PALEMBANG (INDONESIAKINI.id) – El Nino adalah anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya. Dalam penjelasan BMKG terkait ENSO (El Nino-Southern Oscillation) tersebut, iklim di Samudera Pasifik dapat bervariasi dalam tiga fase. Salah satunya, fase El Nino.
Dijelaskan, pada fase ini, angin pasat yang biasa berhembus dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah. Pelemahan ini dikaitkan dengan meluasnya suhu muka laut yang hangat di timur dan tengah Pasifik.
“Air hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Hal ini berarti Indonesia mengalami peningkatan risiko kekeringan,” tulis BMKG.
El Nino memengaruhi pola iklim dan curah hujan di Indonesia, menyebabkan musim kemarau yang panjang dan kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah. Hingga terjadi kekurangan pasokan air.
Meskipun saat ini El Nino masih cukup kuat, BMKG memprediksi bahwa fenomena ini akan melemah dan berakhir pada awal tahun 2024. Fenomena El Nino di Indonesia diprediksi akan berlangsung sampai Februari 2024. Ini akan diikuti oleh musim hujan yang meningkat, dengan curah hujan di atas normal, terutama pada Januari dan Februari,” kata Dwikorita Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dikutip dari keterangan di situs resmi BMKG, Selasa (31/10/2023).
Dengan bakal meredanya kekeringan, Dwikorita mengingatkan agar siap-siap dengan musim hujan yang akan tiba.
“Ketika musim hujan tiba, potensi banjir, longsor, dan banjir bandang meningkat. Stakeholder terkait harus mengantisipasi dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengelola situasi ini,” katanya.
“BMKG juga telah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memantau dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mungkin terjadi bersamaan dengan musim hujan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi dampak El Nino dan meminimalkan krisis pangan di masa depan,” pungkas Dwikorita.
Penulis: Dede Apriadi






