Ringkasan Berita:
- Lonjakan harga Pertamax hingga Rp16.250 per liter membuat banyak pengendara di Mojokerto beralih ke Pertalite.
- Kondisi ini menyebabkan konsumsi Pertalite meningkat sekitar 20-25 persen, sementara penjualan Pertamax turun hingga 50-60 persen.
- Di salah satu SPBU, stok Pertalite tersisa sekitar 10 ribu liter dan diprediksi habis dalam sehari meski pasokan dikirim setiap hari.
, MOJOKERTO –Kenaikan harga Pertamax mulai memicu perubahan pola konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Mojokerto.
Sejumlah SPBU mencatat lonjakan pembelian Pertalite, sementara penjualan Pertamax justru merosot tajam dalam dua hari terakhir.
Dampaknya, stok Pertalite di beberapa SPBU menipis dan diperkirakan habis dalam waktu satu hari.
Penjualan Pertamax Turun, Pertalite Meningkat
Harga Pertamax saat ini naik menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Kenaikan tersebut berdampak pada penurunan penjualan BBM nonsubsidi di sejumlah SPBU.
Salah satu pengelola SPBU di Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, mengakui terjadi penurunan penjualan Pertamax sejak harga baru diberlakukan.
“Pastinya menurun banget kurang lebih sekian (50-60 persen), kan masih dua hari ini kenaikannya,” ujar pegawai SPBU yang tidak berkenan namanya dipublikasikan, Kamis (11/6/2026).
Di sisi lain, konsumsi Pertalite justru mengalami peningkatan signifikan. Menurutnya, lonjakan penggunaan BBM subsidi tersebut terjadi sejak kenaikan harga Pertamax.
“Untuk Pertalite peningkatannya masih sekitar 20-25 sekian,” jelasnya.
Ia menyebut stok Pertamax di SPBU tersebut masih mencapai 21 ton atau 21.000 liter. Sementara itu, stok Pertalite tersisa sekitar 10 ton atau 10.000 liter dan diperkirakan dapat habis dalam satu hari.
Meski demikian, ia memastikan pasokan BBM masih aman karena distribusi dilakukan secara rutin setiap hari.
“Kalau stok masih aman, baik Pertamax maupun Pertalite. Untuk saat ini khususnya Pertalite masih ada, karena dikirim setiap hari dari Surabaya,” pungkasnya.
Warga: Pemerintah Tidak Gentleman
Salah satu pengguna Pertamax, Budi (57), warga Kota Surabaya, mengaku menyayangkan kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM nonsubsidi secara mendadak.
Meski harus membayar lebih mahal, Budi tetap menggunakan Pertamax karena menyesuaikan spesifikasi kendaraan yang digunakannya.
“Ya piye maneh yo, wong pemerintah yo ngunu (bagaimana lagi ya, pemerintah juga begitu). Pengumuman kok tidak gentleman. Tidak diumumkan ke publik, malam-malam (BBM naik) mendadak, ini tidak benar,” ucap Budi usai mengisi Pertamax di SPBU Pungging, Kamis (11/6/2026).
Budi juga mengaku heran melihat respons masyarakat yang dinilainya cenderung diam terhadap kebijakan kenaikan harga BBM tersebut.
Menurutnya, kenaikan harga Pertamax sangat memberatkan masyarakat.
“Ini tidak tahu kenapa masyarakat kok pada diam, BBM naik kan aneh. Aslinya kita ya keberatan banget” ungkapnya.
Budi menilai kenaikan harga BBM berpotensi memicu kenaikan harga di sektor lain, terlebih di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD).
“Ini Dolar (USD) sudah naik, nanti pasti akan ada kenaikan lagi. Saya yakin PLN (tarif listrik) nanti yang naik, BBM naik dan harga-harga juga ikut naik,” pungkas Budi.
Budi juga menyinggung janji kepala negara yang menurutnya pernah menyampaikan komitmen untuk menurunkan berbagai harga komoditas, termasuk BBM.
Ia khawatir apabila masyarakat tidak menyampaikan keberatan, kebijakan serupa akan kembali terulang di masa mendatang.
“Kalau masyarakat tidak protes nanti akan dibuat lagi seperti ini,” tegasnya.
Antrean Pertalite Lebih Padat
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan lebih banyak terlihat di jalur pengisian Pertalite dibandingkan Pertamax di sejumlah SPBU Mojokerto Raya.
Salah satu pegawai SPBU di Pungging mengakui terjadi lonjakan pengguna Pertalite sejak kenaikan harga Pertamax diberlakukan.
“Yang pasti ada lonjakan untuk pengguna Pertalite di SPBU ini, sudah dua hari ini semenjak kenaikan Pertamax kemarin,” ujarnya.
Sementara itu, jalur pengisian Pertamax terlihat relatif lengang. Hanya sesekali tampak kendaraan yang mengisi BBM nonsubsidi tersebut.
“Kalau pembelian Pertamax masih ada, tapi mungkin tidak sebanyak hari biasa sebelum adanya kenaikan tersebut,” sebut pegawai SPBU tersebut.
Ikuti saluran SURYA MALANG di >>>>> News.google.com




