Pameran Tunggal Harry Suliztiarto di Galeri Soemardja ITB
Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pameran tunggal perdana seniman Harry Suliztiarto dengan tema Berpihak pada Luka. Pameran ini berlangsung dari 13 Mei hingga 13 Juni 2026, menampilkan karya-karya patung yang menjadi ciri khas dari seniman kelahiran Surabaya, 6 Juni 1955. Harry, yang lulus dari jurusan seni rupa ITB pada 1986, memiliki latar belakang pendidikan yang memengaruhi gaya karyanya. Selain itu, hobinya memanjat tebing sejak kecil juga turut memengaruhi proses kreatifnya.
Sebelum masuk ke ruang pameran utama, pengunjung dapat berinteraksi dengan karya instalasi berjudul “Suluk Satus Bandeman” yang ditempatkan di halaman depan galeri. Karya ini terdiri dari sepuluh siluet orang setengah badan dalam dua baris dari bahan seng. Pengunjung bisa melempari target tersebut dengan 100 mur yang telah disiapkan dalam kotak. Bunyi benturan logam yang terdengar berulang kali menciptakan suasana yang kontras dengan ketenangan lingkungan sekitarnya.
Di balik cat hijau melon yang menghiasi karya tersebut, Harry menyampaikan pesan tentang situasi mencekam yang sering dialami manusia. “Itu seperti orang dirajam,” ujarnya saat pembukaan pameran, Rabu 13 Mei 2026.
Kegaduhan dan interaksi fisik terus berlanjut di ruang pameran. Pengunjung bisa menarik tali pada karya “Suluk Manunggal” sekuat tenaga, lalu melepaskannya sehingga papan yang terangkat jatuh terhempas menghantam papan dasar. Begitu pula pada karya “Luk Uluk Regol Kidul Isih Digembok”, di mana tarikan balok kayunya dilepaskan untuk menubruk papan kayu yang dipasangi kerincingan.

Pameran tunggal bertajuk Berpihak pada Luka ini berlangsung selama satu bulan penuh di Galeri Soemardja, ITB, Jawa Barat. Dalam beberapa karya, Harry menggunakan bunyi keras dari patungnya untuk menyuarakan soal luka yang dialami manusia dalam hubungannya dengan sesama, alam, dan lingkungan, serta Tuhan. “Suara itu supaya situasinya menjadi komplet,” kata Harry. Sementara karya lain seperti “Lisung Lumengis” tergantung dalam diam, memberikan ruang bagi pengunjung untuk merenung.
Unsur gerak pada kekaryaan patung Harry jelas menonjol, seperti pada karya “Suluk Taji” atau “Happily Ever After Basket” yang menggunakan tiga tandu besi bekas pengangkut korban dan jenazah. Meskipun demikian, ia menepis sangkaan bahwa patungnya termasuk karya kinetik. Tanpa harus berpihak, seperti pada korban atau manusia terluka, ia menggambarkan sisi gelap manusia yang bisa seketika keluar.
Harry pernah membuat heboh saat mengikuti pameran seni rupa seniman muda Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 6 Desember 1979. Saat itu, ia membuat patung sosok diri dari ram kawat kandang ayam lalu dilapis baju. Untuk membuatnya lebih mengejutkan, patung itu secara diam-diam sewaktu malam dipasang di puncak kubah planetarium. Tepatnya di tombak penangkal petir.
Misi rahasia ini dibantu oleh kawannya, Agoes Resmonohadi, yang memiliki keahlian memanjat. Mereka harus hati-hati berpegangan pada kawat penangkal petir di atas kubah agar tidak terlepas dan jatuh. Sebelumnya mereka telah mengamati pola patroli petugas keamanan di lokasi agar tidak tertangkap. Saat hari terang dan terlihat banyak orang, patung karya Kelompok Dua dari Seni Rupa ITB itu bikin geger hingga harus diturunkan oleh petugas yang memanjat setelah gagal memakai tangga panjang mobil pemadam kebakaran.
Sebelum ketahuan, Harry dan kawannya kabur pakai taksi agar peralatan memanjatnya tidak disita. Selain panitia diinterogasi polisi, seniman Hardi yang malah ditangkap dan ditahan karena dianggap makar. Karyanya berupa gambar sablon wajah diri berpakaian militer dengan judul Presiden RI TH 2001 Suhardi. “Yang jadi berita Hardi bukan saya,” kata Harry.
Harry menjadi seniman pertama dari rencana pengelola Galeri Soemardja yang menginisiasi pameran tahunan karya alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Selama 37 tahun, Harry mengaku tidak berkarya melainkan berkegiatan lain untuk mencari uang. Setelah lulus kuliah, ia hengkang dari dunia seni sambil menekuni hobinya memanjat tebing dan mendirikan Federasi Panjat Tebing Indonesia pada 1988. Selain itu, sejak mahasiswa ia telah membuat sekolah panjat tebing Skygers pada 1976. “Bikin sekolah itu karena kesepian supaya banyak teman,” ujarnya.
Kiprah lainnya seperti membentuk Asosiasi Pekerja Ketinggian pada 2007, serta melatih pasukan khusus Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dan Angkatan Laut mengatasi medan terjal pada 1983. Ketika punya waktu luang, ia membuat sketsa karya dan mulai membuat patung lagi pada 2016.
Tim kurator yang terdiri dari Danuh Tyas, Hazim M. Zarkasyi Hakim, dan Samuel Theodorus Kurniawan, dalam tulisannya menyatakan kekaryaan Harry membangkitkan imajinasi tentang manusia yang terluka sekaligus juga bisa melukai orang lain, atau alam dan lingkungan sekitar. Di titik inilah karya Harry bisa menawarkan ruang refleksi bagi manusia untuk memaknai luka.






