Kebakaran Dapur Hotel Truntum Padang, Asap Tebal Picu Kepanikan Tamu
Sebuah insiden kebakaran terjadi di dapur Hotel Truntum Padang pada Selasa malam, memicu kepanikan di kalangan tamu hotel. Api dilaporkan mulai menjalar di area dapur yang terletak di lantai dasar, satu lantai dengan restoran hotel. Meskipun berhasil dipadamkan sebelum meluas, kepulan asap putih yang memenuhi ruangan sempat membuat penghuni hotel berhamburan keluar.
Kejadian ini bermula sekitar pukul 19.10 WIB, ketika petugas pemadam kebakaran menerima laporan adanya kebakaran. Berdasarkan pantauan di lokasi, asap putih masih terlihat memenuhi area dapur meskipun api telah berhasil dijinakkan. Lantai dapur tampak basah akibat proses pemadaman, dan beberapa alat pemadam api ringan (APAR) terlihat berserakan di sekitar lokasi. Bagian dapur juga tampak berantakan, dengan beberapa kabel listrik yang hangus.
Sebanyak 60 personel dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang dikerahkan ke lokasi, bersama dengan dua unit armada pemadam. Petugas bekerja keras untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang tersisa di hotel yang berlokasi di Jalan Gereja No. 34, Kelurahan Belakang Tangsi, Kecamatan Padang Barat. Selain petugas pemadam, personel kepolisian dan petugas PLN juga terlihat di lokasi untuk melakukan pemeriksaan.
Kepala Seksi Operasional Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang, Sutopo, menjelaskan bahwa sumber api diduga berasal dari bagian exhaust fan atau cooker hood yang berfungsi menyedot asap dapur. “Yang terbakar itu bagian dapur, tepatnya pada bagian exhaust fan,” ujar Sutopo di lokasi kejadian. Namun, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.
Proses pemadaman berlangsung selama kurang lebih satu jam. Petugas sempat menunggu beberapa saat karena pihak hotel telah melakukan upaya pemadaman awal menggunakan APAR. “Pemadaman berlangsung sekitar satu jam. Tadi kami juga sempat menunggu karena pihak hotel menyampaikan sedang melakukan pemadaman mandiri menggunakan APAR,” jelas Sutopo.
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, insiden tersebut sempat menimbulkan kepanikan di kalangan tamu hotel akibat tebalnya asap yang mengepul. Rio, salah seorang tamu hotel yang sedang mengikuti pelatihan Sensus Ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang, menceritakan pengalamannya. Ia mendengar suara seperti ledakan dari lantai bawah sebelum alarm kebakaran berbunyi. “Setelah bunyi ledakan itu, alarm kebakaran pun berbunyi, saya dan tamu lainnya langsung lari ke luar dan ke bawah dengan wajah panik, karena saya posisinya saat itu di lantai 3,” tuturnya.
Setelah berhasil keluar, Rio melihat kepulan asap tebal dari arah dapur. Karena tidak sempat membawa barang berharga, ia memberanikan diri kembali ke kamar di tengah kepulan asap untuk mengambil barang-barang penting. Ia kemudian kembali turun dan menunggu di taman depan lobi hotel, sambil menyaksikan petugas hotel berusaha memadamkan api. Sekitar pukul 20.00 WIB, petugas pemadam kebakaran tiba dan membantu memadamkan api sepenuhnya.
Pihak manajemen Hotel Truntum Padang yang berada di lokasi kejadian enggan memberikan keterangan resmi terkait dampak kebakaran tersebut, meskipun telah diupayakan konfirmasi oleh awak media. Petugas pemadam kebakaran meninggalkan lokasi sekitar pukul 21.10 WIB setelah memastikan kondisi benar-benar aman.
Pelemahan Rupiah Mulai Pengaruhi Harga Bahan Pokok, Kenaikan Masih Fluktuatif
Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai terasa pada harga sejumlah bahan pokok di Kota Padang. Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Fizlan Setiawan, mengakui adanya pengaruh tersebut, namun menegaskan bahwa kenaikan harga yang terjadi masih dalam kategori fluktuatif dan belum berdampak signifikan terhadap stabilitas harga kebutuhan masyarakat secara umum.
Saat ini, nilai tukar rupiah terpantau berada di kisaran Rp18.074 per dolar AS. Fizlan Setiawan menjelaskan bahwa meskipun ada dampaknya, kenaikan harga beberapa komoditas masih bersifat fluktuatif di pasaran. “Dampaknya ada, tetapi kenaikan harga masih fluktuatif di pasaran,” ujarnya.
Beberapa komoditas yang dilaporkan mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir antara lain cabai, bawang, dan daging. Namun, Fizlan menekankan bahwa kenaikan tersebut masih berada dalam batas harga yang dianggap wajar dan belum menimbulkan lonjakan yang berlebihan. Ia mencontohkan, harga suatu komoditas yang hari ini berada di angka Rp45.000 per kilogram dapat naik menjadi Rp47.000 per kilogram pada hari berikutnya, yang masih tergolong fluktuasi harga lazim di pasaran.
Untuk menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi di Kota Padang, Dinas Perdagangan terus melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap perkembangan harga bahan pokok. Pemerintah Kota Padang juga telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, termasuk memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam distribusi kebutuhan pokok, seperti distributor yang memasok barang ke Pasar Raya Padang dan pasar-pasar lainnya.
Lebih lanjut, Fizlan menyatakan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan langkah lanjutan apabila terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali. “Jika terjadi kenaikan yang sangat signifikan dan harga tidak bisa dikendalikan, maka kami akan melakukan operasi pasar dan pasar murah,” tegasnya.
Harga MinyaKita Meroket di Pasar Pagi Lubuk Lintah, Pedagang Keluhkan Kenaikan Modal
Harga minyak goreng merek MinyaKita mengalami kenaikan yang cukup signifikan di Pasar Pagi Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Sejak dua minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, harga MinyaKita per liter dilaporkan mencapai Rp18.000. Kenaikan ini terasa memberatkan pedagang karena modal pembelian stok juga ikut meningkat.
Sebelumnya, harga MinyaKita masih berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.500 per liter. Namun, saat ini rata-rata penjualan mencapai Rp18.000 per liter. Untuk kemasan 2 liter, harga MinyaKita dijual dengan Rp36.000.
Deri, seorang pedagang di Pasar Pagi Lubuk Lintah, mengakui bahwa ia menjual MinyaKita pada rentang harga Rp17.000 hingga Rp18.000 per liter, dengan seringnya harga mencapai Rp18.000. “Saya menjualnya pada rentang harga itu, tapi sering Rp18.000 per liter, karena harga modal juga naik,” ucapnya. Ia mendapatkan stok MinyaKita dari para sales yang mendistribusikan menggunakan mobil.
Senada, pedagang lain bernama Wulan juga melaporkan harga yang sama di lapaknya, yaitu Rp17.000 hingga Rp18.000 per liter. Ia menambahkan bahwa banyak pedagang yang tidak lagi menjual MinyaKita dengan harga Rp16.000 per liter. Untuk satu kardus berisi 12 biji, harga jualnya mencapai Rp210.000.
Kenaikan harga ini juga dirasakan oleh pembeli. Fauzan, seorang pembeli, menyatakan bahwa harga minyak goreng merek MinyaKita sudah naik setelah Idul Adha 2026. Harga per kardus yang sebelumnya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp205.000, kini mencapai Rp210.000. Kenaikan ini terasa signifikan dibandingkan sebelum Idul Fitri 2026, di mana ia pernah membeli dengan harga di bawah Rp200.000 per kardus.
Para pedagang mengeluhkan bahwa kenaikan harga MinyaKita ini tidak hanya terjadi di lapak mereka, tetapi juga terjadi baik saat mengambil stok dari sales maupun membeli di lokasi lain sejak Maret 2026. Kondisi ini menimbulkan kesulitan dalam menjaga margin keuntungan di tengah tingginya biaya operasional.
Harga Beras di Padang Tetap Stabil Meski Rupiah Melemah
Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah hingga menembus angka Rp18.078 per dolar AS, harga beras di Kota Padang hingga saat ini dilaporkan masih bertahan stabil. Kondisi ini memberikan sedikit kelegaan bagi masyarakat di tengah kekhawatiran akan kenaikan harga barang-barang akibat pelemahan mata uang nasional.
Melemahnya rupiah memang dilaporkan berdampak pada sejumlah pengusaha atau pedagang yang menjual barang impor. Di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, berbagai keluhan muncul dari pedagang, mulai dari harga plastik, minyak goreng, suku cadang kendaraan, hingga pengusaha tahu yang terbebani oleh melambungnya harga kedelai.
Namun, untuk harga beras, dampaknya belum terasa signifikan. Sebagian pupuk, pestisida, bahan kimia pertanian, suku cadang mesin pertanian, dan bahan bakar memang memiliki keterkaitan dengan komponen impor, yang seharusnya dapat memicu kenaikan harga beras. Akan tetapi, hingga Juni 2026, efek tersebut belum dirasakan oleh pedagang maupun konsumen.
Deri, seorang pedagang di Pasar Pagi Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, memastikan bahwa harga beras di lapaknya masih stabil. “Untuk harga beras masih normal, tidak ada kenaikan sampai bulan ini,” katanya. Ia merinci harga beras Bulog dipatok Rp63.000 per lima kilogram, sedangkan beras merek 42 asal Kota Padang dijual Rp150.000 per 10 kilogram. Beras sokan dari Solok, yang lebih mahal, dijual Rp180.000 per 10 kilogram.
Menurut Deri, beras Bulog menjadi pilihan utama masyarakat karena harganya yang terjangkau, meskipun kualitasnya diakui di bawah beras merek lain seperti 42 atau Sokan. “Lebih laris Bulog, harganya murah, tapi kualitasnya memang di bawah beras merek lain,” pungkasnya.
Pembeli bernama Fauzan juga membenarkan stabilitas harga beras. Ia menyebutkan bahwa harga beras Kuriak Kusuik, salah satu varietas beras premium dari Minangkabau yang memiliki aroma harum dan tekstur pulen, masih sama seperti dulu, yaitu Rp180.000 per 10 kilogram. Beras jenis ini sering digunakan di warung-warung makan, termasuk di tempat Fauzan bekerja. Kualitasnya yang lembut dan tidak lengket membuatnya menjadi pilihan favorit.






