Daerah  

Wardah: Halal sebagai Panduan Bisnis

Wardah Tegaskan Prinsip Halal sebagai Landasan Bisnis Etis dan Tanggung Jawab Sosial

Wardah, melalui PARAGONCORP, secara tegas menggarisbawahi signifikansi konsep halal sebagai prinsip etika fundamental yang menjiwai seluruh rantai proses bisnisnya, dari tahap paling awal hingga akhir. Konsep ini bukan sekadar pedoman operasional, melainkan sebuah filosofi yang mendasari cara kerja perusahaan. “Halal adalah prinsip etis yang membentuk cara kami bekerja. Lebih dari sekadar bisnis, ini adalah bentuk stewardship dan tanggung jawab kami sebagai manusia,” ujar Sari Chairunnisa, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dalam sebuah pernyataan tertulis pada Kamis, 19 Februari 2026.

Sari menjelaskan bahwa prinsip bisnis etis yang dipegang teguh oleh Wardah tidak dapat dipisahkan dari konsep halal yang menjadi panduan di setiap aspek industri kecantikan perusahaan. Komitmen ini diwujudkan melalui penerapan konsep Ethical Business Ecosystem as a Living Value, sebuah kerangka kerja yang mengintegrasikan nilai-nilai halal ke dalam inovasi produk, operasional perusahaan, serta kontribusi sosial yang diberikan.

Pernyataan penting ini disampaikan oleh Sari dalam forum internasional bergengsi, Jadal Women’s Research Dialogue, yang diselenggarakan di Doha, Qatar. Wardah memiliki kehormatan untuk mewakili Indonesia sebagai satu-satunya merek kecantikan dalam forum global tersebut. Acara ini diselenggarakan oleh Al Mujadilah Center and Mosque for Women, sebuah organisasi yang berdedikasi untuk pemberdayaan perempuan Muslim.

Forum Jadal Women’s Research Dialogue ini menjadi ajang pertemuan bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi Muslim dari berbagai negara. Tujuan utama forum ini adalah untuk mendiskusikan berbagai isu kontemporer yang dihadapi oleh perempuan Muslim di seluruh dunia. Dalam kapasitasnya sebagai perwakilan Indonesia, Wardah mempresentasikan hasil riset terbaru perusahaan yang berfokus pada kepemimpinan perempuan yang berlandaskan nilai-nilai. Selain itu, Wardah juga menegaskan kembali pentingnya iman, praktik bisnis yang etis (ethical business), dan kepemimpinan yang digerakkan oleh nilai (values-driven leadership) dalam konteks diskusi global.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pemberdayaan Perempuan Muslim

Dalam forum tersebut, Sohaira Siddiqui, Executive Director Al Mujadilah, menekankan urgensi untuk membangun jembatan antara dunia akademis dan komunitas. Tujuannya adalah agar hasil penelitian dan praktik di lapangan dapat berjalan seiring seiring, menghasilkan perspektif yang aplikatif dan relevan bagi perempuan Muslim secara global.

Turut hadir sebagai salah satu pembicara terkemuka dalam forum ini adalah mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi. Beliau menyoroti pentingnya memiliki tujuan hidup yang jelas sebagai fondasi utama dalam kepemimpinan perempuan. Menurutnya, seorang pemimpin mutlak membutuhkan kompas moral yang kuat untuk membimbing setiap keputusan yang diambil dalam aktivitas sehari-hari, terutama di tengah lanskap global yang penuh ketidakpastian. “Integritas dan nilai harus menjadi prinsip panduan agar kepemimpinan tetap berpihak pada kepentingan publik, termasuk kelompok yang rentan,” tegas Retno Marsudi.

Definisi Kecantikan dan Kepemimpinan dari Perspektif Perempuan Muslim Indonesia

Riset mendalam yang dilakukan oleh Wardah mengungkap sebuah temuan menarik mengenai pandangan perempuan Muslim Indonesia terhadap konsep kecantikan. Mereka memaknai kecantikan sebagai sebuah proses evolusi diri menuju versi yang lebih baik. Proses ini ditandai dengan semangat yang membara, kemandirian yang kuat, produktivitas yang tinggi, keanggunan dalam bersikap, serta keberanian untuk bertindak. Puncak dari proses ini adalah kemampuan untuk memberikan kontribusi nyata dan positif bagi masyarakat.

Lebih lanjut, riset Wardah menangkap tren yang semakin menguat di kalangan generasi perempuan Muslim muda. Mereka kini melihat konsep kecantikan dan kepemimpinan melalui lensa yang lebih dalam, yaitu ‘purpose’ atau tujuan hidup. Sari Chairunnisa menambahkan, keberanian untuk menyuarakan pendapat dan menciptakan dampak positif telah menjadi bagian integral dari ekspresi diri (self-expression). Dengan demikian, definisi kecantikan tidak lagi terbatas pada aspek penampilan fisik semata, melainkan mencakup integritas diri, keselarasan antara dimensi fisik, spiritual, dan tanggung jawab moral yang diemban.

Peran Global Perempuan Muslim dalam Mendorong Perubahan Positif

“Melalui partisipasi kami dalam Jadal Women’s Research Dialogue ini, kami bertekad untuk menyuarakan dan memperkuat keterlibatan serta peran perempuan Muslim. Kami ingin mereka senantiasa terdorong untuk menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di panggung global,” pungkas Sari Chairunnisa.

Upaya Wardah dalam forum internasional ini mencerminkan komitmennya untuk tidak hanya menjadi pemimpin dalam industri kecantikan, tetapi juga sebagai advokat bagi pemberdayaan perempuan Muslim dan promotor nilai-nilai etika universal dalam setiap aspek kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *