Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun: Wafatnya Prof. Dr. dr. H. Muh. Syafar Abdullah, MS, Tokoh Kharismatik Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan
Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) dan Gerakan Pemuda Ansor di Sulawesi Selatan. Prof. Dr. dr. H. Muh. Syafar Abdullah, MS, seorang tokoh yang sangat dihormati dan mantan Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan, telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu pagi, 10 Juni 2026, setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Berita wafatnya Prof. Syafar Abdullah, demikian beliau akrab disapa, menyebar cepat di kalangan sahabat dan kader Ansor pada pagi hari, sesaat setelah pelaksanaan salat Subuh. Suasana haru dan kehilangan seketika terasa, meresap ke dalam hati setiap insan yang mengenal sosoknya. Beliau disemayamkan di rumah duka yang beralamat di BTN Citra Tello Permai Blok A2 No 4, Makassar, sebelum akhirnya dikebumikan, meninggalkan jejak pengabdian yang tak terhapuskan.
Salah satu yang turut merasakan kehilangan mendalam adalah Drs. H. Makmur Idrus, yang memiliki ikatan erat dengan almarhum. Makmur Idrus pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Makassar dan juga pernah menduduki posisi Sekretaris PW GP Ansor Sulawesi Selatan. Ia mengenang Prof. Syafar Abdullah sebagai sosok pemimpin yang memiliki karakter luar biasa.
Sosok Pemimpin yang Meneladani: Ketenangan, Kesabaran, dan Kesederhanaan
Menurut penuturan Makmur Idrus, almarhum adalah pribadi yang tenang, sabar, dan sangat sederhana dalam setiap tindakannya. Di tengah dinamika organisasi yang terkadang penuh tantangan, Prof. Syafar Abdullah dikenal sebagai figur yang tidak banyak bicara, namun selalu memberikan teladan nyata melalui sikap dan pengabdiannya yang tulus.
“Beliau adalah pribadi yang sangat baik. Saya bersaksi atas kebaikan beliau. Orangnya tenang, sabar, tidak banyak neko-neko, dan selalu mengedepankan persaudaraan serta kebersamaan dalam organisasi,” ungkap Makmur Idrus dengan nada penuh kekaguman.
Pengakuan ini bukan sekadar pujian kosong, melainkan cerminan dari bagaimana Prof. Syafar Abdullah menjalani hidup dan memimpin organisasinya. Ia tidak pernah mencari sorotan atau pujian, namun fokus pada kerja nyata dan membangun relasi yang kuat antar sesama kader.
Perhatian Tak Pernah Surut untuk Organisasi Tercinta
Komunikasi terakhir Makmur Idrus dengan almarhum terjadi sebelum Prof. Syafar Abdullah menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam setiap percakapan yang terjalin, topik utama yang selalu diangkat oleh almarhum tidak pernah jauh dari perkembangan organisasi yang telah ia dedikasikan sebagian besar hidupnya.
“Setiap kali beliau menelepon, pertanyaan pertama yang selalu disampaikan adalah bagaimana perkembangan Ansor dan NU. Itu menunjukkan bahwa sampai akhir hayatnya, perhatian beliau terhadap organisasi tidak pernah surut,” kenang Makmur Idrus, dengan mata yang berkaca-kaca.
Perhatian yang tak pernah padam ini menjadi bukti nyata betapa besar kecintaan dan dedikasi Prof. Syafar Abdullah terhadap Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama. Ia melihat organisasi ini bukan hanya sebagai wadah kegiatan, melainkan sebagai rumah besar yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.
Perjuangan Bersama dalam Membesarkan Organisasi
Hubungan antara Makmur Idrus dan Prof. Syafar Abdullah terjalin erat sejak lama, dibangun di atas fondasi aktivitas kaderisasi dan perjuangan dalam ranah organisasi. Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan Makmur Idrus adalah saat pelaksanaan Kongres XI Gerakan Pemuda Ansor yang diselenggarakan di Palembang.
Pada momen krusial tersebut, mereka berdua bahu-membahu, bekerja keras, dan berhasil mengantarkan Drh. Iqbal Assegaf terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda Ansor. Perjuangan bersama ini tidak hanya mengukuhkan ikatan persaudaraan mereka, tetapi juga menjadi saksi bisu kontribusi mereka dalam memajukan organisasi di tingkat nasional.
Warisan yang Tak Ternilai: Guru, Sahabat, dan Panutan
Bagi seluruh kader Gerakan Pemuda Ansor di Sulawesi Selatan, Prof. Syafar Abdullah bukan sekadar mantan ketua wilayah. Beliau adalah sosok guru yang bijaksana, sahabat yang setia, dan panutan yang selalu memberikan inspirasi. Kontribusinya dalam penguatan kaderisasi dan pengembangan organisasi di wilayah tersebut sangatlah besar dan patut diapresiasi.
Ia telah menanamkan nilai-nilai luhur, mengajarkan pentingnya keikhlasan dalam berorganisasi, dan memberikan contoh nyata bagaimana memimpin dengan integritas. Jejak langkahnya akan terus dikenang dan menjadi pedoman bagi generasi penerus Ansor di Sulawesi Selatan.
Doa dan Harapan untuk Sang Tokoh
Kepergian Prof. Dr. dr. H. Muh. Syafar Abdullah, MS, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, para sahabat, civitas akademika, serta seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama dan Gerakan Pemuda Ansor. Namun, di tengah kesedihan ini, semangat dan nilai-nilai yang telah beliau tanamkan akan terus hidup dan berkembang.
“Selamat jalan sahabat dan senior kami, Prof. Dr. dr. H. Muh. Syafar Abdullah, MS. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamin,” demikian doa tulus yang diucapkan oleh Makmur Idrus, mewakili perasaan banyak orang yang kehilangan.
Warisan pengabdian, keteladanan, dan dedikasinya yang tulus akan terus menjadi sumber inspirasi dan semangat bagi seluruh kader Ansor dan NU, memastikan bahwa perjuangan yang telah beliau rintis akan terus berlanjut.





