjaga ekosistem pesisir.
Elisa Kambu menyampaikan bahwa pelestarian lingkungan tidak hanya bisa dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan konkret. “Penanaman mangrove adalah salah satu cara untuk mengajak masyarakat menjaga dan memulihkan lingkungan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya peran kawasan pesisir seperti Kampung Maibo sebagai benteng alami menghadapi ancaman bencana, termasuk gelombang tinggi dan tsunami.
Masyarakat setempat menunjukkan antusiasme yang luar biasa dalam kegiatan ini. Elisa mengapresiasi komitmen masyarakat dalam menjaga lingkungan untuk generasi mendatang. Menurutnya, partisipasi aktif masyarakat sangat penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial Papua Barat Daya, Sarteis Sagrim, menjelaskan bahwa penanaman mangrove merupakan bagian dari aksi mitigasi perubahan iklim yang direncanakan selesai dalam waktu 1-2 bulan. “Melalui aksi ini, kita ingin menunjukkan kepada nasional maupun internasional bahwa Papua Barat Daya berkomitmen menjaga kawasan hutan dan meningkatkan fungsi ekologis,” ujarnya.
Menurut Sarteis, penanaman mangrove memiliki manfaat besar dalam menjaga stok karbon, melindungi ekosistem pesisir, serta mendukung upaya global menekan laju perubahan iklim. Aksi ini menjadi bukti komitmen Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
Manfaat Karbon bagi Iklim dan Lingkungan
Pengaturan suhu bumi melalui efek rumah kaca alami merupakan salah satu manfaat utama karbon. Karbon dioksida dan metana adalah gas rumah kaca yang berfungsi menyerap sebagian panas matahari dan memantulkannya kembali ke permukaan bumi. Tanpa peran karbon ini, suhu bumi akan menjadi terlalu dingin (sekitar -18 derajat Celcius) untuk mendukung kehidupan flora dan fauna.
Selain itu, penyimpanan karbon melalui daur karbon juga sangat penting. Proses ini memungkinkan penyimpanan karbon dalam jumlah besar di berbagai “penampung” alami yang membantu memitigasi perubahan iklim:
- Hutan dan tanaman: Pohon menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam biomassa serta tanah.
- Karbon biru (blue carbon): Ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun memiliki kemampuan menyimpan karbon hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan.
- Tanah: Tanah yang kaya karbon meningkatkan retensi air, mengurangi erosi, dan menjaga kesehatan ekosistem pertanian.
Keseimbangan ekosistem juga sangat bergantung pada siklus karbon. Siklus ini memastikan perpindahan unsur karbon secara terus-menerus antara atmosfer, daratan, dan lautan. Keseimbangan ini penting untuk:
- Stabilitas iklim global: Menjaga agar akumulasi gas di atmosfer tetap pada level yang aman bagi lingkungan.
- Nutrisi makhluk hidup: Menjadi bahan dasar pembentuk sel tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan.
Dalam konteks modern, pengelolaan karbon memberikan manfaat melalui mekanisme seperti:
- Carbon offsetting: Skema investasi pada proyek lingkungan (seperti penanaman pohon) untuk menyeimbangkan jejak karbon perusahaan atau individu.
- Kalkulator karbon: Alat seperti Karbon Kalkulator Imbangi membantu masyarakat menghitung dan menebus emisi harian mereka.






