Ringkasan Berita:
- Ancam Pendidikan: Banjir rob di pesisir Kabupaten Cirebon kini meluas merusak akses pendidikan, mengganggu jam belajar, dan menurunkan semangat mengaji anak-anak saat malam hari.
- Kena Mental: Kuwu Desa Ambulu menyebut ancaman rob harian memicu trauma dan gangguan mental pada warga
- Kaji Jadwal Baru: Pemerintah daerah bersama UPI kini mengkaji kebijakan adaptif, termasuk rencana penyesuaian jadwal sekolah di kawasan pesisir yang rawan rob.
, CIREBON –Banjir rob yang selama ini menjadi persoalan tahunan di wilayah pesisir Kabupaten Cirebon kini tidak lagi hanya mengancam permukiman dan mata pencaharian warga.
Dampaknya mulai merambah dunia pendidikan, mendorong pemerintah daerah mencari berbagai solusi agar proses belajar anak-anak di kawasan pesisir tetap berjalan di tengah ancaman perubahan iklim.
Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon pun mulai mengkaji sejumlah langkah adaptasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap layanan pendidikan di sekolah-sekolah pesisir.
Kabid Riset dan Inovasi Bapperida Kabupaten Cirebon, Eva Musyaerofah mengatakan, upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan mitra Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI).
“Kerja sama itu menghasilkan sejumlah usulan, mulai dari penyesuaian jadwal pembelajaran di wilayah terdampak, pengembangan metode belajar yang adaptif, hingga penguatan edukasi perubahan iklim di sekolah,” ujar Eva saat diwawancarai media, Kamis (11/6/2026).
Menurut Eva, perubahan iklim kini menjadi tantangan baru bagi sektor pendidikan, terutama di daerah pesisir Cirebon yang kerap terdampak banjir rob dan cuaca yang sulit diprediksi.
Ia menegaskan, setiap kebijakan yang akan disusun harus mengacu pada hasil kajian dan kebutuhan masyarakat yang paling terdampak.
“Pendekatan berbasis data penting dilakukan agar kebijakan yang lahir mampu memberikan perlindungan bagi anak-anak dari keluarga nelayan dan kelompok rentan lainnya,” ucapnya.
Eva menjelaskan, pemerintah daerah juga tengah menyiapkan rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat ketahanan sektor pendidikan di wilayah pesisir sekaligus menjadi model penanganan bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Menurut dia, persoalan perubahan iklim tidak bisa diselesaikan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan satuan pendidikan.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian dalam kajian tersebut adalah SDN Ambulu 3, Kecamatan Losari.
Sekolah yang berada di kawasan pesisir itu tercatat mengalami gangguan akibat banjir rob, sementara sebagian besar keluarga siswa menggantungkan hidup dari sektor perikanan yang juga terdampak perubahan iklim.
Peneliti UPI, Dr. Irena mengatakan, dampak perubahan iklim saat ini telah meluas hingga memengaruhi keberlangsungan layanan pendidikan di sejumlah daerah pesisir.
“Dampak perubahan iklim telah meluas hingga memengaruhi keberlangsungan layanan pendidikan di sejumlah daerah pesisir,” jelas Irena.
Menurut dia, kondisi yang terjadi di SDN Ambulu 3 menunjukkan, bahwa persoalan iklim dapat memengaruhi kesempatan belajar dan perkembangan pendidikan anak.
“Fenomena yang terjadi di wilayah pesisir memperlihatkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berimbas pada akses pendidikan peserta didik,” katanya.
Kajian tersebut sejalan dengan kondisi yang selama ini dirasakan masyarakat Desa Ambulu, Kecamatan Losari, salah satu wilayah yang paling terdampak banjir rob di Kabupaten Cirebon.
Tak ada lagi malam yang benar-benar tenang bagi warga desa tersebut.
Selama tiga tahun terakhir, banjir rob datang hampir setiap hari, merendam rumah warga dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Kuwu Ambulu, Sunaji, bahkan menyebut dampak terbesar yang kini dirasakan masyarakat bukan lagi penyakit kulit akibat air laut, melainkan tekanan mental karena harus hidup dalam ancaman rob setiap hari.
“Biasanya sih gatal. Tapi gatal itu, mau gatal mau korengan, itu sebetulnya penyakit yang kita anggap kecil. Tapi penyakit yang terbesar itu penyakit mental,” ujar Sunaji.
Menurut dia, warga hidup dalam kecemasan karena harus selalu bersiap mengangkat barang-barang rumah tangga ketika air laut mulai masuk ke permukiman.
“Karena mereka begitu stresnya. ‘Oh, nanti jam sekian ada banjir rob.’ Mereka mesti mengangkat barang. Tidurnya pun tidak nyaman,” katanya.
Kondisi tersebut ternyata juga berdampak terhadap aktivitas pendidikan anak-anak.
Sunaji menjelaskan, rob biasanya mulai mengalir antara pukul 17.00 hingga 22.00 WIB dengan puncak genangan sekitar pukul 20.00 WIB, bertepatan dengan waktu anak-anak belajar dan mengaji.
“Nah, puncak itulah kan puncaknya orang mengaji, orang belajar, orang hilir mudik. Ketika itu terjadi banjir, aktivitas pastinya menurun dan mental semangat untuk mengaji dan belajar itu pasti terganggu,” ujarnya.
Di tengah situasi itu, banyak keluarga terpaksa berjuang mempertahankan rumah mereka dari ancaman rob yang terus meningkat setiap tahun.
Salah satunya Salman Alfarisi (40), warga Ambulu yang sudah lebih dari tiga tahun tinggal di rumah yang terus terendam air laut.
Bersama kedua orang tua dan saudaranya, Salman harus tidur di atas amben yang ditinggikan agar tubuh mereka tidak bersentuhan langsung dengan genangan air setinggi sekitar 70 sentimeter.
“Ya, ini seperti terendam banjir terus, Pak. Tiap hari enggak surut-surut,” ujar Salman.
Perabotan rumah tangga ditumpuk di tempat yang lebih tinggi, sementara hampir seluruh ruangan rumah digenangi air laut.
“Tidurnya di atas air,” ucapnya pelan.
Kondisi yang dialami Salman menjadi gambaran nyata bagaimana perubahan iklim dan banjir rob tidak hanya menggerus lingkungan serta ekonomi masyarakat pesisir, tetapi juga mulai mengancam keberlangsungan pendidikan anak-anak yang tumbuh di tengah genangan air laut yang tak kunjung surut.(*)



