travel  

Jepara: Surga Wisata Alam Sejuta Keajaiban

Desa Tempur: Permata Tersembunyi Jepara di Puncak Pegunungan Muria

Kabupaten Jepara, yang terkenal dengan keindahan bahari Karimunjawa, ternyata menyimpan surga wisata lain yang tak kalah memukau. Bernama Desa Wisata Tempur, destinasi ini menawarkan pengalaman super lengkap, memadukan kekayaan alam, warisan sejarah, kebudayaan leluhur, hingga kelezatan kuliner lokal. Terletak di kawah lereng Pegunungan Muria, desa tertinggi di Jepara ini menjulang di ketinggian 800 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sebuah permata tersembunyi yang menjanjikan.

Desa Tempur membentang di area seluas 904,672 hektare, dengan mayoritas lahannya dimanfaatkan untuk pertanian. Sektor pertanian kopi menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Tempur, dengan luas lahan mencapai 352 hektare, disusul dengan sawah, jagung, ketela, dan komoditas pertanian lainnya. Permukiman masyarakat hanya menempati sekitar 80 hektare, tersebar di enam dukuh, enam RW, dan 25 RT, dengan total populasi mencapai 3.642 jiwa. Keunikan desa ini bukan hanya pada lanskapnya, tetapi juga pada setiap sudutnya yang menawarkan keindahan, penyembuhan, dan kenangan tak terlupakan.

Pesona Alam Desa Tempur: Negeri di Atas Awan

Julukan “negeri di atas awan” sangat pantas disematkan pada Desa Tempur, mengingat lokasinya yang sangat tinggi. Keindahan alamnya menjadi daya tarik utama, dengan berbagai spot foto yang memanjakan mata. Pengunjung akan disambut dengan penanda “Selamat Datang Wisata Tempur” dan jembatan warna-warni yang ikonik.

Lebih jauh lagi, wisatawan dapat menikmati pemandangan latar belakang sawah yang hijau membentang, gemericik air sungai yang menenangkan, rimbunnya hutan, serta suasana perkampungan yang asri. Bagi para pencari foto dengan latar belakang yang spektakuler, puncak Gunung Muria menjadi spot favorit yang bisa dinikmati secara gratis.

Salah satu lokasi yang paling menonjol adalah Bejagan, yang terletak di Bukit Bejagan, Dukuh Duplak. Dari sini, pengunjung dapat menikmati pemandangan perbukitan dengan hamparan pepohonan rimbun yang subur, seolah menjadi gardu pandang alami yang tak ternilai harganya. Keasrian pegunungan yang mengelilingi Desa Tempur akan memanjakan setiap pasang mata yang memandang.

Tidak berhenti di situ, Dukuh Petung kini juga menawarkan spot foto baru yang tak kalah menarik, menampilkan panorama alam persawahan dan sungai yang memukau, lengkap dengan pemandangan Puncak 29. Spot foto baru lainnya yang patut dikunjungi adalah Kaldera Muria, yang menyuguhkan pemandangan indah berlatar belakang perkampungan Desa Tempur dan lekuk-lekuk pegunungan Muria yang mempesona.

Bagi yang ingin merasakan petualangan lebih, Desa Tempur menyediakan berbagai fasilitas wisata alam lainnya:
* Jeep Wisata: Menawarkan perjalanan selama 1 jam untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata di desa ini.
* River Tubing Kali Tempur: Memberikan pengalaman menyusuri sungai selama 1 jam.
* Trekking Puncak 29: Sebuah tantangan mendaki yang dilengkapi dengan empat pos pendakian.

Selain itu, Camping Ground Kopi Tempur di Dukuh Glagah menjadi pilihan menarik bagi para pecinta alam yang ingin berkemah. Fasilitas di sini meliputi penyewaan tenda, spot foto kedai kopi, pusat oleh-oleh, dan suasana sungai pegunungan yang menyejukkan. Tempat ini bahkan telah menarik minat wisatawan dari berbagai kabupaten/kota seperti Demak, Rembang, Kudus, dan Pati, bahkan pernah dikunjungi wisatawan mancanegara setelah berlibur di Karimunjawa.

Kekayaan Budaya dan Kearifan Lokal Desa Tempur

Desa Tempur tidak hanya kaya akan keindahan alam, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang terjadwal dan menjadi daya tarik wisata tersendiri. Tiga tradisi budaya utama yang menjadi sorotan adalah:

  1. Sedekah Bumi: Tradisi masyarakat pegunungan ini dilaksanakan setiap Jumat Wage pada bulan apit atau Dzulqa’dah. Perayaan ini berlangsung meriah selama tiga hari tiga malam, meliputi istighosah, pengajian akbar, kirab budaya manganan di semua punden dan petilasan, pentas seni hiburan tayub, dan ditutup dengan pentas ketoprak. Ciri khas unik dari sedekah bumi di Desa Tempur adalah “Pragat Kerbau”, yaitu penyembelihan kerbau sebagai ritual adat sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan keberkahan yang diterima selama satu tahun terakhir.
  2. Wiwit Kopi: Sebuah tradisi panen raya kopi serentak yang dilakukan bersama-sama. Biasanya dilaksanakan setiap bulan Agustus saat musim panen kopi, diawali dengan doa bersama sebelum proses panen dimulai.
  3. Kirab Tumpeng: Tradisi ini dilaksanakan saat Lebaran Kupat atau hari ke-8 Syawal. Berbeda dengan tradisi Syawalan di daerah lain seperti Lomban di Jepara bagian pesisir, di Desa Tempur, kirab tumpeng dilaksanakan di Dukuh Duplak. Keunikannya terletak pada hanya dibuat satu tumpeng yang kemudian didoakan dan dimakan bersama sebagai bentuk selamatan.

Sekretaris Desa Tempur, Mahfud Aly, menjelaskan bahwa ketiga tradisi ini menjadi daya tarik wisata yang penting, seringkali dihadiri oleh masyarakat dari luar Desa Tempur. Ke depannya, ada rencana untuk menata dan mengembangkan tradisi ini agar lebih menarik lagi.

Jejak Sejarah dan Toleransi di Lereng Muria

Desa Tempur juga menjadi rumah bagi warisan sejarah yang berharga dan simbol toleransi yang kuat.

Wisata Peninggalan Sejarah

Di Dukuh Duplak, bagian paling atas desa, terdapat tiga ikon candi yang berdiri dalam satu lokasi: Candi Angin, Candi Bubrah, dan Candi Asuh. Keberadaan situs percandian purbakala ini memberikan gambaran tentang masa lalu yang kaya di kawasan tersebut.

Selain itu, terdapat tiga petilasan yang juga menjadi jujukan wisata religi dan sejarah:
* Petilasan Mbah Romban di Dukuh Petung.
* Petilasan Sumur Batu di Dukuh Duplak.
* Petilasan Eyang Parikanan di Dukuh Pekosa.

Tiga punden yang masih aktif dikunjungi masyarakat sekitar dan pengunjung dari luar desa juga menambah nilai spiritual dan historis Desa Tempur:
* Punden Mbah Jenggot di Dukuh Kemiren.
* Punden Kamunoyoso di Dukuh Pekosa.
* Punden Mbah Robyong di Dukuh Duplak.

Punden dan petilasan ini masih menjadi bagian penting dari kepercayaan masyarakat, yang dikunjungi untuk ritual selamatan, sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Kampung Toleransi

Dukuh Pekosa di Desa Tempur dikenal sebagai kampung toleransi berkat keberadaan dua bangunan ikonik yang saling berhadapan: sebuah gereja dan sebuah masjid. Kedua tempat ibadah ini hanya berjarak enam meter, menjadi simbol kuatnya toleransi antarumat beragama di masyarakat setempat. Keunikan ini menarik pengunjung dari berbagai daerah yang penasaran dengan simbol kerukunan beragama di lereng Pegunungan Muria.

Menurut Mahfud Aly, cerita di balik berdirinya kedua bangunan ini cukup panjang. Awalnya masyarakat dukuh tersebut menganut kepercayaan Kejawen, kemudian tumbuh agama Kristen, disusul dengan agama Islam. Saat ini, bahkan ada warga yang menganut agama Hindu, meskipun belum memiliki tempat ibadah di Tempur.

Potensi Edukasi dan Kuliner Khas Desa Tempur

Desa Tempur terus mengembangkan potensi wisata edukasinya, menawarkan pengalaman belajar yang beragam bagi pengunjung.

Wisata Edukasi

Beberapa program edukasi yang sedang dikembangkan meliputi:
* Edukasi Pengolahan Kopi Tempur: Pengunjung dapat mempelajari seluruh proses kopi, mulai dari penanaman, perawatan, panen, hingga pengolahan menjadi minuman siap saji.
* Edukasi Pengolahan Hasil Bumi Tempur: Program ini memperkenalkan berbagai produk olahan hasil bumi desa, seperti keripik, marning, sale pisang, dan makanan khas Tempur lainnya.
* Edukasi Pertanian Selada: Kelompok Wanita Tani (KWT) Tempur telah berhasil mengembangkan budidaya selada di dalam greenhouse, bahkan mampu memasok kebutuhan di wilayah Kecamatan Keling.
* Edukasi Wisata Pengolahan Sampah: Desa Tempur bertransformasi menjadi desa mandiri sampah melalui Bank Sampah Tempur Berseri. Program ini bertujuan untuk mengelola sampah secara mandiri di lingkup desa, mengubahnya menjadi pupuk kompos, maggot, mendaur ulang sampah plastik, dan membakar sisanya dengan tungku pembakaran manual.
* Edukasi Wisata Budaya Ikan Air Tawar: Program ini masih dalam tahap pengembangan dan telah berhasil melakukan panen ikan nila.

Kuliner Khas

Bagi para pecinta kuliner, Desa Tempur menawarkan hidangan khas yang menggugah selera. Salah satunya adalah sayur umbut, masakan yang terbuat dari batang pohon palem atau pinang liar yang tumbuh di hutan. Hidangan ini memerlukan sistem pre-order karena bahan bakunya tidak selalu tersedia setiap saat, biasanya disiapkan saat ada hajatan desa atau pesanan khusus.

Selain sayur umbut, ada juga olahan masakan khas dari iwak kali (ikan air tawar) dan sayur pakis. Berbeda dengan sayur umbut, kedua menu ini selalu tersedia kapan pun dipesan.

Akomodasi yang Nyaman

Meskipun lokasinya cukup jauh dari pusat kota, Desa Tempur menyediakan berbagai pilihan akomodasi bagi pengunjung. Mulai dari penginapan yang nyaman hingga fasilitas camping ground yang selalu siap sedia, memastikan kenyamanan para wisatawan yang ingin menikmati keindahan dan ketenangan Desa Tempur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *