Aksi Korporasi Indosat Tbk yang Mengubah Struktur Perusahaan
PT Indosat Tbk (ISAT) kembali melakukan aksi korporasi yang menarik perhatian publik. Dalam langkah terbaru, Indosat memutuskan untuk mendivestasi saham anak usahanya, PT Infra Fiber Teknologi, kepada PT Nusantara Fiber Teknologi. Dengan ini, Nusantara Fiber Teknologi akan menjadi pengendali dari Infra Fiber Teknologi dan Lintasarta.
Pengambilalihan tersebut dilakukan secara langsung dari pemegang saham Infra Fiber Teknologi. Proses ini telah mendapatkan persetujuan melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Selain itu, perseroan juga membuka ruang bagi kreditur yang keberatan atas rencana aksi korporasi tersebut. Kritik atau keberatan dapat disampaikan secara tertulis kepada perseroan paling lambat 14 hari kalender sejak tanggal pengumuman diterbitkan.
Pada 21 Mei 2026, pemegang saham PT Infra Fiber Teknologi, termasuk ISAT dan Lintasarta, melakukan investasi melalui mekanisme inbreng atau pemasukan aset ke dalam perseroan dengan total nilai mencapai Rp 13,72 triliun. Secara rinci, ISAT memperoleh 13,50 juta saham PT Infra Fiber Teknologi dengan nilai nominal Rp 1 juta per saham atau setara Rp 13,50 triliun. Sementara itu, PT Aplikanusa Lintasarta menyetor aset berupa jaringan serat optik ke dalam anak usahanya, sehingga menerima 218.301 saham dengan nilai nominal Rp 1 juta per lembar atau setara Rp 218,3 miliar.
Siapa di Balik PT Nusantara Fiber Teknologi?
Penelusuran menunjukkan bahwa transaksi inbreng tersebut adalah tindak lanjut dari perjanjian investasi antara Indosat, Aplikanusa Lintasarta, dan PT Ainfrastruktur Indonesia Raya yang ditandatangani pada 23 Desember 2025. Perjanjian tersebut kemudian diubah dan ditegaskan kembali melalui amandemen pada 6 Mei 2026.
Dalam rencana tersebut, para pihak sepakat mengubah ketentuan terkait pihak yang akan mengambil alih perusahaan Infra Fiber Teknologi. Menurut manajemen ISAT dalam keterbukaan informasi BEI, 6 Mei 2026, transaksi tersebut akan mengakibatkan ISAT, Lintasarta, dan Ainfrastruktur Indonesia Raya menjadi pemegang saham secara langsung di perusahaan baru tersebut. Selanjutnya, perusahaan baru akan memiliki mayoritas saham di dalam Infra Fiber Teknologi.
Sebelumnya, Infra Fiber Teknologi akan diakuisisi oleh perusahaan terbuka, namun skema tersebut kini diubah, sehingga aksi korporasi akan dilakukan oleh perusahaan tertutup. Pada 6 Mei 2026, sejumlah pihak yakni Indosat, PT Aplikanusa Lintasarta, dan Ainfrastruktur Indonesia Raya menandatangani amended and restated (A&R) Perjanjian Investasi, CSPA, serta SHA yang mengatur kerangka investasi bisnis infrastruktur dark fiber.
Identifikasi Perusahaan Baru
Berdasarkan penelusuran, Ainfrastruktur Indonesia Raya merupakan perusahaan tertutup yang berlokasi di Graha Arsari, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Perusahaan ini diketahui sebagai bagian dari Arsari Group, yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo, adik dari Presiden Prabowo Subianto.
Di saat yang sama, Ainfrastruktur Indonesia Raya juga telah menyiapkan untuk mengambil alih Infra Fiber Teknologi secara tidak langsung melalui “Perusahaan Baru” yang saat itu belum disebutkan identitasnya. Transaksi tersebut dilakukan melalui kombinasi utang, setoran modal non-tunai, dan setoran tunai. Nantinya, para pihak akan menjadi pemegang saham langsung di “Perusahaan Baru”, sementara Perusahaan Baru akan menguasai mayoritas saham Infra Fiber Teknologi.
Belakangan, nama PT Nusantara Fiber Teknologi muncul sebagai pihak yang akan mengambil alih PT Infra Fiber Teknologi. Nusantara Fiber Teknologi diduga merupakan “Perusahaan Baru” yang dimaksud dalam rangkaian perjanjian investasi tersebut.
Nusantara Fiber Teknologi: Kendaraan Investasi Baru
Berdasarkan struktur transaksi tersebut, Nusantara Fiber Teknologi tampaknya dibentuk sebagai kendaraan investasi untuk menampung kepemilikan bersama atas bisnis dan aset jaringan serat optik milik ISAT dan Lintasarta.
Berdasarkan penelusuran, PT Nusantara Fiber Teknologi merupakan perusahaan tertutup yang beralamat di Graha Arsari Lantai 1, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
Kerja Sama dengan Arsari Group dan Northstar Group
Entitas bisnis milik adik Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo yaitu Arsari Group sebelumnya menggandeng Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan Northstar Group untuk membangun perusahaan infrastruktur serat optik. Kerja sama dilakukan dengan skema kemitraan strategis dengan membuat perusahaan patungan bernama FiberCo.
Lewat kerja sama ini, ketiga perusahaan mendirikan FiberCo dengan nilai perusahaan mencapai Rp 14,6 triliun. Deputy CEO and COO Arsari Group, Aryo PS Djojohadikusumo mengungkap kerja sama ini akan memberikan dampak jangka panjang untuk ketiga entitas bisnis.
“Kolaborasi ini membuka nilai dari aset yang ada, sekaligus mobilisasi modal jangka panjang untuk menjawab kesenjangan fixed product di Indonesia,” kata Aryo dalam konferensi pers di kantor pusat Indosat, di Jakarta Pusat, Desember 2025 lalu.
Dalam kemitraan tersebut, Indosat berencana memisahkan hampir seluruh aset fiber optik domestiknya. Perusahaan baru ini selanjutnya akan beroperasi sebagai platform infrastruktur fiber optik independen dan berakses terbuka (open-access).
“Kami mengumumkan investasi di digital infrastructure fiber yang independen di Indonesia. Ini juga akan kami padukan dengan investasi Arsari di clean energy, atau energi terbarukan yang nanti akan kami bangun di seluruh Indonesia,” ujar Aryo lagi.






