Daerah  

MGMP Agama Buddha Laksanakan Dhamma Talk, 170 Siswa SMP Dapat Pencerahan

BANGKA – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Agama Buddha Kabupaten Bangka melaksanakan kegiatan Dhamma Talk dalam rangkaian kegiatan Waisak Pelajar bagi 170 murid SMP.

Dhamma Talk tersebut dilaksanakan di Dhammasala Puri Tri Agung, Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka pada Kamis (12/06/2025) dengan mengambil tema Peningkatan Karakter Peserta Didik Dengan Cara Hidup Berkesadaran Dan Pengendalian Diri.

Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut adalah Wisnu Widiyanto, SH, selaku Pembimas Buddha Kanwil Agama Provinsi Babel dan Sarjono, S.Ag, yang juga seorang Pembimas  Buddha Kabupaten Bangka dengan moderator Indra Gautama Putra, S.Dt.B.

Selaku pembicara pertama, Wisnu Widiyanto, SH, didepan ratusan siswa peserta Dhamma Talk menyampaikan materi tentang Hidup Berkesadaran dalam Remaja Buddhis.

Wisnu menjelaskan bahwa Hidup berkesadaran atau mindfulness adalah praktik yang menekankan kesadaran terhadap pengalaman saat ini, tanpa penilaian atau keinginan untuk mengubahnya. Ini melibatkan perhatian yang penuh pada saat ini, termasuk sensasi tubuh, pikiran, dan emosi yang muncul.

Menurut Wisnu Widiyanto, Hidup berkesadaran membantu kita untuk menyadari apa yang sedang terjadi di sekitar kita, baik secara internal (pikiran, perasaan) maupun eksternal (sensasi tubuh, lingkungan).

Apabila umat Buddha mengamalkan ajaran ini, akan membawa kemajuan batin, membentuk prilaku yang mendukung pencapaian kesempurnaan hidup.

Sementara itu, Sarjono, S.Ag, selaku pembicara kedua menyampaikan tema Pengendalian Diri Bagi Remaja Buddhis. Sarjono menerangkan bahwa Pengendalian diri atau self-control adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan impuls, emosi, dan perilaku mereka agar sesuai dengan norma sosial, nilai-nilai, dan tujuan jangka panjang.

Ini melibatkan menahan diri dari tindakan impulsif atau keinginan yang berlebihan demi mencapai hasil yang lebih baik.

Dalam pengendalian diri kita harus memiliki kesabaran, kewaspadaan, moral yang baik, semangat yang kuat serta pengetahuan supaya dalam pengendalian diri ini dapat terkontrol lebih baik lagi. Semoga dengan mempraktikkan ini kita lebih mudah dalam mengendalikan diri,” kata Sarjono, S.Ag.

Sarjono juga menyampaikan bahwa Pengendalian diri adalah kemampuan untuk memodifikasi perilaku, mengelola informasi yang diinginkan dan tidak diinginkan, serta memilih tindakan berdasarkan keyakinan.

Ini juga termasuk kemampuan untuk mengendalikan respons, terutama dalam beradaptasi dengan norma, moral, dan ekspektasi sosial.

Tujuan utama pengendalian diri adalah untuk mencapai keberhasilan, kemajuan, dan kebahagiaan. Dari sudut pandang agama, tujuan pengendalian diri adalah menahan diri dari nafsu duniawi dan batiniah yang berlebihan dan tidak seimbang,” jelas Sarjono mengakhiri materinya.

Dhamma Talk dilanjutkan dengan acara dialog bersama yang diiringi oleh beberapa pertanyaan peserta didik kepada kedua narasumber.