Daerah  

Peringati Jumenengan Dalem ke-38, Keraton Yogyakarta Gelar Upacara Sakral



YOGYAKARTA – Suasana yang penuh dengan kekhusyukan mengisi pesisir Pantai Parangkusumo pada Senin siang (19/1), saat Keraton Yogyakarta menyelenggarakan upacara adat Labuhan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem. Prosesi tahunan ini tidak hanya menjadi ritual rutin, tetapi juga menjadi momen penting bagi pemerintah daerah untuk menekankan pentingnya pelestarian budaya bagi generasi milenial dan Gen Z.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih hadir langsung dalam prosesi tersebut. Ia menekankan bahwa budaya Jawa memiliki nilai-nilai yang luhur yang mencerminkan jati diri bangsa. Ia berharap agar generasi muda dapat memahami dan melestarikan kebudayaan ini, sehingga tidak kehilangan pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi (dari mana kita berasal dan akan ke mana kita menuju).

“Kami berpesan kepada generasi muda agar kebudayaan ini dipahami kemudian dilestarikan,” ujarnya di sela-sela acara. Menurut Bupati, kebudayaan Jawa menitikberatkan pada keselarasan, harmoni, dan keselamatan. Ia khawatir jika generasi muda meninggalkan akar budayanya, masyarakat akan kehilangan karakter sejati.

“Jika tidak kenal budaya sendiri, kami akan kehilangan identitas diri,” tegasnya. Upacara Labuhan ini merupakan bagian dari peringatan Jumenengan Dalem Ke-38 (ulang tahun kenaikan takhta) Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Rangkaian acara dimulai dengan serah terima ubarampe. Utusan Dalem Keraton Yogyakarta KRT Kusumo Negoro menyerahkan ubarampe (perlengkapan ritual) kepada Bupati Bantul di Kantor Kapanewon Kretek. Ubarampe kemudian dibawa ke Cepuri Parangkusumo untuk didoakan oleh para abdi dalem dan juru kunci sebagai bentuk syukur atas keselamatan keraton dan negara.

Puncak acara dilakukan dengan membawa perlengkapan tersebut ke bibir Pantai Parangkusumo untuk dilarung ke Samudra Hindia. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah tampak memadati kawasan pantai untuk menyaksikan prosesi ini.

Selain di Pantai Parangkusumo, tradisi Labuhan Tingalan Jumenengan Dalem ini juga dilaksanakan secara serentak di dua titik sakral lainnya, yaitu Gunung Merapi di Sleman dan Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah.

Berikut beberapa hal yang terjadi selama acara:

  • Acara dimulai dengan serah terima ubarampe antara utusan Dalem Keraton Yogyakarta dan Bupati Bantul. Prosesi ini menjadi awal dari rangkaian ritual.
  • Ubarame dibawa ke Cepuri Parangkusumo, tempat para abdi dalem dan juru kunci melakukan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur.
  • Di puncak acara, perlengkapan ritual dilarung ke Samudra Hindia, simbolisasi dari pengabdian dan kepercayaan terhadap alam serta Tuhan.
  • Ribuan orang hadir di lokasi acara, baik warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah, untuk menyaksikan prosesi ritual ini.
  • Acara dilaksanakan serentak di tiga lokasi yang dianggap sakral, yaitu Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu.

Pentingnya Pelestarian Budaya

Budaya Jawa memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi generasi muda. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Jawa seperti keselarasan, harmoni, dan keselamatan harus terus dilestarikan agar tidak hilang dalam arus modernisasi.

Bupati Bantul menegaskan bahwa kebudayaan adalah fondasi identitas suatu bangsa. Tanpa pemahaman tentang akar budaya, generasi muda bisa kehilangan arah dan tujuan hidup. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bekerja sama dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak dulu.

Dengan acara seperti Labuhan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem, masyarakat diingatkan akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur yang telah diturunkan dari nenek moyang. Melalui ritual ini, harapan besar dipegang bahwa generasi muda akan lebih memahami dan menghargai budaya Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *