Paradoks Parkir: Kampus Perlu Berani Kendalikan Emisi dengan Sistem Mobilitas



jogja.

YOGYAKARTA – Sektor transportasi dunia saat ini berada dalam kondisi kritis karena menyumbang sekitar 30 persen konsumsi energi global, di mana 90 persen dari angka tersebut masih bergantung pada bahan bakar fosil. Di tengah tantangan ini, institusi pendidikan tinggi diminta untuk tidak terjebak dalam paradoks pembangunan fasilitas yang justru memperparah krisis iklim.

Dalam Lokakarya UI GreenMetric 2026 yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Dyah Mutiarin menyoroti fenomena perluasan lahan parkir kampus yang sering kali menjadi bumerang bagi lingkungan. Menurut Arin, banyak kampus yang terjebak dalam perlombaan membangun fasilitas fisik, tetapi mengabaikan dampaknya terhadap perilaku mobilitas civitas academica.

“Kampus yang menambah lahan parkir secara tidak langsung memberi sinyal bahwa kendaraan pribadi adalah pilihan yang difasilitasi. Alih-alih menekan emisi, penambahan kantong parkir justru menjadi stimulus yang mendorong lonjakan penggunaan kendaraan pribadi secara masif,” ujar Arin.

Ia menjelaskan bahwa krisis transportasi di lingkungan pendidikan bukanlah persoalan jarak tempuh, melainkan kegagalan struktural dalam merancang sistem pergerakan yang terlalu berorientasi pada kendaraan bermotor. Merujuk pada berbagai literatur internasional, Arin memaparkan fakta bahwa kebijakan pembatasan kendaraan di area kampus memiliki dampak instan dan signifikan terhadap lingkungan. Langkah berani ini diklaim mampu menurunkan emisi transportasi antara 20 hingga 50 persen.

“Krisis transportasi bukanlah krisis jarak, melainkan krisis sistem mobilitas berbasis kendaraan pribadi,” ujar Guru Besar Ilmu Pemerintahan UMY tersebut.

Sebagai langkah konkret, dia mendorong perguruan tinggi untuk melakukan pergeseran paradigma dari penyedia ruang fisik menuju sistem pengendalian mobilitas. Dalam konsep ini, indikator kesuksesan sebuah kampus tidak lagi dilihat dari seberapa luas lahan parkir yang tersedia, melainkan dari tiga aspek utama, yaitu sejauh mana kampus mampu mengarahkan pergerakan warganya, keberhasilan dalam membatasi jejak karbon secara aktif, serta keberanian mendorong budaya berjalan kaki atau bersepeda di lingkungan kampus.

Perubahan ini, menurut Arin, menuntut keberanian institusi untuk tidak sekadar mengakomodasi keinginan pengguna kendaraan, tetapi secara sadar mengambil tanggung jawab moral demi keberlanjutan masa depan bumi.

Tantangan Transportasi di Lingkungan Pendidikan

Transportasi di lingkungan pendidikan menghadapi beberapa tantangan utama:

  • Ketergantungan pada bahan bakar fosil: Sebagian besar transportasi kampus masih menggunakan kendaraan bermotor yang memerlukan bahan bakar fosil.
  • Peningkatan jumlah kendaraan pribadi: Perluasan lahan parkir sering kali dianggap sebagai solusi, padahal justru meningkatkan penggunaan kendaraan pribadi.
  • Kurangnya kebijakan pengendalian mobilitas: Banyak kampus belum memiliki kebijakan yang efektif untuk mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas transportasi.

Solusi untuk Membangun Sistem Mobilitas Berkelanjutan

Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa solusi dapat diterapkan:

  • Menerapkan kebijakan pembatasan kendaraan: Kebijakan ini telah terbukti efektif dalam mengurangi emisi transportasi.
  • Mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan: Seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum.
  • Merancang sistem pergerakan yang inklusif: Fokus pada kebutuhan semua pengguna, bukan hanya pengguna kendaraan pribadi.

Peran Institusi Pendidikan dalam Keberlanjutan

Institusi pendidikan memiliki peran penting dalam membangun sistem transportasi yang berkelanjutan. Hal ini tidak hanya membantu mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan lingkungan kampus yang lebih sehat dan nyaman.

  • Mengedepankan inovasi dalam perencanaan: Melibatkan ahli lingkungan dan perencana kota dalam proses pengembangan kampus.
  • Meningkatkan kesadaran mahasiswa dan staf: Edukasi tentang pentingnya transportasi ramah lingkungan.
  • Membangun kolaborasi dengan pihak luar: Bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi lingkungan untuk menciptakan solusi yang lebih luas.

Kesimpulan

Sektor transportasi di lingkungan pendidikan membutuhkan perubahan drastis untuk menghadapi krisis iklim. Dengan mengubah paradigma dari penyedia ruang fisik menjadi sistem pengendalian mobilitas, institusi pendidikan dapat menjadi contoh dalam membangun keberlanjutan. Perubahan ini membutuhkan keberanian dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *