BISNIS  

Arus Peti Kemas Naik 14 Persen, Pelaku Usaha Desak Pembangunan Depo di Luar Pelabuhan Merauke

MERAUKE – Seiring percepatan pembangunan di wilayah Indonesia timur, posisi Pelabuhan Merauke sebagai pintu masuk logistik untuk Provinsi Papua Selatan dan sekitarnya semakin strategis. Lonjakan arus barang mendorong pelaku usaha mendesak penguatan infrastruktur, khususnya pembangunan depo peti kemas di luar area pelabuhan guna mengoptimalkan layanan dan mencegah kepadatan.

Ketua DPC Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Merauke, Abi Bakri Alhamid, mengatakan peningkatan pembangunan di Papua Selatan secara otomatis berdampak pada kenaikan arus logistik ke Merauke.

Menurutnya, Merauke sudah saatnya memiliki depo peti kemas di luar area pelabuhan sebagai solusi jangka panjang. Keberadaan depo eksternal dinilai mampu mengurai distribusi kontainer agar tidak menumpuk di dalam pelabuhan.

“Selain itu, untuk jangka pendek, kontainer ke luar pelabuhan harus diberikan izin oleh pemerintah daerah agar bisa langsung keluar ke gudang distributor. Ini untuk mencegah stagnasi di lapangan penumpukan di dalam pelabuhan,” ujarnya, Senin (23/02/2026).

Hal senada disampaikan Kepala Cabang Merauke PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL), Puji Hermoko. Ia menyebut lapangan penumpukan di dalam Pelabuhan Merauke saat ini sudah cukup padat. Area peti kemas siap muat dan hasil bongkar kapal masih bercampur dengan lokasi stripping (pembongkaran muatan) dan stuffing (penataan muatan ke dalam peti kemas).

“Kondisi saat ini stripping dan stuffing masih dilakukan di dalam pelabuhan sehingga lapangan menjadi padat. Dampaknya, proses bongkar muat kapal tidak optimal dan waktu tunggu kapal meningkat,” kata Puji.

Menurutnya, pembangunan depo peti kemas di luar pelabuhan menjadi solusi mendesak untuk mengurai kepadatan sekaligus memperlancar distribusi barang di wilayah timur Indonesia. Tanpa percepatan infrastruktur, perlambatan distribusi logistik dikhawatirkan akan terus berulang, terutama saat volume pengiriman meningkat.

Kepala Kantor Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Merauke, Julivan Ch. L. Salindeho, mengakui kegiatan stripping dan stuffing hingga kini masih dilakukan di dalam area pelabuhan. Sementara luas lapangan penumpukan di dalam pelabuhan hanya sekitar 1,5 hektare.

“Walaupun luasnya 1,5 hektare, yang bisa berfungsi optimal untuk lapangan penumpukan hanya sekitar 1 sampai 1,2 hektare,” ujarnya dalam rapat bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) belum lama ini.

Julivan menambahkan, KSOP bersama Pelindo, pemerintah daerah, perusahaan pelayaran, serta pelaku usaha Jasa Pengurusan Transportasi (JPT) kini memperkuat koordinasi untuk menyiapkan depo di luar pelabuhan. Dengan pemindahan aktivitas stuffing dan stripping ke luar area, kapasitas lapangan di dalam pelabuhan diharapkan dapat difokuskan untuk mempercepat bongkar muat kapal.

Direktur PT Berkah Mutiara Laut, Suroso, menilai tantangan ke depan akan semakin besar, terutama saat pabrik tebu mulai beroperasi. Aktivitas distribusi logistik di Papua Selatan diprediksi meningkat signifikan.

Ia menegaskan, pembangunan depo bukan sekadar penambahan lahan, melainkan upaya menjaga kelancaran rantai pasok masyarakat. Lokasi depo idealnya tidak jauh dari pelabuhan, dengan jarak maksimal sekitar tiga kilometer dari dermaga, mengingat kondisi jalan darat di Merauke yang belum sepenuhnya mendukung mobilitas kontainer jarak jauh.

“Di tengah pertumbuhan arus barang dan ambisi pembangunan kawasan, kesiapan infrastruktur pelabuhan menjadi kunci agar Merauke mampu menopang denyut ekonomi Papua Selatan,” ujarnya.

PT Pelindo Terminal Petikemas selaku operator terminal peti kemas di Pelabuhan Merauke mencatat pertumbuhan arus peti kemas yang konsisten dalam dua tahun terakhir, dengan kenaikan mencapai 14 persen.

Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, menyampaikan arus peti kemas tahun 2025 tercatat sebanyak 52.715 TEUs atau tumbuh sekitar 14 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 46.429 TEUs. Sementara pada 2024, arus peti kemas juga meningkat 14 persen dari tahun 2023 yang tercatat 40.671 TEUs.

Untuk meningkatkan kapasitas layanan, perseroan melakukan perbaikan dan penataan lapangan penumpukan. Namun, penggunaan lapangan untuk kegiatan stripping dan stuffing membuat yard occupancy ratio (YOR) atau tingkat keterisian lapangan mencapai rata-rata 75 persen. Dengan adanya depo di luar pelabuhan, YOR diproyeksikan dapat ditekan hingga rata-rata 40 persen.

Selain itu, perusahaan juga menambah peralatan pendukung, antara lain satu unit side loader untuk pengangkatan peti kemas kosong, satu unit head truck dan chassis, serta menyusul satu unit reach stacker dan dua unit head truck dan chassis yang kini dalam proses pengiriman.

“Kami sangat mendukung keberadaan depo di luar pelabuhan. Dengan demikian, kapasitas lapangan penumpukan dapat optimal untuk kegiatan bongkar muat peti kemas yang setiap tahun terus meningkat,” pungkasnya.