Saham DADA Melambung: Analis Ingatkan Risiko di Balik Lonjakan

Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) menunjukkan lonjakan dramatis dalam perdagangan pada Rabu, 7 Januari. Dalam sesi intraday, saham DADA sempat melesat hingga 34%, mencapai level auto reject atas (ARA) di Rp 67 pada pukul 10:15 WIB. Kenaikan signifikan ini terjadi pada perusahaan pengembang properti tersebut setelah beredarnya komentar dari Yudo Achilles Sadewa, putra dari Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa. Komentar tersebut tersebar di sebuah grup investasi, di mana Yudo menyatakan, “Gw (aku) tiba-tiba mimpi DADA ke Rp 300 ribu tadi malam. Ada uang aku Rp 10 juta nyangkut.”

Lonjakan harga saham ini berlangsung hingga menjelang penutupan sesi pertama perdagangan. Namun, ironisnya, lima menit sebelum bursa ditutup sementara, saham DADA mulai mengalami penurunan dari Rp 67 menjadi Rp 60 per lembar saham. Situasi berbalik dengan cepat, dan kini investor terlihat beramai-ramai mengantre untuk menjual saham DADA. Padahal, pada sekitar pukul 11:40 WIB, orderbook saham DADA tercatat mencapai 6,21 juta lot dengan frekuensi transaksi mencapai 20 ribu.

Volume perdagangan yang tercatat mencapai 3,16 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi menembus Rp 195,85 miliar dan kapitalisasi pasar mencapai Rp 445,89 miliar. Jika ditelisik lebih jauh, pergerakan saham DADA di Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang tidak biasa. Saham DADA sebelumnya terpaku di level Rp 12 selama periode Januari hingga Agustus. Pergerakan baru mulai terlihat setelah tanggal 5 Agustus, bahkan menyentuh level tertinggi di Rp 178 pada 8 Oktober.

Namun, tidak berselang lama, saham DADA kembali anjlok dan bertahan di level gocap atau Rp 50 sejak 22 Oktober 2025 hingga 6 Januari. Baru pada perdagangan hari ini, terjadi lonjakan drastis yang menyentuh ARA, tepat setelah komentar dari putra Purbaya Yudhi Sadewa beredar.

Hingga saat ini, belum ada keterbukaan informasi resmi dari manajemen DADA mengenai rencana aksi korporasi yang secara langsung berpotensi memengaruhi harga saham. Dalam klarifikasi yang diberikan pada November 2025, manajemen perusahaan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki informasi material yang dapat memengaruhi bisnis.

Pada kesempatan yang sama, manajemen juga memberikan klarifikasi terkait isu mengenai lokasi kantor pusat yang disebut tidak jelas. Dalam keterangannya, manajemen DADA menegaskan bahwa perusahaan memiliki kantor pusat resmi yang berlokasi di Kota Depok, Jawa Barat. Pernyataan tersebut secara tegas membantah pemberitaan yang menyebutkan kantor perseroan berada di sebuah warung kelontong.

Risiko Investasi dan Fenomena Influencer Saham

Menanggapi pergerakan saham yang tidak biasa ini, Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, yang juga seorang analis dan pakar keuangan, menilai bahwa saat ini memang sedang marak fenomena influencer saham. Fenomena ini muncul seiring dengan meningkatnya jumlah investor domestik, terutama investor ritel, di pasar modal.

Menurut Rudiyanto, dengan semakin bertambahnya jumlah investor ritel, fenomena ini menjadi suatu hal yang sulit dihindari. Ia menambahkan bahwa tidak hanya anak menteri, tetapi influencer dengan pengikut besar di media sosial juga berpotensi besar memengaruhi investor untuk membeli saham tertentu.

Oleh karena itu, Rudiyanto mengimbau para investor untuk tetap berhati-hati dalam melakukan investasi. Ia menekankan pentingnya bagi investor, terutama investor ritel, untuk menerapkan manajemen risiko dan manajemen keuangan yang baik dalam setiap keputusan investasi mereka.

“Dengan semakin banyaknya investor ritel, memang fenomena ini tidak terelakkan. Hati-hati saja, jangan sampai terjebak dalam saham gorengan,” ujar Rudiyanto.

Berdasarkan informasi kepemilikan perseroan, pengendali perusahaan, PT Karya Permata Inovasi Indonesia, menggenggam saham DADA sebanyak 2,20 miliar lembar atau sekitar 29,60%. Setelah itu, berdasarkan laporan kepemilikan saham oleh direksi dan komisaris, hanya satu pihak yang tercatat masih memegang saham DADA, yaitu Komisaris Tjandra Tjokrodiponto. Tjandra tercatat menggenggam 35 juta lembar saham DADA, atau setara dengan 0,47%.

Dengan perhitungan tersebut, pemegang saham atau investor yang memiliki saham DADA di bawah 5% mencapai 70,40% dari total saham, dengan jumlah saham sebanyak 5,23 miliar lembar. Jumlah pemegang saham yang masuk dalam kategori ini mencapai 70.489 investor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *