SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transformasi digital, serta perubahan kebutuhan dunia kerja mendorong perguruan tinggi melakukan pembaruan kurikulum secara menyeluruh.
Bagi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), redesain kurikulum bukan sekadar memperbarui mata kuliah, tetapi menjadi langkah strategis untuk menyiapkan generasi pembelajar sepanjang hayat yang mampu menjawab tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sarasehan Redesain Kurikulum Unusa bertema “Kurikulum Berdampak Berbasis Outcome Based Education (OBE) untuk Lulusan Unggul dan Berdaya Saing” yang digelar di Kampus Unusa, Selasa (4/8).
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) Prof. Mohammad Nuh, Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono, serta Staf Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Hermawan Kresno Dipojono.
Dalam paparannya, Prof. Hermawan menegaskan bahwa dunia pendidikan tinggi saat ini menghadapi perubahan yang berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Perkembangan AI dan otomatisasi diperkirakan akan menggantikan banyak pekerjaan yang bersifat rutin sehingga perguruan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang robot-proof, yakni memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, berjiwa kepemimpinan, memiliki empati, serta mampu menyelesaikan persoalan yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
“Robot dan AI akan mengambil alih pekerjaan yang bersifat rutin. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berinovasi, berempati, serta mampu menyelesaikan persoalan nyata. Kompetensi seperti inilah yang sulit digantikan oleh teknologi,” ujarnya.
Menurutnya, transformasi kurikulum menjadi langkah penting agar lulusan tetap relevan dan mampu bersaing di tengah perubahan global yang semakin cepat.
Prof. Hermawan juga memperkenalkan konsep Digital Khalifah 2050, yaitu paradigma pembangunan sumber daya manusia yang memadukan kecerdasan digital dengan nilai moral, spiritual, dan kepemimpinan. Indonesia, kata dia, membutuhkan generasi yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi demi kemaslahatan masyarakat.
Visi tersebut didukung oleh penguatan kualitas sumber daya manusia, inovasi digital, dan kemandirian ekonomi sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Ketua Yarsis Prof. Mohammad Nuh menegaskan bahwa perubahan kurikulum tidak boleh hanya berorientasi pada kebutuhan industri. Pendidikan tinggi harus tetap berpijak pada tujuan yang lebih besar, yakni melahirkan manusia yang mampu memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.
Karena itu, arah pengembangan Unusa sebagai Islamic Sustainable Digital University menempatkan keberlanjutan, kebermanfaatan, dan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi dalam seluruh proses pembelajaran.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengejar ijazah, tetapi harus tumbuh menjadi true learner atau pembelajar sepanjang hayat yang mampu terus beradaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono menjelaskan bahwa filosofi tersebut diwujudkan melalui implementasi kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
Menurutnya, kurikulum tidak lagi hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi disusun berdasarkan capaian pembelajaran lulusan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dunia industri, perkembangan teknologi, serta misi pengabdian Unusa.
Transformasi akademik tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, adaptif, serta mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
Prof. Tri menambahkan, perubahan kurikulum juga harus menghadirkan pengalaman belajar yang lebih fleksibel, kolaboratif, dan berbasis penyelesaian persoalan nyata. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat, literasi digital, jiwa kepemimpinan, dan kepekaan sosial sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.
Sarasehan ini menjadi bagian dari langkah strategis Unusa dalam menyusun kurikulum masa depan yang mengintegrasikan perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi digital, kebutuhan dunia kerja, serta nilai-nilai kemanusiaan.






