SURABAYA – Menjadi pesepak bola profesional dan dokter merupakan dua cita-cita yang ingin diwujudkan Nabil Loverino Misab. Mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) itu kini harus membagi waktu antara perkuliahan, praktikum, dan latihan bersama Persebaya U-20.
Bagi Nabil, kedua dunia tersebut bukan pilihan yang harus segera dipertentangkan. Ia masih ingin mengejar karier di lapangan hijau, tetapi pada saat yang sama mulai menyiapkan masa depan melalui pendidikan kedokteran.
“Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang,” ujar Nabil.
Remaja yang akrab disapa Nabil itu saat ini memperkuat Persebaya U-20. Ia biasa bermain sebagai sayap kanan dan dapat pula ditempatkan sebagai penyerang. Kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh sejak berusia sembilan tahun, ketika ia mulai bermain bersama teman-temannya.
Dari permainan sederhana di lingkungan sekitar, Nabil kemudian bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya. Kemampuannya terus berkembang hingga membawanya ke Persebaya.
“Dari umur 13 sudah masuk Persebaya,” tuturnya.
Perjalanan tersebut tidak terlepas dari dukungan keluarga, meski pada awalnya sepak bola belum dipandang sebagai pilihan karier. Bagi keluarga Nabil, pendidikan justru memiliki tempat yang sangat penting.
Ayahnya merupakan analis kesehatan, sedangkan dua kakaknya berprofesi sebagai dokter. Kakak pertamanya adalah dokter spesialis kandungan dan kakak keduanya dokter umum. Sementara itu, kakak ketiganya berprofesi sebagai guru.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki, Nabil memahami bahwa keluarganya memiliki harapan besar terhadap masa depannya. Ia pun diarahkan untuk mengikuti jejak kedua kakaknya dengan menempuh pendidikan kedokteran.
“Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola,” katanya.
Seiring waktu, pandangan Nabil terhadap kedokteran mulai berubah. Ia tidak lagi melihatnya semata-mata sebagai pilihan orang tua, melainkan sebagai jalan yang dapat memberinya masa depan setelah karier sepak bola berakhir.
Menurut Nabil, perjalanan seorang atlet tidak selalu berjalan panjang dan pasti. Kemampuan fisik, usia, cedera, hingga peluang mendapatkan klub dapat memengaruhi keberlangsungan karier seorang pesepak bola. Karena itu, ia mulai memikirkan kehidupan setelah tidak lagi bermain.
Pemikiran tersebut membuat Nabil memilih untuk tidak meninggalkan salah satu cita-citanya. Ia ingin tetap mengembangkan kemampuan di lapangan, sembari menjalani pendidikan kedokteran sebagai bekal masa depan.
“Kalau dokter kan panjang,” ujarnya.
Namun, menjalani dua dunia sekaligus tentu bukan perkara mudah. Jadwal kuliah kedokteran yang padat harus berjalan beriringan dengan latihan dan persiapan pertandingan bersama Persebaya U-20.
Nabil menyadari, kunci untuk menjaga keseimbangan tersebut adalah kemampuan mengatur waktu. Sejak awal kuliah, ia mulai membiasakan diri menyusun jadwal belajar agar kewajiban akademik tetap dapat diselesaikan.
“Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu,” katanya.
Beruntung, jadwal latihan sepak bola yang biasanya berlangsung pada sore hari relatif tidak banyak berbenturan dengan jadwal perkuliahannya. Dalam waktu dekat, Nabil bahkan masih akan menjalani latihan intensif karena dijadwalkan mengikuti pertandingan.
Bagi Nabil, pendidikan kedokteran dan sepak bola bukan dua hal yang harus saling mengalahkan. Ia ingin melihat sejauh mana keduanya dapat berjalan beriringan, selama aktivitas di lapangan tidak mengganggu kewajibannya sebagai mahasiswa.
Ia juga masih membuka peluang untuk melanjutkan karier hingga jenjang senior. Namun, Nabil memahami bahwa masa depan seorang atlet tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Karena itu, sambil mengejar bola di lapangan, ia terus menyiapkan langkah berikutnya di ruang kuliah. Dua cita-cita tersebut kini menjadi bagian dari perjalanan yang sama: mengejar karier sepak bola, sekaligus membangun masa depan sebagai calon dokter.






