Daerah  

Kapal Sumenep Tetap Melaut di Tengah Badai

Pelayaran Tetap Berjalan di Sumenep Meski Cuaca Buruk, Kapal Besar Jadi Prioritas

Meskipun perairan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tengah dilanda cuaca buruk yang ditandai dengan gelombang tinggi, aktivitas pelayaran dari Pelabuhan Kalianget tidak sepenuhnya terhenti. Sejumlah kapal penumpang dengan kapasitas besar dilaporkan masih beroperasi, melayani rute-rute tertentu, meskipun Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kalianget telah mengeluarkan kebijakan penundaan sementara.

Kebijakan penundaan sementara ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor AL.201/4/19/KSOP.Klg/2026, yang berlaku sejak tanggal 10 hingga 13 Januari 2026. Dasar dari kebijakan tersebut adalah prakiraan cuaca maritim dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya, yang mengindikasikan potensi peningkatan tinggi gelombang dan kecepatan angin kencang di wilayah perairan sekitar Sumenep.

Namun, Kepala Kantor KSOP Kelas IV Kalianget, Azwar Anas, mengakui bahwa tidak semua aktivitas pelayaran dihentikan. Keputusan untuk tetap memberangkatkan kapal mempertimbangkan berbagai faktor, terutama kapasitas kapal dan rute pelayaran yang ditempuh.

Kapal Berkapasitas Besar Jadi Pilihan Utama

Dalam pantauan di lapangan pada Senin (12/1/2026), tercatat ada empat kapal yang masih melayani penumpang. Keempat kapal tersebut adalah Sabuk Nusantara 91, Sabuk Nusantara 92, Sabuk Nusantara 74, dan kapal Hulalo. Keempat kapal ini memiliki kesamaan, yaitu kapasitas angkut yang besar, dengan gross tonnage (GT) di atas 2.000.

Azwar Anas menjelaskan bahwa pemilihan kapal yang diizinkan berlayar didasarkan pada kemampuan kapal dalam menghadapi kondisi gelombang yang tinggi. “Tidak semuanya diberangkatkan, jadi dilihat, kalau gelombangnya mencukupi untuk kapal dengan GT tertentu bisa berangkat. Kalau yang agak kecil, tidak. Tapi untuk yang GT 2.000 ke atas, masih memungkinkan, seperti itu,” ungkap Anas.

Rute Pelayaran yang Dipertimbangkan

Selain kapasitas kapal, rute pelayaran yang akan dilalui juga menjadi faktor penentu. KSOP Sumenep secara cermat mengevaluasi jalur yang akan ditempuh oleh kapal-kapal tersebut.

“Jadi dilihat sama-sama, apa namanya, rute yang notabenenya tidak mengikuti rute yang BMKG. Contoh yang BMKG, selat utaranya Sumenep, utaranya Sapudi, bagian itulah yang tidak dilewati oleh kapal-kapal kecil lainnya seperti (Dharma) Kartika, yang notabene ke Sapudi, jadi tidak memungkinkan,” papar Anas lebih lanjut.

Hal ini berarti kapal-kapal yang berkapasitas lebih kecil, seperti Dharma Kartika dan Ekspress Bahari, yang memiliki GT di bawah 1.000, dilarang berlayar selama cuaca buruk masih berlangsung. Kapal-kapal berukuran kecil ini dinilai tidak mampu menghadapi gelombang tinggi yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Sebaliknya, kapal-kapal besar dianggap lebih tangguh dan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk melintasi rute-rute tertentu yang mungkin terdampak gelombang tinggi. Rute menuju pulau-pulau seperti Masalembu, Kangean, Sapeken, dan Jangkar, yang umumnya dilayani oleh kapal-kapal besar, masih memungkinkan untuk dilanjutkan.

Menyeimbangkan Keselamatan dan Kebutuhan Masyarakat

Keputusan untuk tidak menerapkan larangan berlayar secara menyeluruh didasari oleh pertimbangan mendalam terhadap kondisi masyarakat kepulauan. Azwar Anas menegaskan bahwa larangan total dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian lokal dan ketersediaan bahan pangan di pulau-pulau tersebut.

“Kalau kita larang semua seperti apa yang ada di BMKG, berarti kita nanti kita tidak bisa melihat kondisi ekonomi yang di sana dan kekurangan bahan makanan, habis semua. Makanya dikondisikan dengan melihat kondisi kapal,” jelasnya.

Pendekatan yang diambil adalah menemukan keseimbangan antara menjaga keselamatan pelayaran dan memastikan pasokan kebutuhan pokok bagi warga kepulauan. Dengan memprioritaskan kapal-kapal besar yang mampu menghadapi cuaca buruk dan memilih rute yang relatif lebih aman, KSOP berupaya untuk tetap memfasilitasi mobilitas dan distribusi barang esensial.

Prediksi Cuaca Buruk Berlanjut

Sayangnya, kondisi cuaca buruk diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Anas memberikan peringatan bahwa potensi serupa, termasuk gelombang tinggi yang memerlukan penundaan pelayaran, kemungkinan akan kembali terjadi di minggu-minggu mendatang.

“Apalagi, minggu depan dimungkinkan seperti itu lagi, seperti itu lagi (ada larangan berlayar), ada gelombang yang tinggi lagi,” tuturnya, menyiratkan perlunya kewaspadaan dan kesiapan dari semua pihak, baik operator kapal maupun masyarakat pengguna jasa pelayaran.

Implikasi dan Antisipasi

Fenomena ini menyoroti tantangan yang dihadapi dalam menjaga konektivitas antar pulau di wilayah kepulauan, terutama saat menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

  • Prioritas Keselamatan: Keselamatan penumpang dan awak kapal tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan terkait pelayaran.
  • Analisis Risiko: KSOP terus melakukan analisis risiko secara berkala, mempertimbangkan data BMKG, kondisi kapal, dan karakteristik rute pelayaran.
  • Informasi Publik: Penting bagi masyarakat untuk selalu memantau informasi terkini mengenai kondisi cuaca dan kebijakan pelayaran yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.
  • Kesiapan Armada: Operator kapal, khususnya yang melayani rute-rute rawan cuaca, perlu memastikan armadanya dalam kondisi prima dan memiliki kemampuan navigasi yang memadai.
  • Peran Teknologi: Pemanfaatan teknologi seperti sistem informasi cuaca maritim yang lebih canggih dapat membantu dalam prediksi yang lebih akurat dan pengambilan keputusan yang lebih cepat.

Dengan terus beradaptasi dan menerapkan strategi yang tepat, diharapkan aktivitas pelayaran di Sumenep dapat terus berjalan dengan aman dan efektif, meskipun dalam kondisi cuaca yang menantang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *