Tanam 1.000 Mangrove dan Lepas 50 Tukik, LDII Jatim Ajak Warga Jaga Pesisir

Teks Foto : Ketua DPW LDII Jawa Timur KH Moch. Amrodji Konawi saat menghadiri kegiatan penanaman mangrove dan pelepasan tukik di Pantai Cemara, Banyuwangi, Minggu (23/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan pelestarian lingkungan LDII Jatim dengan menanam 1.000 bibit mangrove dan melepas 50 tukik. (foto:istimewa)

BANYUWANGI – Upaya menjaga kawasan pesisir tidak cukup dilakukan dengan aksi sesaat. Perawatan dan keberlanjutan menjadi bagian penting agar ekosistem mangrove benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat dalam jangka panjang.

Hal tersebut menjadi perhatian Ketua DPW LDII Jawa Timur KH Moch. Amrodji Konawi saat menghadiri kegiatan penanaman mangrove dan pelepasan tukik di Pantai Cemara, Banyuwangi, Minggu (23/8/2026).

Dalam kegiatan yang digelar DPD LDII Kabupaten Banyuwangi bersama DPW LDII Jawa Timur dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur itu, sebanyak 1.000 bibit mangrove ditanam dan 50 tukik dilepasliarkan. Peserta juga melakukan aksi bersih-bersih pantai.

Kegiatan bertajuk “Bersama, Membangun Banyuwangi yang Bersih, Lestari dan Berkelanjutan” tersebut melibatkan sekitar 500 peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Amrodji mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program tahunan LDII bertajuk “Kerja Bersama, Bakti untuk Negeri” yang rutin dilaksanakan setiap Agustus. Pada tahun ini, rangkaian kegiatan difokuskan di Banyuwangi dengan mengangkat isu pelestarian kawasan pesisir.

Menurutnya, gerakan tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap program Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang digagas Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melalui gerakan “Nandur Mangrove”.

“Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ruum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia. Karena itu, menjaga dan memperbaiki lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujar Amrodji.

Ia menjelaskan, keberadaan mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Selain membantu menahan abrasi dan meredam gelombang, kawasan mangrove menjadi tempat hidup berbagai jenis biota sekaligus memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon.

“Menanam mangrove bukan sekadar menanam pohon, tetapi investasi ekologis untuk menjaga garis pantai, melindungi keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan masyarakat pesisir,” katanya.

Amrodji menambahkan, fungsi mangrove dalam menyerap dan menyimpan karbon juga memiliki nilai strategis dalam menghadapi perubahan iklim. Potensi tersebut, menurutnya, bahkan dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi lingkungan melalui perdagangan karbon atau carbon trading.

Karena itu, ia mendorong warga LDII untuk terus memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui delapan klaster kontribusi untuk bangsa, terutama dalam bidang ketahanan pangan dan lingkungan.

Ia menegaskan, gerakan penghijauan harus dilanjutkan dengan pemeliharaan setelah bibit ditanam. Tanpa perawatan dan pengawasan, penanaman mangrove tidak akan memberikan hasil optimal.

“Tidak cukup hanya menanam. Mangrove harus dirawat dan dijaga agar tumbuh serta memberikan manfaat dalam jangka panjang. Ini bentuk nyata ikhtiar kita menjaga lingkungan dan masa depan generasi mendatang,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Jawa Timur Prof. Dr. KH Abd. Halim Soebahar, M.A., mengapresiasi kolaborasi antara MUI dan LDII dalam kegiatan pelestarian lingkungan tersebut.

Ia memandang penanaman mangrove sebagai bentuk menanam kebaikan yang manfaatnya tidak hanya dapat dirasakan oleh masyarakat saat ini, tetapi juga oleh generasi mendatang.

“Kami sangat merasakan soliditas dan semangat silaturahim warga LDII. Karena itu, jangan pernah lelah untuk menjalin silaturahim dan menebar kebaikan,” ujarnya.

Prof. Halim mengatakan, kerusakan lingkungan tidak terlepas dari aktivitas manusia. Karena itu, upaya menjaga sekaligus memulihkan alam perlu menjadi tanggung jawab bersama agar kerusakan ekosistem tidak berkembang menjadi bencana.

“Bagaimana kita menanam, tetapi tanaman itu bukan hanya untuk kita. Kita menanam untuk semua, untuk bangsa ini, dan untuk generasi yang akan datang,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi konsistensi warga LDII dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat dan negara. Menurutnya, kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, pemerintah, komunitas, dan masyarakat perlu terus diperluas dalam berbagai kegiatan sosial maupun lingkungan.

“Jangan pernah menunda kebaikan dan jangan merasa lelah untuk selalu berbuat baik. Bisa jadi, dari kebaikan yang kecil inilah menjadi bekal yang paling dahsyat ketika kita menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melalui Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Suratno, menilai penanaman mangrove dan pelepasan tukik menjadi langkah konkret dalam menjaga ekosistem pesisir.

Menurut Suratno, mangrove memiliki fungsi penting dalam mempertahankan keseimbangan lingkungan sekaligus membantu mengurangi ancaman abrasi di wilayah pesisir.

“Terima kasih LDII. Melestarikan mangrove dan penyu hari ini berarti menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir dan memastikan generasi mendatang tetap menikmati kekayaan alam Indonesia,” katanya.

Suratno menambahkan, semangat kolaborasi lintas sektor melalui kegiatan tandang bareng menjadi salah satu kunci dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pemerintah, menurutnya, tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan organisasi kemasyarakatan, komunitas, lembaga keagamaan, dan masyarakat.