Dianggap Limbah, Penutup Cangkang Siput Laut Malang Ternyata Bernilai Ekspor

Teks Foto : Petugas Karantina melakukan pemeriksaan terhadap komoditas operculum Hemifusus tuba atau penutup cangkang siput laut asal Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, yang siap diekspor ke Arab Saudi. Komoditas seberat 20 kilogram tersebut memiliki nilai ekonomi di pasar Timur Tengah, antara lain untuk bahan baku dupa dan produk hiasan. (ist)

MALANG –  Siapa sangka penutup cangkang siput laut yang selama ini mungkin dianggap sebagai limbah ternyata memiliki nilai ekonomi dan mampu menembus pasar internasional.

Sebanyak 20 kilogram operculum Hemifusus tuba, atau penutup cangkang siput laut, asal Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, siap diekspor ke Arab Saudi.

Komoditas milik PT A, salah satu UMKM lokal asal Wagir, tersebut telah menjalani pemeriksaan fisik dan dokumen oleh pejabat karantina sebelum diberangkatkan ke negara tujuan pada Kamis (20/8).

Operculum Hemifusus tuba memiliki nilai ekonomi di pasar Timur Tengah karena antara lain dimanfaatkan sebagai bahan baku dupa serta produk hiasan.

Pejabat Karantina pada Satuan Pelayanan Abdurachman Saleh Malang, Rahman Samad, mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan komoditas dalam kondisi layak serta memenuhi persyaratan yang ditetapkan negara tujuan.

“Kami telah melakukan pemeriksaan fisik secara rinci untuk memastikan produk ini bersih, kering sempurna, dan bebas dari sisa jaringan atau kontaminan. Seluruh standar sanitasi dan persyaratan teknis dari negara tujuan telah dipenuhi dengan baik,” ujar Rahman dalam pesan elektronik yang diterima di Malang, Jumat (21/8).

Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan mandat karantina berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Melalui pemeriksaan fisik dan dokumen, pejabat karantina memastikan komoditas yang akan dilalulintaskan telah memenuhi persyaratan karantina sekaligus ketentuan yang berlaku di negara tujuan.

Bagi pelaku UMKM, proses tersebut menjadi salah satu tahapan penting sebelum produk lokal dapat bersaing dan memasuki pasar global.

Plt Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur Hudiansyah mengatakan ekspor operculum Hemifusus tuba menunjukkan bahwa komoditas dari daerah memiliki peluang untuk menembus pasar internasional.

Menurut dia, potensi tersebut dapat terus dikembangkan apabila pelaku usaha mampu menjaga kualitas produk sekaligus memenuhi standar yang dipersyaratkan negara tujuan.

“Kami terus berkomitmen mendampingi para pelaku usaha daerah agar produknya memenuhi standar karantina. Ekspor operculum ini membuktikan bahwa potensi lokal dari Kecamatan Wagir memiliki daya saing tinggi,” kata Hudiansyah.

Ia menegaskan, Karantina tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan terhadap komoditas yang dilalulintaskan, tetapi juga berperan dalam memfasilitasi pelaku usaha agar produk mereka dapat memenuhi persyaratan ekspor.

Hal tersebut sejalan dengan arahan Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding yang mendorong peran karantina tidak hanya sebagai pelaksana fungsi biosecurity di perbatasan, tetapi juga dalam peningkatan mutu, ketertelusuran produk, pemenuhan standar negara tujuan, hingga hilirisasi komoditas sebelum diekspor.

“Karantina siap menjadi fasilitator dan jembatan bagi UMKM untuk mendunia,” ujar Hudiansyah.

Ekspor tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peluang pasar global tidak selalu berasal dari komoditas unggulan yang telah populer.