Stabilitas Sembako Sambut Tahun Baru, Kopi Meroket di Solo
Memasuki awal tahun 2026, Kota Solo menunjukkan gambaran ekonomi yang relatif stabil untuk kebutuhan pokok masyarakat. Harga sembilan bahan pokok (sembako) terpantau tidak mengalami lonjakan signifikan, memberikan sedikit kelegaan bagi rumah tangga. Namun, di tengah stabilitas tersebut, muncul fenomena tak terduga: harga biji kopi justru mengalami kenaikan tajam.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, memberikan perhatian khusus terhadap tren kenaikan harga biji kopi ini. Beliau mengidentifikasi bahwa maraknya pertumbuhan kedai kopi di berbagai penjuru kota menjadi akar permasalahan utama yang mendorong lonjakan harga komoditas ini.
“Yang kita konsentrasi adalah bawang merah, bawang putih, dan cabai. Tiga komoditas itu yang utama karena menjadi penyumbang inflasi. Selain itu, pertumbuhan coffee shop juga turut memberi dampak pada inflasi di perekonomian kita,” ujar Respati Ardi saat ditemui pada Jumat, 2 Januari 2025.
Secara umum, Respati menjelaskan bahwa kondisi ketahanan pangan untuk kebutuhan pokok di Kota Solo masih tergolong aman. Upaya pengendalian harga melalui operasi pasar murah dinilai cukup efektif dalam menjaga stabilitas. Meskipun demikian, terdapat sejumlah komoditas yang tetap memerlukan pengawasan ketat karena berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi daerah.
Lonjakan Kedai Kopi: Cermin Perubahan Gaya Hidup dan Dampaknya
Pertumbuhan pesat kedai kopi di Kota Solo bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari perubahan gaya hidup masyarakat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo mencatat bahwa pada tahun 2023, terdapat sebanyak 109 unit kedai kopi yang beroperasi. Angka ini terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap budaya “ngopi” atau menikmati kopi di kafe.
Memasuki tahun 2025, pertumbuhan ini semakin terlihat nyata. Pantauan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi saja menunjukkan keberadaan 23 kedai kopi yang aktif, belum termasuk kawasan-kawasan lain di Kota Solo. “Secara total ada 174 coffee shop baru, dan rata-rata usianya masih relatif baru,” ungkap Respati.
Lonjakan jumlah kedai kopi ini, menurut Respati, tidak dapat dilepaskan dari perubahan pola konsumsi masyarakat, baik warga lokal maupun para pendatang. Tren nongkrong di kedai kopi secara alami mendorong lonjakan permintaan biji kopi. Peningkatan permintaan inilah yang pada akhirnya memberikan dampak langsung pada harga biji kopi itu sendiri.
“Ini mungkin soal tren. Pola konsumsi yang terlalu konsumtif juga kurang baik. Harga biji kopi sekarang cukup tinggi. Saya mendapat banyak masukan karena permintaannya besar, sehingga muncul harga-harga yang agak anomali,” jelasnya. Beliau berharap, peningkatan aktivitas ekonomi dari sektor kedai kopi ini dapat diimbangi dengan upaya pengendalian harga yang efektif, sehingga tidak menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan bagi perekonomian Kota Solo.
Strategi Stabilisasi Harga Kopi dan Penataan Parkir
Menghadapi kenaikan harga biji kopi yang cukup signifikan, Pemerintah Kota Solo tidak tinggal diam. Berbagai langkah strategis sedang dijajaki untuk memastikan stabilitas harga komoditas penting ini. Salah satu upaya yang tengah digalakkan adalah penjajakan kerja sama dengan daerah-daerah yang merupakan produsen kopi utama, seperti Kabupaten Temanggung.
Tujuan utama dari kerja sama ini adalah untuk menciptakan rantai pasokan yang lebih stabil dan mencegah fluktuasi harga yang merugikan. “Supaya harganya bisa stabil dan tidak saling ‘membunuh’. Kalau satu industri peningkatannya terlalu drastis pasti tidak sehat. Di sini pemerintah harus hadir sebagai penengah,” tegas Respati. Dengan adanya pasokan yang terjamin dari daerah penghasil, diharapkan harga biji kopi di pasaran Kota Solo dapat lebih terkendali.
Selain persoalan harga biji kopi, maraknya kedai kopi juga menimbulkan tantangan lain, yaitu keterbatasan lahan parkir. Banyak kedai kopi yang berlokasi di pusat kota atau area yang sulit dijangkau kendaraan pribadi, menyebabkan masalah parkir yang semakin kompleks.
Menanggapi hal ini, Pemerintah Kota Solo juga tengah berupaya mengatur dan menata area parkir. Konsep “park and ride” menjadi salah satu solusi yang diusung. Melalui konsep ini, Pemerintah Kota Solo akan bekerja sama dengan pihak swasta yang memiliki lahan kosong untuk dimanfaatkan sebagai area parkir tambahan. “Penataan parkir juga sedang kita atur. Tahun ini kita mengusung konsep park and ride. Nantinya, kantong-kantong parkir akan kita kerja samakan dengan pihak swasta yang memiliki lahan kosong untuk dimanfaatkan sebagai area parkir,” pungkasnya. Dengan demikian, diharapkan masalah parkir di sekitar kedai kopi dapat teratasi, sekaligus memberikan kemudahan bagi pengunjung.





