JAKARTA – Pasar mobil listrik Indonesia memasuki fase paling menentukan pada tahun ini. Setelah mencatat lonjakan penjualan hampir 140% pada tahun lalu, kendaraan listrik kini menghadapi ujian baru: apakah konsumen tetap membeli ketika sejumlah insentif pemerintah mulai berkurang atau berakhir. Pertanyaan ini menjadi penting karena pertumbuhan mobil listrik terjadi ketika pasar otomotif nasional secara umum masih berada di bawah tekanan. Dengan kata lain, mobil listrik justru tumbuh kuat di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut membuat pasar kendaraan listrik terlihat menjanjikan, tetapi sekaligus menyimpan pertanyaan besar mengenai daya tahannya.
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, insentif pemerintah menjadi salah satu pendorong utama lonjakan penjualan kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Kukuh, segmen kendaraan listrik mulai marak setelah 2019 dan tumbuh pesat ketika kelas menengah mengalami tekanan daya beli, sejalan dengan besarnya insentif yang diberikan pemerintah.
“Tahun ini menjadi ajang pembuktian apakah penjualan mobil listrik akan terus berkelanjutan setelah pengurangan insentif pemerintah,” ujarnya dalam serial podcast PIER to Peers Permata Bank yang dipandu Chief Economist Permata Bank Josua Pardede.
Dalam obrolan tersebut, Josua Pardede menguraikan bahwa sektor otomotif nasional pada 2025 masih menghadapi tekanan cukup besar. Penjualan mobil yang biasanya mampu mencapai sekitar 1 juta unit per tahun terkontraksi 7% menjadi 803.000 unit. Segmen mobil penumpang turun lebih dalam sebesar 8,9%, sementara kendaraan niaga melemah 1%.
Menurut Josua, pelemahan daya beli membuat konsumen lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian. Sebagian masyarakat memilih menunda pembelian mobil baru, sementara sebagian lainnya beralih ke pilihan yang lebih terjangkau. Indikasinya terlihat dari penjualan mobil baru yang melemah, sedangkan pasar mobil bekas justru meningkat.
Meski pasar otomotif secara umum tertekan, penjualan mobil dalam beberapa bulan terakhir mulai menunjukkan tanda pemulihan. Salah satu penopang utamanya adalah kinerja mobil listrik yang secara keseluruhan melonjak mendekati 140% pada tahun lalu. Lonjakan tersebut ikut mengerek proporsi kendaraan ramah lingkungan dalam total penjualan otomotif menjadi sekitar 13%. Pangsa pasar mobil listrik terhadap total penjualan mobil terus meningkat dari waktu ke waktu, dengan pertumbuhan paling tajam pada kendaraan berharga Rp400 juta hingga Rp500 juta.
“Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pembelinya adalah masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Artinya daya belinya sebenarnya cukup resilien. Lalu di sisi lainnya, di tahun lalu cukup banyak mobil listrik hadir dengan harga yang terjangkau,” beber Josua.
Dia melanjutkan, masuknya kendaraan listrik yang dijual di kisaran Rp200 juta hingga Rp300 juta memberikan tawaran menarik bagi konsumen sekaligus menjadi tantangan bagi kendaraan konvensional. Dalam situasi daya beli yang belum sepenuhnya kuat, harga menjadi faktor yang sangat menentukan. Konsumen tidak hanya membandingkan teknologi, tetapi juga menghitung harga awal, biaya penggunaan, kemudahan pengisian daya, serta nilai jual kembali.
Di sinilah insentif pemerintah memainkan peran penting. Pada tahun lalu, dukungan insentif membuat harga kendaraan listrik terlihat lebih kompetitif dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional. Namun, konfigurasi pasar tahun ini berpotensi berubah karena sejumlah insentif kendaraan listrik telah dikurangi atau dihentikan.
SENSITIVITAS HARGA MENJADI KUNCI
Kukuh menilai tantangan utama pasar kendaraan listrik tahun ini berada pada dua sisi sekaligus, yaitu kesiapan konsumen menerima harga baru dan kemampuan produsen menjaga harga tetap kompetitif setelah insentif berkurang.
“Ada dua sisi, konsumen masih mau beli atau kemudian produsen mau mempertahankan harga yang sudah pernah diberlakukan di tahun lalu,” ucapnya.
Menurutnya, perubahan harga dapat membuat konsumen menahan pembelian. Pengalaman pada masa pandemi menunjukkan bahwa pasar otomotif Indonesia sangat sensitif terhadap tekanan harga dan pendapatan. Ketika kondisi ekonomi melemah, penjualan mobil sempat turun tajam hingga hanya sekitar 530.000 unit per tahun.
Kondisi seperti itu berisiko menimbulkan dampak berantai. Penurunan penjualan tidak hanya menekan produsen kendaraan, tetapi juga pemasok komponen, jaringan penjualan, lembaga pembiayaan, hingga tenaga kerja di sektor manufaktur. Karena itu, kebijakan insentif sebelumnya tidak hanya ditujukan untuk mendorong konsumsi, tetapi juga untuk menjaga rantai industri otomotif tetap bergerak.
Di sisi konsumen, penggunaan mobil listrik juga belum sepenuhnya mengakar sebagai pilihan utama. Banyak pemilik mobil listrik masih memiliki kendaraan konvensional lain untuk perjalanan jarak jauh, termasuk saat mudik atau bepergian ke luar kota. Di Jakarta, sebagian konsumen juga memanfaatkan mobil listrik untuk memperoleh keuntungan mobilitas tertentu, seperti bebas dari pembatasan ganjil-genap.
Tantangan lain adalah infrastruktur dan kepraktisan penggunaan. Waktu pengisian daya masih dianggap belum sepraktis pengisian bahan bakar konvensional. Di luar kota besar, ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik juga belum merata. Hal ini membuat sebagian konsumen masih ragu untuk menjadikan mobil listrik sebagai kendaraan utama.
ALTERNATIF HYBRID
Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, Kukuh berpendapat kendaraan hybrid lebih cocok menjadi alternatif kendaraan ramah lingkungan pada masa transisi. Infrastruktur pendukung kendaraan listrik belum merata di luar Jawa, sementara kebutuhan mobilitas masyarakat sangat beragam.
Hybrid menawarkan efisiensi bahan bakar dan pengurangan emisi tanpa membuat pengguna sepenuhnya bergantung pada stasiun pengisian daya. Bagi konsumen yang sering melakukan perjalanan jarak jauh, teknologi ini memberi rasa aman karena masih dapat menggunakan bahan bakar konvensional ketika infrastruktur listrik belum tersedia.
Kukuh menjelaskan, sejumlah penelitian perguruan tinggi telah menunjukkan kontribusi positif kendaraan hybrid terhadap pengurangan emisi dan efisiensi bahan bakar. Penjualan kendaraan hybrid juga relatif stabil karena pengguna tidak perlu terlalu khawatir terhadap jarak tempuh dan ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum.
Belakangan, muncul pula teknologi plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV, yaitu kendaraan yang mengombinasikan bahan bakar dan pengisian listrik secara lebih optimal. Teknologi ini dinilai dapat menjawab kebutuhan konsumen yang menginginkan efisiensi, tetapi tetap membutuhkan fleksibilitas untuk perjalanan jarak jauh.
Pada kesempatan tersebut, Kukuh juga belum yakin bahwa perbaikan angka penjualan kendaraan bermotor pada kuartal-kuartal akhir 2025 sudah menjadi tanda pemulihan daya beli masyarakat secara menyeluruh. Berdasarkan data historis Gaikindo, pemulihan kuat penjualan kendaraan baru biasanya terjadi ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus di atas 6%.
Bila pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 5%, sektor otomotif cenderung stagnan karena kondisi ini sudah berlangsung sejak 2013, dengan angka penjualan hanya berkisar 1 juta unit. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, total penjualan mobil berada di bawah 1 juta unit.
“Kita tentunya berharap gerakannya ke arah positif ya, namun kita tidak bisa sendirian dan perlu dicatat ya, kalau kita memang mau mempertahankan, kalau kita sedang melangkah menuju negara yang lebih maju yang basisnya tentunya adalah manufaktur,” pungkasnya.
Dengan demikian, masa depan mobil listrik di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besar-kecilnya insentif. Tiga faktor lain akan sangat menentukan, yaitu harga yang tetap terjangkau, kesiapan infrastruktur, dan kepercayaan konsumen terhadap kepraktisan kendaraan listrik sebagai alat mobilitas utama. Jika ketiganya dapat diperkuat, pasar mobil listrik masih berpeluang tumbuh meskipun insentif berkurang. Namun, jika harga naik terlalu cepat sementara infrastruktur belum mengejar kebutuhan pasar, pertumbuhan kendaraan listrik berisiko melambat setelah euforia awal mereda. Tahun ini menjadi titik uji apakah mobil listrik benar-benar sudah menjadi pilihan rasional konsumen, atau masih sangat bergantung pada dukungan harga dari pemerintah.






