Tari dari Tanah Tanpa Raja, Hanya Selendang

Sejarah dan Filosofi Tari Slendang Pemalang

Saya pernah bertanya pada seorang penari di Pemalang. Kenapa ujung selendangnya diikat? Ia bilang itu rahasia. Simpul itu tidak boleh dibuka. Kalau dibuka, rahasianya bocor. Saya pikir itu cuma properti tari. Ternyata bukan. Itu filosofi. Filosofinya begini. Dulu ada perang rebutkan keris Kyai Mongklang. Pangeran Benawa lawan Arya Pangiri. Perangnya gagal. Bukan karena senjata tumpul. Tapi karena Nyai Widuri. Dia pintar jaga rahasia dari kedua pihak. Keris itu jadi lambang Pemalang sampai sekarang.

Koestoro tahu cerita itu. Dia seniman senior Pemalang. Lahir 1 September 1946. Sejak usia 10 tahun sudah main tari. Pegawai Dinas Pendidikan pula. Akses ke arsip, manuskrip, semua ada. Tahun 1985, Koestoro ikut penataran seniman se-Jawa Tengah di Mangkunegaran, Solo. Pulang dapat tugas. Buat tari rakyat atau tari pergaulan. Jadi identitas kota masing-masing. Tapi Koestoro bingung. Pemalang tidak punya gerak tari yang murni asli. Sejak zaman Majapahit, Pemalang itu tanah perdikan. Bebas pajak. Tahun 1575 jadi salah satu dari 14 daerah merdeka di Jawa. Siapa saja boleh masuk. Orang Solo bawa gamelan. Orang Yogya bawa tarian. Orang Banyumas bawa egot. Orang Sunda bawa irama. Semua menetap. Semua berakar.

Maka Koestoro melakukan sesuatu yang jujur. Ia tidak memaksakan gerak yang tidak ada. Ia gabungkan apa yang sudah hidup di Pemalang ratusan tahun. Dari Surakarta diambil ngigel sampur dan lembehan step maju. Dari Yogya ada lembehan tataban. Dari Banyumas ada egot banyumasan dan tataban ngracik. Dari Sunda ada egot sunda dan lembehan sunda.

Tari Slendang Pemalang tidak punya gerak khas asli Pemalang. Dan justru itu yang membuatnya khas. Ia cerminan dari apa yang Pemalang memang: percampuran. Ada 13 ragam gerak. Srisig Putar Sampur, Tanjak, Ngigel Sampur, Lembehan Step, Nglongok, Egot Sunda, Lembehan Tataban, Kipat Balangan Sampur Kanan dan Kiri, Egot Banyumasan, Balangan Jala, Slulup, Seblak Mencolot, Tataban Ngracik, Encot Kalung Sampur, Srisig Mencolot, Lembehan Sunda. Semua lincah. Kaki, badan, tangan, kepala. Slendangnya tidak pernah diam. Selalu digerakkan dari awal sampai akhir.

Musiknya gamelan Jawa laras slendro. Gendhing lancaran. Instrumennya lengkap. Bonang barung, bonang penerus, slentem, demung, saron barung dua buah, saron penerus, ketuk, kenong, kempul, gong, gambang, kendang. Tembangnya bahasa Jawa. Syairnya sederhana. Setelah lelah kerja seharian, rakyat berkumpul saat terang bulan. Menari pakai slendang. Senang-senang bersama teman.

Baju penarinya tidak mewah. Koestoro sengaja pilih kesahajaan. Jarik motif Pemalangan, diwiron putri selebar 3 cm. Kalau pentas kelompok, jarik diganti celana hitam. Biar gerak gampang. Kain wiron dari saten polos, diwiru selebar 2 jari. Dipakai di luar jarik sepanjang lutut. Kanan kiri diikat ke belakang. Ada stagen, slepe, kebaya. Perhiasannya standar. Kalung, giwang, gelang, tusuk konde. Riasannya korektif. Biar terlihat lincah dan ceria seperti gadis remaja. Rambutnya pakai sanggul. Umumnya sanggul Tekuk Solo dengan sunggar. Hiasannya bunga melati melengkung. Lima lengkungan. Lambang Pancasila.

Tari ini lahir di Sanggar Seni Kaloka. Didirikan Koestoro 4 Oktober 1972. Pusatnya di Taman Patih Sampun, Kelurahan Pelutan. Juga di Jalan Jati II No 33 dan Jalan Martadinata. Kaloka bukan cuma tempat latihan. Ia motor pelestarian. Ada pelatihan tari, cucuk lampah, karawitan, sinden, pedalangan. Pentas keliling. Workshop. Dokumentasi di medsos. Tapi pengakuan resmi baru datang 27 tahun kemudian. 17 September 2012. Bupati H. Junaedi tanda tangan SK No. 003.1/403/YEAR 2012. Tari Slendang Pemalang resmi jadi tari khas kabupaten. Penyerahannya di acara klenengan malam Selasa Kliwon. Ada halal bi halal juga. Hadir Asisten Setda Novana SH, Kepala Dinsosnakertrans Maryoto MPd, jajaran Disbudpar, dan Ketua Dewan Kesenian Andi Rustono.

Koestoro bangga. Dia bilang akan gandeng Dinas Pendidikan. Sosialisasikan ke SD, SLTP, SLTA. Bahkan mau dilombakan. Sekarang tari ini sudah masuk kurikulum. Materi seni budaya kelas X. Ekstrakurikuler sekolah. Materi wajib lomba tari tingkat kabupaten yang rebut piala bergilir Ibu Bupati. Tampil di mana saja. Resepsi pernikahan. Ulang tahun kabupaten. Sambutan tamu VIP. Briefing Kelas Inspirasi, pernah ditampilkan siswa SMA Negeri 2 Pemalang Oktober 2018. Dan rutin di program Seni Karawitan Selasa Kliwon di Pendopo. Bisa disajikan tunggal, berpasangan, atau kelompok. Biasanya 10-15 penari perempuan. Di area terbuka atau tertutup, terserah acara.

Tantangannya ada. Anak muda, apalagi anak laki-laki, malas belajar tari. Katanya tari itu buat perempuan. Kurang inovasi. Kurang dukungan orang tua. Budaya populer asing menggerus minat. Tapi pendukungnya juga nyata. Anggaran dari pemkab ada. Fasilitas pendopo dan alat musik ada. Antusiasme masyarakat tinggi. Sanggar Kaloka juga adaptasi. Mereka kembangkan tari modern atau dance. Tanpa ninggalin tradisi. Kaloka Award 2026 digelar 7 Februari 2026 di Gedung PGRI. Kepala Disparbud Joko Susanto hadir. Dia dukung penuh. Katanya Kaloka konsisten menampilkan seni budaya tradisi Pemalang.

Di sistem SINAYA Kemendikbud, tari ini tercatat tahun 2016. Kategori seni tari. Kondisi sedang berkembang. Status pencatatan. Lokasinya di Pelutan. Pelakunya Kustoro. Juga diakui Warisan Budaya Takbenda sejak 2013. Selendang yang ujungnya diikat. Rahasia yang tidak boleh bocor. Tari yang gerakannya bukan murni Pemalang, tapi justru jadi identitas Pemalang. Mungkin itu yang membuat tarian ini bertahan. Bukan karena sempurna. Tapi karena jujur soal siapa orang-orang di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *