.CO.ID – JAKARTA.
Harga Bitcoin (BTC) telah mengalami penurunan sebesar 16% secara year to date (ytd). Berdasarkan data dari Coin Market Cap pada Jumat (29/5/2026) pukul 17.49 WIB, harga Bitcoin turun sebesar 4,80% dalam seminggu terakhir, dengan nilai saat ini berada di kisaran US$ 73.528. Dari sisi year to date, harga Bitcoin telah menurun sekitar 16% sejak awal tahun.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menjelaskan bahwa penurunan harga Bitcoin dalam lima bulan pertama 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi geopolitik, situasi makroekonomi global, serta aliran dana investasi yang beralih ke sektor lain yang dinilai lebih menarik oleh investor.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Harga Bitcoin
Salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar adalah konflik antara Iran dan Israel yang kembali memanas sejak awal tahun. Meskipun ada upaya gencatan senjata, risiko eskalasi konflik tetap menjadi ancaman yang membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.
Selain itu, kenaikan harga energi, terutama minyak, juga memberikan dampak signifikan. Kenaikan harga minyak menyebabkan inflasi global meningkat karena biaya transportasi dan produksi menjadi lebih mahal. Hal ini memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko stagflasi, yaitu situasi di mana ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi.
Kondisi ini membuat daya beli masyarakat melemah, sehingga investor dan masyarakat umumnya lebih hati-hati dalam mengalokasikan dana mereka. Akibatnya, minat terhadap aset kripto ikut mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya.
Perpindahan Aliran Dana Investasi
Selain faktor geopolitik dan inflasi, saat ini juga terjadi pergeseran aliran dana global ke sektor yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan lebih kuat. Salah satunya adalah sektor artificial intelligence (AI). Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang AI, cloud computing, data center, dan semikonduktor terus menarik investasi besar-besaran. Banyak investor melihat sektor ini sebagai tema pertumbuhan utama dalam siklus ekonomi saat ini.
Prospek Bitcoin di Masa Depan
Meski dalam jangka pendek kondisi Bitcoin masih menantang, Fyqieh melihat potensi Bitcoin cukup menarik dalam jangka panjang. Salah satu alasan utamanya adalah karakteristik Bitcoin yang memiliki jumlah suplai terbatas atau scarcity. Berbeda dengan mata uang fiat yang bisa terus bertambah melalui kebijakan moneter, Bitcoin dibatasi hanya sampai 21 juta koin. Faktor kelangkaan ini menjadi dasar bagi banyak investor yang masih melihat Bitcoin memiliki nilai jangka panjang.
Namun, dalam jangka pendek, tekanan terhadap Bitcoin masih relatif besar. Ada akumulasi kepemilikan di area sekitar US$72.500 hingga US$76.000. Ketika harga bergerak di bawah area tersebut, sebagian pemegang Bitcoin mengalami unrealized loss atau underwater. Kondisi ini perlu diperhatikan karena semakin banyak investor dalam posisi rugi, semakin besar pula potensi munculnya tekanan jual jangka pendek.
Tingkat Harga yang Perlu Diperhatikan
Fyqieh menilai bahwa area sekitar US$70.000 masih menjadi level yang perlu dicermati oleh pelaku pasar. Selama tekanan makroekonomi dan geopolitik belum mereda, volatilitas Bitcoin kemungkinan akan tetap tinggi.
Dalam jangka menengah, jika kondisi global mulai stabil dan arus dana kembali masuk ke aset berisiko, Fyqieh melihat potensi Bitcoin untuk kembali bergerak ke area US$80.000. Namun, pergerakan tersebut sangat bergantung pada perkembangan inflasi, kebijakan suku bunga, kondisi geopolitik, serta aliran dana institusional ke pasar kripto.
Regulasi yang Menjadi Harapan
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian mengatakan, dorongan terhadap Clarity Act di Senat Amerika Serikat dipandang sebagai perkembangan positif bagi industri aset kripto global. Regulasi ini memberikan sinyal semakin kuatnya arah regulasi yang jelas dan terstruktur.
Tantangan terbesar industri kripto di AS selama ini adalah ketidakpastian terkait klasifikasi aset digital dan pembagian kewenangan antara SEC dan CFTC. Jika disahkan, regulasi ini berpotensi memberikan legal clarity terhadap perdagangan aset digital, penerbitan token, hingga pengawasan terhadap protokol DeFi.
Keputusan ini penting untuk meningkatkan kepercayaan investor institusi dan pelaku industri. Dari perspektif global, kebijakan AS sering menjadi acuan bagi banyak negara lain. Oleh karena itu, perkembangan ini dinilai dapat memperkuat legitimasi industri kripto sekaligus membuka peluang pertumbuhan sektor seperti tokenized assets, stablecoin infrastructure, dan institutional DeFi.
Meski begitu, pasar masih akan mencermati implementasi teknisnya, terutama terkait stablecoin, perpajakan, dan standar pengawasan DeFi ke depan.






