SURABAYA – Suasana khidmat prosesi wisuda Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) tahun ini diwarnai kisah inspiratif dua wisudawati non-Muslim yang mencerminkan semangat toleransi dan keberagaman di kampus berbasis Islam tersebut.
Mereka adalah Waryani, mahasiswi beragama Kristen kelahiran Kalten, 2 November 1971, dan Ana Zenetia Paulo Soares de Rosa, mahasiswi Katolik asal Timor Leste kelahiran Dili, 22 Agustus 2001. Keduanya menempuh pendidikan di Program Studi S1 Kebidanan Unusa yang telah terakreditasi Unggul, melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan alih jenjang.
Waryani tercatat sebagai wisudawan tertua dengan usia 54 tahun. Ia sebelumnya menyelesaikan D3 Kebidanan dari perguruan tinggi lain, dan kini bekerja di RS Darmo. Bahkan, salah satu dosennya di Unusa adalah teman satu angkatan saat menempuh D3. “Saya akui beliau memang sejak dulu pandai, jadi pantas sekarang menjadi dosen saya,” ujarnya.
Sementara itu, Ana Zenetia menempuh jalur lintas jenjang dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial bersama organisasi mahasiswa Muslim. “Saya sangat bersyukur bisa kuliah di Unusa. Meskipun mayoritas teman-teman Muslim dan banyak yang berjilbab, saya tidak pernah merasa dikucilkan. Justru saya merasa dihormati dan diterima,” tutur Waryani. Ia bahkan mengaku senang mengenakan kerudung dalam kesehariannya.
Ana menambahkan, “Unusa memberi saya pengalaman yang bukan hanya akademis, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Saya tetap bisa menjalankan ibadah dan merayakan hari besar agama saya. Teman-teman Muslim saya bahkan mengucapkan selamat Natal dan memperlakukan saya seperti keluarga.”
Unusa dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif bagi seluruh mahasiswa, tanpa memandang latar belakang agama, budaya, maupun kebangsaan.
“Kami belajar bersama, berdiskusi terbuka, dan saling memahami. Saya justru jadi lebih mengenal nilai-nilai Islam dari teman-teman saya,” tambah Waryani.
Kisah sukses Waryani dan Ana menyelesaikan pendidikan di Program Studi S1 Kebidanan ini menjadi bukti bahwa Unusa tak hanya melahirkan tenaga kesehatan profesional, tetapi juga lulusan yang menjunjung tinggi semangat kebhinekaan dan toleransi.





