Keterbatasan Ruang dan Pendekatan dalam Pemilihan Furnitur
Keterbatasan ruang sering kali menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan furnitur dan peralatan rumah tangga. Kondisi ini mendorong pemilik rumah mengutamakan fungsi dan efisiensi, sekaligus menggeser fokus dari sekadar mempercantik ruang tapi juga mempertimbangkan fungsinya secara jangka panjang.
Pasangan pelawak tunggal sekaligus aktor Ardit Erwandha dan istrinya, Suci Asmarani Hasan, yang berprofesi sebagai notaris menerapkan pendekatan serupa di rumah mereka. Dalam pengelolaan rumah, Suci memegang peran utama dalam menentukan arah estetika dengan gaya minimalis dan rapi, sementara Ardit memiliki keleluasaan lebih di ruang kerjanya. “Kalau untuk menata rumah, mungkin ini semuanya Suci yang menentukan,” ujar Ardit kepada Tempo di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 29 April 2026.
Alasannya, Ardit menilai ada perbedaan pendekatan dari keduanya dalam memandang estetika. Suci cenderung mengutamakan keteraturan dan konsistensi visual, sementara Ardit lebih spontan dalam memilih warna dan elemen dekorasi. Meski Suci mengakui setiap warna bisa menarik secara individual, ia paham, tidak semua elemen bisa digabungkan tanpa pertimbangan. “Kadang-kadang kan memang ada warna kuning yang cakep, ada warna merah yang cakep. Tapi kan enggak semuanya bisa digabungkan dalam satu konsep gitu,” tutur Suci.
Saat ini, pasangan yang menikah pada 2019 itu menempati rumah kedua mereka di sebuah kompleks yang interiornya mereka renovasi. Dengan struktur bangunan tiga lantai, mereka mengandalkan pemanfaatan ruang vertikal untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan. Pengalaman di rumah sebelumnya, turut membentuk cara mereka memilih furnitur saat ini.
Kini, Ardit dan Suci mengaku cenderung menghindari furnitur custom dan lebih memilih produk jadi yang fleksibel serta mudah dipadupadankan. Strategi tersebut berjalan seiring dengan kebutuhan untuk mengoptimalkan ruang melalui penggunaan barang multifungsi. “Misalnya kami pakai dipan yang ada lacinya jadi bisa memaksimalkan ruang penyimpanan,” tutur Ardit. Selain tempat tidur dengan ruang penyimpanan, mereka juga memanfaatkan furnitur yang menggabungkan beberapa fungsi sekaligus dalam satu desain. “Kami juga pakai meja rias yang cerminnya yang bisa digeser jadi enggak makan ruang gitu,” tambah Suci.
Bagi mereka, pilihan terhadap produk multifungsi bukan sekadar mengikuti tren, tapi juga pentingnya memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Jadi sekarang kenapa enggak buru-buru custom juga salah satunya itu. Jadi sebaiknya memilih barang yang tidak hanya satu fungsi, tetapi juga punya fungsi tambahan,” kata Suci.
Konsep ini juga mereka terapkan pada pemanfaatan ruang secara adaptif. Ruang kerja, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai area bekerja, tetapi juga dapat beralih menjadi ruang tamu atau kamar tamu ketika dibutuhkan. “Jadi di ruang kerja kami taruh sofa yang bisa dugunakan sebagai kasur jika ada tamu yang menginap,” ujar Suci.
Pendekatan serupa juga terlihat dalam pemilihan peralatan rumah tangga. Efisiensi penggunaan dan hasil turut jadi pertimbangan utama. “Mungkin aku lebih ke air fryer kayak sekarang Apa-apa air fryer kan. Jadi, justru microwave sekarang sudah agak tersingkirkan karena untuk sekedar menghangatkan makanan saja, pakai air fryer hasilnya lebih memuaskan,” tutur Suci.
Teresia Lucia Wibowo, CEO Ruparupa (PT Omni Digitama Internusa), platform e-commerce dan omnichannel resmi dari Kawan Lama Group di Indonesia, turut melihat pergeseran preferensi konsumen semakin mengarah pada produk-produk yang praktis, fleksibel, dan relevan dengan keterbatasan ruang. Menurutnya, melalui pendekatan ini, pemilihan furnitur tidak lagi semata mempertimbangkan tampilan visual, tetapi juga kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kebutuhan dalam satu ruang.
Menurutnya, perubahan kebutuhan konsumen mendorong meningkatnya permintaan terhadap produk rumah tangga yang praktis dan multifungsi. Tren ini terlihat dari berbagai kategori produk yang kini dirancang untuk memudahkan aktivitas sehari-hari sekaligus menghemat ruang. “Jadi tren-tren kebutuhan pelanggan saat ini lebih yang memudahkan mereka, terus yang multifungsi juga. Jadi rice cooker sekarang sudah bisa menjadi steamer, bikin multifungsi gitu. Terus hal-hal seperti itulah yang sangat diminati,” tutur Teresia kepada Tempo pada Rabu, 29 April 2026.
Kecenderungan ini tidak lepas dari perubahan kondisi hunian, terutama di kawasan perkotaan yang semakin terbatas. Produk yang mampu menggabungkan beberapa fungsi dalam satu perangkat menjadi solusi yang semakin relevan. “Mungkin rumah makin kecil kali ya, jadi benda yang dicari yang bisa menjawab beberapa kebutuhan sekaligus,” tambahnya.
Hal serupa juga terlihat pada perkembangan desain produk, seperti vacuum cleaner yang kini lebih fleksibel. “Jadi vacuum cleaner sekarang sudah bisa dicopot sehingga yang kecilnya itu bisa buat menjangkau sudut-sudut,” tuturnya.
Namun, rupanya preferensi terhadap produk tetap bergantung pada konteks tempat tinggal. Perbedaan antara hunian di perkotaan dan luar kota turut memengaruhi pilihan furnitur. “Kalau di perkotaan yang memang rumahnya makin kecil ya, tapi kalau di luar kota masih karena kekeluargaan dan lain-lainnya, jadi mungkin keluarga datang atau apa, jadi masih tetap sofa L-shape itu menjadi favorit untuk yang mempunyai rumah-rumah yang besar,” ujarnya.
Sementara itu, untuk hunian dengan ruang terbatas seperti apartemen, furnitur multifungsi menjadi pilihan utama. Misal pemilihan sofa bed yang kian populer karena dapat berfungsi ganda sebagai sofa dan tempat tidur.






