Daerah  

Panwascam dan Komisioner Bawaslu Muba Dikeroyok oleh Orang Bawaan Oknum Caleg Dapil 9 Sumsel

Korban pengeroyokan saat membuat laporan di Polres Muba. (Ist)

MUBA (INDONESIAKINI.id) – Ketua Panwascam Keluang Hendri dan Komisioner Bawaslu Kabupaten Muba Rico Roberto, korban pengeroyokan melapor ke Polres Muba.

Kasus pengeroyokan itu dilaporkan ke Polres Muba pada Senin 25 Maret 2024 dengan nomor laporan: LP/B/98/III/2024 /SPKT/ POLRES MUSI BANYUASIN/POlDA SUMATERA SELATAN. Dan surat tanda penerima laporan nomor: STPL/98/III/SPKT/POLRES MUSI BANYUASIN POLDA SUMATERA SELATAN.

Panwascam Keluang, Hendri menceritakan, kronologis kejadian bermula pada agenda Panwascam Keluang melakukan proses pemeriksaan terhadap pelapor dan terhadap kedua orang saksi.

“Seperti biasa Komisioner Bawaslu Kabupaten turun ke Panwascam untuk melakukan monitoring dan pengawasan terhadap agenda-agenda yang dilakukan oleh panwascam pada Minggu (24/03/24) sekira pukul 12.00 WIB hingga selesai proses pemeriksaan terhadap satu orang saksi berjalan dengan lancar tanpa halangan dan rintangan,” ceritanya.

Kemudian sekira pukul 14.00 WIB dilanjutkan agenda dengan melakukan pemeriksaan terhadap pelapor yakni oknum Caleg DPRD Muba yang juga mantan anggota DPRD Muba.

“Ketika oknum Caleg masuk ke dalam ruang pemeriksaan, ia berdiri dan berteriak keras marah dengan menyebut kalimat “ikak hakku” ngape kalian lame memproses laporan ku. “PPK ikak kurang ajar Nia” sembari memukul meja sebanyak 2 kali dan membanting setumpuk berkas tebal ke meja,” bebernya.

Lalu secara tiba-tiba segerombolan orang yang dibawa oleh oknum Caleg masuk dari berbagai arah pintu depan kantor lebih kurang 30 orang yang diduga preman langsung menyerang secara membabi buta kepada Hendri (Ketua Panwascam Keluang) dan Rico Roberto (Komisioner Bawaslu Muba).

Ketua Bawaslu Muba melalui Kordiv SDM, Dian Sandi menyebutkan bahwa Rico Roberto dan staf turun ke Panwascam Keluang sedang menjalankan kewajiban profesi dengan membawa surat tugas yang resmi dari lembaga Bawaslu Musi Banyuasin, untuk melakukan monitoring dan pengawasan proses penanganan laporan.

“Hal ini menjadi preseden buruk bagi proses dewasanya demokrasi di daerah Muba,” sebut dia.

Lebih lanjut disampaikannya, dari fakta di lapangan yang seharusnya dimintai keterangan adalah oknum Caleg dan 2 orang saksi. “Dia kan pelapor, namun untuk apa dia itu bawa massa yang banyak. Ini menyangkut saudara kami dan lembaga. Oknum Caleg tersebut yang paling bertanggung jawab atas tragedi ini. Hal ini akan kami tuntaskan melalui jalur hukum,” ucap Dian Sandi.

Di tempat yang sama, salah seorang saksi kejadian mengatakan, bahwa korban sudah melapor ke SPKT Polres Muba, dan sudah dilakukan visum. Menurutnya, berdasarkan peristiwa kejadian di lapangan oknum Caleg tersebut tidak ada sedikitpun bersikap untuk meredam amukan gerombolan tersebut.

“Setelah semuanya meredam dan korban bonyok barulah dia basa-basi melerai dan memerintahkan massanya untuk keluar ruangan tersebut. Kami juga mengalami kerugian berupa 4 meja, 6 kursi 1 laptop, 2 ban mobil komisioner ditusuk pisau, serta berkas kami banyak hilang,” tandasnya. (Doni)