BERITA  

Nugget Lele Unnes: Solusi Stunting Semarang

Inovasi Nugget Lele: Solusi Bergizi untuk Atasi Stunting di Semarang

Upaya penanganan masalah stunting, sebuah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, seringkali diasosiasikan dengan program bantuan pangan yang mahal dan kompleks. Namun, sebuah terobosan inovatif kini tengah dikembangkan oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mereka tengah menguji efektivitas nugget lele berprotein tinggi sebagai alternatif pangan bergizi yang terjangkau dan mudah diakses untuk anak-anak usia di bawah tiga tahun (batita) di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.

Pemilihan Kelurahan Kuningan sebagai lokasi penelitian bukanlah tanpa alasan. Ketua tim riset, Dr. Sus Widayani, mengungkapkan bahwa kelurahan ini merupakan salah satu wilayah di Kota Semarang yang masih memiliki angka stunting yang cukup tinggi. “Kami memilih Kelurahan Kuningan karena data menunjukkan angka stunting di sana masih tinggi. Kami berharap, melalui penelitian ini, masyarakat akan semakin memahami betapa pentingnya memberikan makanan kaya protein untuk tumbuh kembang anak,” jelas Dr. Sus Widayani.

Penelitian yang diangkat dengan judul “Efikasi, Preferensi, dan Peluang Ekonomi Perbaikan Gizi Nugget Lele Berprotein Tinggi untuk Anak Batita Stunting di Wilayah Rawan Gizi Semarang” ini merupakan inisiatif yang didanai oleh Unnes. Tim peneliti terdiri dari para akademisi berpengalaman, yaitu Dr. Sus Widayani, M.Si., Prof. Dr. P. Eko Prasetyo, S.E., M.Si., Ir. Bambang Triatma, M.Si., dan Dr. Lili Marliyah, M.P., yang turut didukung oleh sejumlah mahasiswa sebagai anggota tim.

Dari Lele Goreng ke Nugget Lele: Perjalanan Inovasi Pangan

Kisah di balik pengembangan produk olahan lele ini berawal dari pengamatan tim peneliti sejak tahun 2012. Tim menyadari bahwa anak-anak sebenarnya menyukai ikan lele, namun mereka cenderung cepat bosan jika lele hanya disajikan dalam bentuk olahan tradisional seperti lele goreng. Dari sinilah, muncul gagasan untuk mengembangkan berbagai varian produk olahan lele yang lebih menarik bagi anak-anak.

Berbagai produk telah dicoba, mulai dari sosis lele, lele krispi, hingga akhirnya berfokus pada nugget lele. Setelah melalui serangkaian uji coba dan evaluasi, nugget lele terbukti menjadi produk yang paling disukai oleh anak-anak dan memiliki potensi besar untuk diterima oleh masyarakat luas.

“Nugget lele ini telah dipatenkan dan kami pastikan kandungan proteinnya sangat tinggi. Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa bahan pangan yang relatif murah dan mudah didapatkan seperti lele, ternyata dapat menjadi sumber gizi yang sangat baik untuk anak-anak,” ujar Dr. Sus Widayani.

Uji Klinis Nugget Lele: Pendekatan Bertahap untuk Mengatasi Stunting

Dalam tahapan penelitian kali ini, tim peneliti akan mendistribusikan nugget lele kepada sekitar 30 hingga 35 anak batita yang teridentifikasi stunting di Kelurahan Kuningan. Pemberian nutrisi tambahan ini akan berlangsung selama satu bulan.

Nugget lele diproduksi secara higienis di laboratorium kampus Unnes dalam kondisi beku (frozen) sebelum didistribusikan kepada para kader kesehatan di Kelurahan Kuningan. Para kader ini kemudian akan berperan penting dalam mendistribusikan nugget kepada anak-anak yang menjadi sasaran penelitian.

Setiap anak dalam program ini dianjurkan untuk mengonsumsi sekitar 100 gram nugget lele per hari. Pemberian dilakukan secara bertahap dengan pemantauan ketat untuk mengukur pengaruhnya terhadap status gizi anak. Pendekatan bertahap ini penting untuk memastikan bahwa penyerapan nutrisi optimal dan efek samping dapat terdeteksi sejak dini.

Potensi Gizi Ikan Lele: Sumber Protein Terjangkau

Kandungan gizi ikan lele memang patut diperhitungkan. Berdasarkan paparan tim peneliti, ikan lele memiliki profil nutrisi yang kaya dan berpotensi menjadi sumber protein yang sangat terjangkau bagi keluarga di Indonesia.

Dalam setiap 100 gram daging ikan lele, terkandung sekitar 18-20 gram protein. Selain itu, lele juga kaya akan asam lemak esensial, dengan 237 miligram omega-3 dan 337 miligram omega-6. Kandungan vitamin dan mineralnya pun tak kalah mengesankan: lele menyediakan 121 persen Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk vitamin B12, 24 persen AKG untuk fosfor, dan 19 persen AKG untuk kalium. Angka-angka ini menunjukkan bahwa lele adalah sumber nutrisi yang komprehensif.

Dr. Sus Widayani menekankan bahwa penelitian ini tidak hanya berfokus pada pengukuran peningkatan status gizi, tetapi juga pada tingkat penerimaan anak terhadap produk nugget lele. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas program di masa depan.

Peran Kesadaran Masyarakat dan Kolaborasi Lokal

Keberhasilan penanganan stunting, menurut tim peneliti, tidak hanya bergantung pada program bantuan pemerintah, melainkan juga pada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi anak sejak dini. “Yang ingin kami dorong adalah kesadaran bahwa bahan pangan lokal seperti lele dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan status gizi anak. Jika masyarakat memiliki kesadaran gizi yang baik, maka pencegahan stunting dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Dr. Sus Widayani.

Dalam kesempatan yang sama, Lurah Kuningan, Andi Widjanarko, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. Ia mengakui bahwa Kelurahan Kuningan memang masuk dalam tiga besar wilayah dengan angka stunting tertinggi di Kota Semarang. Data dari puskesmas menunjukkan terdapat sekitar 40 anak stunting di wilayahnya, menjadikannya salah satu daerah paling terdampak di Semarang Utara.

“Pemerintah telah berupaya melakukan berbagai intervensi, termasuk pemberian makanan tambahan dan pendampingan keluarga. Namun, kami menghadapi kendala di lapangan, misalnya kami tidak selalu tahu pasti apakah bantuan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh anak sasaran atau justru oleh anggota keluarga lain. Ini menjadi tantangan tersendiri,” ungkap Andi Widjanarko.

Oleh karena itu, pihak kelurahan menyambut baik inisiatif dari Unnes. Kolaborasi ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melakukan penelitian berbasis data konkret untuk mencari solusi penanganan stunting yang lebih efektif dan terukur. Diharapkan, inovasi nugget lele ini dapat menjadi salah satu solusi nyata dalam memerangi stunting dan meningkatkan kualitas gizi anak-anak di Kelurahan Kuningan serta wilayah lain yang membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *