Kehidupan Peternak di Pekanbaru Menjelang Iduladha
Di tengah suasana yang mulai memanas, kota Pekanbaru tampak sibuk dengan persiapan menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Di berbagai kandang ternak, para peternak mulai menerima kunjungan dari masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah kurban. Salah satu lokasi yang ramai adalah Peternakan Aisyah di Jalan Pahlawan Nomor 17, Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tuah Madani.
Pada sore hari, saat langit mulai gelap, suara embikan kambing dan domba masih terdengar dari balik pagar kandang. Boya, pemilik peternakan tersebut, baru saja menyelesaikan rutinitas memberi makan ternaknya. Ia kemudian duduk beristirahat di sudut kandang sederhana miliknya.
Boya telah menjalani usaha peternakan selama 11 tahun. Dari usaha ini, ia menggantungkan hidup sekaligus menaruh harapan setiap kali musim Iduladha tiba. Saat ini, ia memiliki sekitar 100 ekor kambing dan domba. Sebagian dari mereka adalah kambing perah yang menghasilkan susu kambing murni, sedangkan sisanya disiapkan untuk kebutuhan hewan kurban.
Menjelang Iduladha, kandangnya mulai ramai dikunjungi pembeli. Namun, Boya mengaku bahwa penjualan tahun ini masih berjalan normal dan belum mengalami lonjakan signifikan. “Kalau dibanding tahun kemarin hampir sama. Biasanya dua pekan menjelang Iduladha baru mulai ramai yang pesan,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa stok kambing kurban miliknya sudah habis dipesan pelanggan. Saat ini, hanya tersisa domba dengan berbagai ukuran. Harga kambing maupun domba yang dijual bervariasi, mulai dari Rp1,8 juta hingga Rp8 juta per ekor. Harga ditentukan berdasarkan ukuran dan berat hewan. “Kalau yang Rp8 juta berat hidupnya sekitar 90 kilogram. Kalau yang Rp1,8 juta beratnya sekitar 15 sampai 18 kilogram,” jelas Boya.
Mayoritas pembeli berasal dari Pekanbaru dan Kabupaten Kampar. Menurutnya, pelanggan dari wilayah sekitar lebih mudah dilayani terutama dalam proses pengiriman ternak. “Kalau terlalu jauh kami susah mengantarnya,” katanya sambil tersenyum.
Di balik aktivitas jual beli hewan kurban, Boya mengaku sering tersentuh melihat semangat masyarakat yang datang untuk beribadah. Menurutnya, banyak pelanggan yang sudah mempersiapkan dana khusus demi membeli hewan kurban. “Rata-rata yang membeli hewan kurban itu sudah menyiapkan amplopnya sendiri untuk membeli hewan kurban. Kadang saya terharu melihat mereka,” ucapnya.
Bagi Boya, musim kurban bukan sekadar tentang keuntungan usaha. Ia melihat langsung nilai keikhlasan dan semangat berbagi dari masyarakat yang datang ke kandangnya setiap tahun. Meski demikian, menjadi peternak juga bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar yang kini mulai dirasakannya adalah semakin sulit mencari rumput untuk pakan ternak.
Pesatnya perkembangan kota membuat lahan hijau semakin berkurang. Kondisi itu membuatnya mulai memikirkan alternatif pakan demi menjaga keberlangsungan usaha di masa mendatang. “Sekarang cari rumput makin susah karena kota makin besar. Jadi harus mulai dipikirkan pakan alternatif ke depannya,” ujarnya.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Boya tetap bertahan dan terus merawat ternaknya satu per satu. Dari kandang sederhana itu, ia berharap musim kurban tahun ini membawa keberkahan, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi masyarakat yang datang membeli hewan kurban untuk berbagi dengan sesama.





