seni  

Catatan Kurator: Menelusuri Tanya di Tengah Ketidaktahuan Edi

Pameran Tunggal “Konfigurasi Senirupa” Edi Bonetski

Pameran tunggal “Konfigurasi Senirupa” karya Edi Bonetski menawarkan ruang percobaan visual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam rangkaian proyek #bonetskicode, pameran ini tidak hadir sebagai ruang estetik yang steril dan jauh dari pengalaman nyata. Sebaliknya, ia mendarat di tengah ruang komunal: Kedai Kopi Menbar, Kota Tangerang, pada Jumat-Minggu, 22–24 Mei 2026.

Memasuki karya-karya Edi Bonetski seperti memasuki labirin. Ruang visual yang berliku, meliuk-liuk, dan bahkan tak memiliki ujung menghadirkan tantangan bagi pengunjung untuk mencari makna. Tidak ada bentuk yang utuh; fragmen figur, potongan simbol, garis-garis liar, serta warna-warna yang saling mendesak hadir bersamaan, seperti serpihan pikiran yang sedang mencari tubuhnya sendiri.

Tatapan pengunjung terus digiring berhijrah. Di satu sisi, kita merasa menemukan jejak makna, tetapi di sisi lain, makna itu kembali dipecah dan dibiarkan tercerai-berai. Edi sengaja menolak memberikan jawaban tunggal. Ia membiarkan karya-karyanya hidup sebagai ruang tafsir yang cair dan kadang membingungkan.

Denyut karya-karya Edi Bonetski bekerja di situlah. Ada semacam ijtihad bahwa kehidupan modern dipenuhi tanda-tanda yang saling bertabrakan: informasi, identitas, ingatan, kegelisahan, dan suara-suara yang datang bertumpuk tanpa pernah benar-benar selesai dipahami. Edi tidak berusaha merapikan kekacauan itu. Ia justru membiarkannya tumbuh sebagai bahasa visual yang mentah, spontan, dan jujur.

Penggunaan Media Anyaman Bambu

Pilihan media anyaman bilik bambu menjadi bagian penting dari pembacaan tersebut. Permukaan yang tidak rata, celah antarbilah, serat-serat kasar, serta urat alami bambu tidak diperlakukan sebagai hambatan visual. Edi justru membiarkan karakter material itu tetap berbicara.

Cat dan tinta menyusup ke pori-pori bambu, mengikuti arah serat alamiahnya. Garis-garis hitam yang muncul di atas permukaan anyaman terasa bukan sekadar hasil menggambar, melainkan hasil dialog intuitif antara tubuh seniman dan tubuh material. Dari situ lahir kesan bahwa karya-karya ini tidak hanya dikerjakan di atas media, tetapi tumbuh bersama medianya.

Pendekatan Seni yang Komunal

Melalui #bonetskicode, pria berbintang Libra ini secara konsisten berusaha meruntuhkan batas antara seni dan ruang hidup sehari-hari. Pilihannya menghadirkan karya di kedai kopi, ruang jalanan, hingga ruang terbuka memperlihatkan kecenderungan praktik seni yang lebih komunal dan membumi. Seni tidak lagi ditempatkan sebagai barang eksklusif yang hanya hidup di ruang galeri, tetapi sebagai pengalaman bersama yang dapat ditemui di tengah lalu lalang warga.

Secara visual, karya-karya Edi terasa memiliki kedekatan dengan semangat Neo-Ekspresionisme dan Art Brut: liar, mentah, distortif, serta menolak kepatuhan terhadap estetika yang terlalu rapi. Garis-garis agresif, tabrakan warna, simbol yang bertumpuk, serta pecahan figur yang tidak selesai membentuk semacam labirin tanya visual yang terus bergerak dan sulit dijinakkan.

Keberanian dalam Membuka Ruang Tafsir

Namun kekuatan karya Edi bukan semata terletak pada keberanian visualnya. Yang terasa paling hidup justru keberaniannya membiarkan tafsir tetap terbuka. Ia tidak tergesa menjelaskan makna kepada pengunjung dan apresiator. Karya-karyanya seperti sengaja dibiarkan menjadi ruang percakapan yang tidak pernah final.

Barangkali di titik itulah kenakalan Edi Bonetski bekerja paling kuat. Ia terus menembakkan tanya-tanya visual, sementara apresiator sibuk merakit jawabannya sendiri. Ketika satu tafsir mulai terasa mapan, ia kembali mengacaknya melalui simbol lain, garis lain, atau (juga) media lain yang muncul tiba-tiba: dari kanvas hingga bilik bambu, dari tas hingga gitar, dari kartu pos hingga peti mati.

Penutup

Akhir kalam, jelaslah bahwa Edi Bonetski tidak pernah tertarik mendedah jalan kesimpulan. Ia malas menjawab segudang tanya visualnya sendiri. Ia justru membiarkan kita tersesat lebih lama di dalam labirin yang ia bangun tanpa ampun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *