Indonesia dan Jepang Memperkuat Hubungan Melalui Peminjaman Komodo
Indonesia akan meminjamkan sepasang komodo (
Varanus komodoensis ) ke Jepang sebagai bagian dari program konservasi sekaligus diplomasi. Program ini disebut sebagai breeding loan, yang merupakan bentuk kerja sama antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dengan Pemerintah Prefektur Shizuoka, Jepang. Penandatanganan MoU dilakukan pada akhir Maret 2026 lalu.
Dalam kerja sama ini, Indonesia akan menyerahkan dua ekor komodo ke iZoo Kawazu, kebun binatang reptil dan amfibi terbesar di Shizuoka, Jepang. Sebaliknya, Jepang akan mengirim beberapa satwa eksotis seperti panda merah dan jerapah ke Indonesia. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara.
Peminjaman komodo ini dianggap sebagai upaya memperkuat perlindungan satwa liar dan menjaga konservasi keanekaragaman hayati. Namun, publik mulai memperhatikan risiko yang mungkin muncul dalam jangka panjang, khususnya terkait kelestarian dan kesejahteraan komodo. Meskipun demikian, praktik pertukaran hewan sebagai alat diplomasi telah ada sejak lama, bahkan sejak zaman kuno.
Aset Diplomasi yang Bersejarah
Praktik pertukaran hewan sebagai alat diplomasi bukanlah hal baru. Di masa lalu, ratu Mesir Cleopatra pernah memberikan jerapah kepada Julius Caesar sebagai simbol kedekatan politik. Praktik ini berubah bentuk, tetapi tujuannya tetap sama: memperkuat hubungan antar-negara melalui simbol-simbol yang kuat.
Contoh paling terkenal adalah Cina yang menggunakan panda sebagai “aset” dalam diplomasi mereka. Negara lain mulai mengikuti jejak ini. Malaysia, misalnya, menggulirkan gagasan orangutan diplomacy untuk memperkuat citra negara dan menjangkau mitra internasional, terutama dalam konteks sawit dan isu lingkungan global.
Komodo memiliki potensi besar sebagai aset diplomasi karena sifatnya yang endemik, ikonik, dan memiliki nilai ekologis yang tinggi. Dalam konsep “the value of things” oleh Daan P van Uhm, nilai hewan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dibentuk secara sosial oleh manusia. Semakin langka suatu hewan, semakin tinggi nilai yang diberikan manusia kepadanya.
Risiko dalam Diplomasi Hewan
Meski sah-sah saja, diplomasi hewan juga memiliki risiko yang harus diperhatikan. Riset tinjauan literatur (literature review) pada 2024 menunjukkan bahwa diplomasi hewan tidak selalu memberi hasil positif. Selain itu, kesejahteraan hewan sering kali terabaikan.
Riset tersebut menganalisis data 140 negara yang terlibat dalam panda diplomacy antara 2004 hingga 2019. Hasilnya menunjukkan bahwa negara yang ikut program tersebut rata-rata mengalami penurunan kunjungan ke Cina sekitar 39,9 persen dibanding negara yang tidak ikut program tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ketika satwa langka hadir di negara lain, minat publik untuk berkunjung ke negara asal bisa berkurang.
Selain itu, risiko kesejahteraan hewan juga menjadi perhatian utama. Komodo adalah reptil endemik terbesar di dunia, dan populasi alaminya hanya tersisa di Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan dua hal:
Kemampuan adaptasi hewan
Hewan liar yang dipindahkan ke lingkungan baru bisa menghadapi berbagai sumber stres, seperti perbedaan pencahayaan, suara, bau, suhu, dan ruang gerak. Kualitas tempat pemeliharaan dan pola pemeliharaan harus diperhatikan secara ketat.Risiko kesehatan bagi hewan dan manusia
Hewan bisa rentan terkena penyakit saat dipindahkan ke lingkungan baru. Stres dan kondisi lingkungan yang berbeda juga dapat melemahkan daya tahan tubuh mereka. Sementara itu, hewan juga bisa membawa penyakit zoonotik yang menular ke manusia.
Pendekatan One Health
Untuk mengatasi risiko kesehatan, pendekatan one health digunakan, yaitu pendekatan yang memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan. Kerja sama dalam peminjaman atau penangkaran hewan, seperti breeding loan komodo dari Indonesia ke Jepang, harus didampingi pengawasan ketat dan pendekatan yang holistik.
Tantangan terbesar adalah memastikan semua aturan tersebut benar-benar dijalankan dengan baik di lapangan. Dengan begitu, program ini tidak hanya berdampak positif pada diplomasi, tetapi juga pada konservasi dan kesejahteraan komodo.





