Gema Indonesia Raya Tiga Stanza Bergema dari Makam WR Soepratman

Teks Foto : Komunitas pecinta Indonesia menggelar refleksi kebangsaan di Makam WR Soepratman, Surabaya. (ist)

SURABAYA – Di tengah sorotan atas krisis moral dan menurunnya semangat nasionalisme, gema Indonesia Raya tiga stanza kembali menggema dari Museum dan Makam WR Soepratman, Surabaya. Kegiatan yang diinisiasi komunitas pecinta Indonesia ini menjadi penanda 97 tahun lahirnya lagu kebangsaan yang mengikat jiwa bangsa dan menggetarkan sejarah perjuangan.

Ketua Panitia Rudy T. Mintarto menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar peringatan, tetapi juga gerakan kebudayaan yang mengajak masyarakat menghidupkan kembali semangat tiga stanza yang hampir terlupakan.

“Kita tidak boleh berhenti di satu bait. Di tiga stanza, Soepratman menulis seluruh roh perjuangan bangsa — tentang tanah air, pengorbanan, dan kemajuan. Dengan menyanyikannya penuh, kita memanggil kembali jiwa kebangsaan yang mulai pudar,” ujar Rudy dalam keterangan tertulis,(17/10/25) Jum’at.

Rudy menambahkan, makam WR Soepratman dipilih sebagai lokasi utama untuk mengingatkan publik bahwa perjuangan dapat lahir dari ruang kesederhanaan.

“Beliau tidak berperang dengan senjata, tapi dengan biola dan pena. Lagu Indonesia Raya lahir dari hati yang tulus dan pikiran yang merdeka,” katanya.

Acara yang akan digelar Selasa, 28 Oktober 2025 pukul 14.00 WIB ini diawali di museum dan dilanjutkan ke makam pahlawan nasional tersebut.

Penasihat program Prof. Dr. Siswanto mengungkapkan, pengabaian terhadap dua stanza berikutnya menyebabkan bangsa ini kehilangan sebagian besar nilai moral yang diwariskan oleh penciptanya.

“Bait kedua dan ketiga berisi ajaran pengorbanan, tanggung jawab, dan semangat persatuan. Jika hanya satu stanza yang dinyanyikan, kita kehilangan ruh moral dari lagu kebangsaan,” jelasnya.

Sementara itu, Rokimdakas, sekretaris sekaligus desainer program, menjelaskan acara ini dikemas secara estetis dan reflektif melalui musik biola, pidato kebangsaan, pembacaan puisi perjuangan, serta slametan.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa patriotisme bukan sekadar slogan. Ia bisa hidup melalui seni dan budaya yang jujur, seperti yang dilakukan Soepratman,” tutur Rokim.

WR Soepratman lahir 9 Maret 1903 dan wafat 17 Agustus 1938 dalam usia 35 tahun. Meski tak menikah, ia mengabdikan hidupnya sebagai pendidik, wartawan, dan komponis bangsa, hingga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Utama.

Gema Indonesia Raya tiga stanza dari makamnya menjadi simbol kebangkitan nurani bangsa, mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati adalah kesetiaan menjaga nilai moral dan kebangsaan di tengah zaman yang mudah tergoda oleh kekuasaan.