MALANG – Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di Bendungan Sutami, Karangkates, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terus dikebut. Hingga Oktober 2026, progres proyek berkapasitas 100 megawatt arus bolak-balik (MW AC) tersebut telah mencapai 70 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada Januari 2027.
Proyek energi terbarukan ini digarap PT Nusantara Guodian Karangkates Indonesia (PT NGKI), perusahaan patungan yang melibatkan PT PLN Nusantara Renewables dan Guodian Power Jasa Tirta Investasi.
Direktur Operasi PT NGKI Djauhar Husni menjelaskan, pembangunan dimulai pada Januari 2026, setelah dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) diterbitkan pada 5 Januari 2026. Capaian progres saat ini meliputi pengerjaan rekayasa teknis, pengadaan peralatan, hingga konstruksi di lapangan.
“Untuk target penyelesaian atau rencana operasionalnya, ini di awal Januari 2027,” ujar Djauhar di depan awak media, Rabu (14/10/2026).
Meski pengerjaan fisik terus berjalan, tahapan perizinan sempat menjadi kendala yang memengaruhi pelaksanaan proyek. Salah satunya persetujuan penggunaan kawasan hutan yang baru diterbitkan pada 31 Agustus 2026.
Dampaknya, pekerjaan di sejumlah area yang membutuhkan izin tersebut baru bisa dilanjutkan pada Oktober 2026.
“Pekerjaannya mungkin tidak terlalu rumit, tetapi perizinannya ini yang cukup lama,” katanya.
Djauhar berharap pengalaman dalam pembangunan PLTS terapung Sutami dapat menjadi bahan evaluasi untuk proyek energi terbarukan berikutnya. Menurut dia, proses perizinan yang lebih efisien akan membantu mempercepat pembangunan sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan proyek.
Dari sisi pendanaan, pembangunan PLTS terapung Sutami diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$90 juta. Berdasarkan data proyek, komposisi kepemilikan PT NGKI terdiri atas PT PLN Nusantara Power sebesar 51 persen, Perum Jasa Tirta I sebesar 5 persen, serta investor asal China sekitar 44 persen.
Selain menambah kapasitas pembangkit energi terbarukan, proyek ini juga melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar selama tahap prakonstruksi dan konstruksi. Sekitar 600 pekerja diperkirakan terlibat, dengan tenaga kerja asing mencakup sekitar 15 persen dari total kebutuhan.
Tenaga kerja asing terutama menangani pekerjaan rekayasa teknis, pelaporan, dan perwakilan investor. Sementara itu, kebutuhan tenaga kerja lainnya dipenuhi dari dalam negeri.
Djauhar mengungkapkan, ketersediaan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus dalam pembangunan PLTS masih menjadi tantangan. Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, pengalaman pekerja yang sebelumnya terlibat dalam pembangunan PLTS terapung Cirata di Jawa Barat turut dimanfaatkan.
Dalam aspek penggunaan komponen, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) proyek ini tercatat sekitar 20 persen. Adapun sekitar 80 persen komponen lainnya masih dipenuhi melalui impor.
Permit & ESG Vice Manager PT NGKI Mochammad Affandi menjelaskan, pemasangan panel fotovoltaik (PV) pada struktur terapung menjadi salah satu tahapan utama pembangunan. Hingga Oktober 2026, pekerjaan pada enam dari total delapan unit telah diselesaikan.
“Delapan unit tersebut memiliki kapasitas berbeda-beda karena desainnya menyesuaikan kontur dasar dan kondisi perairan waduk. Secara keseluruhan, fasilitas PLTS akan menempati area sekitar 71 hektare atau setara 3,7 persen dari luas waduk berdasarkan kondisi muka air yang menjadi acuan perencanaan,” kata Affandi.
Setelah seluruh unit selesai dibangun, pembangkit tersebut ditargetkan memiliki kapasitas total 100 MW AC. Energi listrik yang dihasilkan panel surya nantinya dialirkan menggunakan kabel dari area terapung menuju daratan untuk menjalani tahapan konversi dan penyesuaian tegangan.
Panel surya menghasilkan listrik dalam bentuk arus searah (DC). Arus tersebut kemudian dikonversi menjadi arus bolak-balik (AC), sebelum tegangannya dinaikkan menggunakan transformator hingga mencapai 150 kilovolt (kV).
Listrik selanjutnya disalurkan melalui jalur transmisi sepanjang sekitar dua kilometer untuk terhubung dengan sistem kelistrikan Jawa. Pasokan dari PLTS terapung Sutami akan menjadi bagian dari bauran energi listrik dan disalurkan sesuai kebutuhan sistem kelistrikan.
Dengan target operasi pada awal 2027, proyek ini diharapkan dapat menambah kontribusi pembangkit energi surya dalam mendukung diversifikasi sumber energi di Indonesia.






