BKKBN Jatim Serukan Pentingnya Peran Ayah dalam Keluarga

SURABAYA – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur menggaungkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) bertema “Ayah Wajib Hadir” dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 bersama warga Kampung Nelayan di kawasan Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Surabaya, Minggu (28/6/2026).

Melalui kegiatan tersebut, Kemendukbangga/BKKBN mengajak para ayah, termasuk para nelayan, untuk tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga hadir secara emosional dan psikologis dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Peran tersebut dinilai menjadi salah satu kunci membangun keluarga berkualitas sekaligus mencegah stunting.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, menegaskan kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak sehingga tidak boleh dimaknai hanya sebatas berada di rumah.

“Ayah wajib hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis di dalam keluarga. Anak membutuhkan figur, teladan, perhatian, dan kasih sayang dari seorang ayah. Kehadiran ayah sangat menentukan tumbuh kembang anak, termasuk membentuk karakter dan mencegah berbagai persoalan sosial di kemudian hari,” ujarnya.

Menurut Shodiqin, HARGANAS menjadi momentum memperkuat fungsi keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

“Hari Keluarga Nasional menjadi momentum untuk mengajak seluruh masyarakat memperkuat peran keluarga. Melalui berbagai program yang menyentuh langsung masyarakat, kami ingin membangun keluarga yang sehat, mandiri, dan berkualitas sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Ia menjelaskan, Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) merupakan salah satu program prioritas Kemendukbangga/BKKBN yang terus didorong di berbagai daerah. Sejumlah gerakan telah dilaksanakan, mulai dari Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah hingga Gerakan Ayah Mengambil Rapor yang mendapat dukungan pemerintah daerah.

Menurutnya, selama ini pengasuhan anak masih banyak didominasi oleh ibu. Karena itu, BKKBN ingin membangun paradigma baru bahwa mengasuh anak merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.

“Menyiapkan sarapan, mendampingi anak belajar, mengambil rapor hingga memberikan perhatian kepada anak merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu,” jelasnya.

Dalam rangkaian HARGANAS tersebut, BKKBN Jawa Timur juga menyalurkan bantuan kepada Keluarga Risiko Stunting (KRS) melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan keluarga, peninjauan booth UPPKA, layanan Bangga Kencana, pelayanan KB, hingga edukasi literasi keuangan keluarga di kawasan THP Kenjeran.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dharma Wanita Persatuan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Erna Shodiqin, mengajak para suami membangun kemitraan dengan istri dalam mengelola keluarga. Ia mencontohkan kehidupan rumah tangganya bersama Shodiqin yang tetap mengedepankan komunikasi dan berbagi peran meski pernah menjalani penugasan di kota yang berbeda.

“Suami saya sudah menerapkan kesetaraan dalam rumah tangga. Saat bertugas di luar daerah beliau terbiasa mandiri, memasak, menyetrika, dan tetap rutin berkomunikasi dengan saya maupun anak-anak. Komunikasi adalah kunci agar kedekatan ayah dengan keluarga tetap terjaga,” tuturnya.

Erna menambahkan, perubahan zaman menuntut suami dan istri saling mendukung, baik dalam mencari nafkah maupun mengasuh anak.

“Sekarang bukan hanya ayah yang bekerja, banyak ibu juga ikut mencari nafkah. Karena itu ayah dan ibu harus saling bekerja sama, sama-sama mencari nafkah, sama-sama mengurus anak, serta menerapkan kesetaraan dalam keluarga,” ujarnya.

Ia juga mengajak para suami untuk tidak ragu mengikuti program Keluarga Berencana (KB) pria apabila diperlukan.

“KB bukan hanya tanggung jawab perempuan. Laki-laki juga bisa berperan melalui KB pria atau vasektomi. Prosedurnya singkat, aman, dan menjadi bentuk tanggung jawab bersama dalam membangun keluarga yang sehat dan sejahtera,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Paguyuban Nelayan Udang Ronggeng, Anang Purwanto, mengatakan profesi nelayan memang mengharuskan para ayah menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian di laut. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi tanggung jawab mereka terhadap keluarga.

“Kami para nelayan sering harus melawan arus laut dan menghadapi berbagai risiko di tengah laut. Itu semua adalah bagian dari tanggung jawab kami sebagai ayah untuk mencari nafkah bagi keluarga,” ujarnya.

Anang menegaskan, para ayah di kalangan nelayan juga berkomitmen menjadi teladan bagi anak-anak mereka.

“Salah satu komitmen kami sebagai ayah adalah tetap memberikan teladan kepada anak-anak. Walaupun pekerjaan kami sebagai nelayan berat, kami ingin anak-anak memiliki masa depan yang lebih baik, rajin beribadah, menjauhi pergaulan negatif, dan tidak terjerumus narkoba,” tegasnya.

Menutup kegiatan, Shodiqin berharap Gerakan Ayah Teladan Indonesia tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya dalam setiap keluarga Indonesia.

“Kami berharap semakin banyak ayah yang hadir menjadi teladan bagi anak-anaknya, mendampingi pendidikan, ibadah, dan tumbuh kembang mereka. Dari keluarga yang berkualitas akan lahir generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.