Profil dan Perjalanan Karier Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Perry Warjiyo kini menjadi sorotan publik setelah dihadapkan pada tantangan terberat dalam karier kebankannya. Di satu sisi, ia dikenal sebagai seorang bankir sentral yang memiliki reputasi internasional, dengan berbagai penghargaan bergengsi seperti Governor of the Year se-Asia Pasifik. Namun, di sisi lain, Perry kini harus menghadapi desakan untuk mundur dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) akibat melemahnya nilai tukar Rupiah hingga menembus angka Rp17.600 per Dolar AS.
Dalam sebuah rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN), memberikan kritik tajam terhadap Perry. Ia menilai bahwa lemahnya nilai tukar Rupiah mencerminkan ketidakmampuan BI dalam menjaga stabilitas ekonomi. Menurut Primus, situasi ini telah memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap Bank Indonesia.
Perry Warjiyo merespons kritik tersebut dengan menegaskan bahwa kondisi saat ini adalah bagian dari stabilitas nilai tukar, bukan semata-mata posisi kurs. Ia menyatakan bahwa rupiah masih stabil jika dilihat dari volatilitas yang tercatat dalam kisaran 5,4 persen dalam periode 20 hari terakhir. Ia juga yakin bahwa pola musiman ini akan terus berlangsung, sehingga rupiah berpeluang menguat pada periode yang diproyeksikan.
Rekam Jejak dan Perjalanan Karier
Lahir di Sukoharjo pada tahun 1959, Perry Warjiyo adalah anak keenam dari sembilan bersaudara. Ia memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang ekonomi. Setelah menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1982, Perry melanjutkan studinya di Iowa State University, Amerika Serikat, dan berhasil meraih gelar Master pada tahun 1989 serta gelar Doktor dalam bidang ekonomi pada tahun 1991.
Sebelum menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Perry telah meniti karier dari bawah di BI. Pengalamannya mencakup berbagai posisi strategis, termasuk di bidang riset ekonomi dan kebijakan moneter. Pada tahun 2007–2009, ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF), mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group.
Perry juga pernah menjabat sebagai Asisten Gubernur untuk kebijakan moneter, makroprudensial dan internasional, serta Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia antara tahun 2009–2013. Selama periode 2013–2018, ia menjabat sebagai Deputi Gubernur BI.
Perry resmi ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk kedua kalinya berdasarkan Keputusan Presiden RI No.38/P Tahun 2023 tanggal 5 Mei 2023, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 24 Mei 2023. Ia kemudian kembali ditetapkan menjadi Gubernur BI untuk periode 2023–2028.
Prestasi dan Penghargaan
Prestasi Perry Warjiyo telah diakui oleh berbagai institusi nasional dan internasional. Beberapa penghargaan yang diraihnya antara lain Pemimpin Terpopuler Di Media Pemberitaan Online 2023 dari Indonesia Government Awards 2023, Anugerah Hamengku Buwono IX dari UGM tahun 2022, serta Governor of the Year se-Asia Pasifik dari media Global Markets tahun 2019.
Di bawah kepemimpinan Perry, Bank Indonesia memperoleh berbagai penghargaan, seperti The Best Central Bank of the Year dari Global Islamic Finance Awards (GIFA) tahun 2022 dan 2018, serta Best Asset Owner in Southeast Asia dalam Institutional Excellence Award dari Asian Investor tahun 2022.
Kecintaan pada Ilmu Pengetahuan
Perry Warjiyo dikenal sebagai sosok yang sangat gemar menulis. Ia pernah menerbitkan sejumlah buku, jurnal, dan makalah di bidang ekonomi, moneter, dan isu-isu internasional. Beberapa bukunya yang fenomenal antara lain Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (2020), Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik (2016), dan Kebijakan Moneter di Indonesia (2003).
Harta Kekayaan
Saat masih menjabat sebagai Deputi Gubernur BI, hartanya mencapai Rp7 miliar. Namun, setelah menjadi Gubernur BI, harta Perry meningkat drastis menjadi Rp72 miliar per 2024. Berikut rincian harta kekayaannya:
I. DATA HARTA
- TANAH DAN BANGUNAN: Rp52.326.069.532
- Tanah dan Bangunan Seluas 253 m2/257 m2 di Jakarta Selatan: Rp7.200.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 250 m2/110 m2 di Tangerang Selatan: Rp1.450.000.000
- Tanah Seluas 1.000 m2 di Sukoharjo: Rp130.000.000
- Tanah Seluas 799 m2 di Sleman: Rp1.200.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 436 m2/260 m2 di Sleman: Rp900.000.000
- Bangunan Seluas 54 m2 di Jakarta Pusat: Rp1.100.000.000
- Bangunan Seluas 76 m2 di Jakarta Pusat: Rp1.300.000.000
- Bangunan Seluas 35 m2 di Jakarta Selatan: Rp1.100.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 700 m2/540 m2 di Jakarta Selatan: Rp24.000.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 96 m2/96 m2 di Jakarta Selatan: Rp4.500.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 55 m2/55 m2 di Jakarta Selatan: Rp2.750.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 55 m2/55 m2 di Jakarta Pusat: Rp3.874.189.532
- Tanah Seluas 60 m2 di Karawang: Rp821.880.000
- Tanah Seluas 255 m2 di Karawang: Rp2.000.000.000
- ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN: Rp2.438.125.000
- Mobil Mercedes Benz S450 Tahun 2023: Rp2.438.125.000
- HARTA BERGERAK LAINNYA: Rp1.032.000.000
- SURAT BERHARGA: Rp10.792.491.700
- KAS DAN SETARA KAS: Rp4.185.053.263
- HARTA LAINNYA: Rp1.919.631.944
Sub Total: Rp72.693.371.439
II. HUTANG
- Rp0
III. TOTAL HARTA KEKAYAAN (I-III)
- Rp72.693.371.439
Desakan untuk Mundur
Desakan agar Perry Warjiyo mundur dari jabatannya datang dari Primus Yustisio, anggota Komisi XI DPR RI. Ia menilai bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah mencerminkan ketidakmampuan BI dalam menjaga stabilitas ekonomi. Primus menegaskan bahwa kondisi saat ini harus disikapi secara realistis, mengingat Bank Indonesia dinilai mulai kehilangan kepercayaan publik.
Lebih lanjut, Primus menyarankan agar Perry mengundurkan diri dari jabatannya, mencontoh budaya pertanggungjawaban pejabat di negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Ia bahkan menyelipkan kutipan dalil agama sebagai pengingat keras bagi sang Gubernur BI.



