seni  

Joko Anwar ajak seniman dunia bawa teror Ghost in the Cell ke nyata

Pengalaman Seni yang Menggabungkan Horor dan Kritik Sosial

Sutradara ternama Joko Anwar kembali menghadirkan proyek seni yang menarik perhatian publik dengan pameran Macabre Art Installation yang berlangsung di Nirmana Falatehan, Jakarta Selatan. Pameran ini merupakan bagian dari promosi film terbarunya, Ghost in the Cell, yang memadukan elemen horor dengan kritik sosial. Tidak hanya sebagai sutradara, Joko juga menjadi penghubung antara dunia perfilman dan seni rupa melalui kolaborasi yang luar biasa.

Seniman Terkemuka Bergabung dalam Proyek Ini

Pameran ini menjadi panggung bagi para “pahlawan di balik layar” yang selama ini bekerja keras untuk menciptakan visual mencekam dalam film-film Joko Anwar. Nama-nama besar seperti Kang Benos, Rudy AO, dan Anwita Citria turut serta dalam proyek ini. Mereka dikenal sebagai ilustrator terbaik Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan internasional.

“Ketiga orang ini adalah ilustrator terbaik Indonesia dan karyanya sudah dikenal tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia,” ujar Joko saat memperkenalkan para seniman tersebut di acara pembukaan pameran.

Selain ilustrator, Joko juga melibatkan Novie, seorang seniman makeup efek khusus yang bertanggung jawab atas detail “luka” yang tampak nyata. Ia bercanda bahwa Novie mampu menciptakan luka yang terlihat nyata karena hatinya penuh dengan rasa seni yang mendalam.

Tim Kreatif yang Lengkap

Di sisi desain musik, Aghi Naratama berperan penting dalam menciptakan atmosfer yang sesuai dengan tema film. Sementara itu, Denis Sutanto bertindak sebagai Art Director yang merancang estetika pameran secara keseluruhan. Kolaborasi ini menunjukkan betapa komprehensifnya proses penciptaan karya seni yang terjadi di balik layar.

Misi Lintas Profesi

Bagi Joko Anwar, kolaborasi dalam pameran Ghost in the Cell bukan sekadar strategi promosi film. Ia ingin menunjukkan bahwa industri kreatif Indonesia memiliki banyak talenta hebat yang sering kali luput dari perhatian publik.

“Kami ingin menjadikan proyek ini lintas profesi. Indonesia sangat kaya akan talenta luar biasa yang sering kali tidak tersorot karena kita terlalu banyak isu yang membuat kepala meledak setiap hari. Di antara kekacauan itu ada harapan, dan harapan itu muncul dari orang-orang pekerja keras ini,” ujarnya.

Dari Set Film ke Galeri Seni

Instalasi yang dipamerkan, seperti The Fan hingga Lady Justice, merupakan properti asli dari set film yang telah diubah (rework) untuk kebutuhan galeri. Dengan membuang elemen-elemen lainnya dan hanya menyisakan objek utama, pengunjung diajak untuk melihat lebih dekat detail material dan bentuk yang menjadi bagian dari storytelling.

“Setiap keputusan untuk membuat bentuk dan pemilihan material ini adalah bagian dari cara kami bersuara. Kami membawa patungnya saja ke sini supaya orang betul-betul bisa melihat detailnya secara dekat,” tambah Joko.

Gratis dan Terbuka untuk Umum

Pameran yang menggabungkan elemen horor, kritik sosial, dan seni rupa tingkat tinggi ini akan berlangsung hingga 22 Mei 2026. Masyarakat dapat menikmati karya para maestro ilustrator Indonesia ini secara gratis.

Melalui kolaborasi ini, Joko Anwar berharap audiens tidak hanya sekadar menonton film, tetapi juga mengapresiasi kedalaman proses artistik dan dedikasi para seniman Indonesia yang telah membawa nama bangsa ke panggung dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *