Serpihan Pesawat ATR Ditemukan di Puncak Bulusaraung, Operasi SAR Diintensifkan
Pangkep, Sulawesi Selatan – Operasi pencarian pesawat penumpang yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Sulawesi Selatan membuahkan hasil awal. Serangkaian temuan serpihan pesawat mulai teridentifikasi sejak pagi hari di sekitar Puncak Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. Penemuan ini menjadi titik krusial dalam upaya mempersempit area pencarian dan mengonfirmasi dugaan lokasi jatuhnya pesawat.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, yang juga menjabat sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyatakan bahwa penemuan serpihan ini memberikan petunjuk penting. “Temuan serpihan pesawat ini menjadi petunjuk penting dalam mempersempit area pencarian. Tim SAR gabungan saat ini fokus pada pengamanan lokasi, pendataan temuan, serta penyesuaian taktik operasi sesuai dengan kondisi medan di lapangan,” ujar Arif.
Sebelumnya, sebuah pesawat jenis ATR 42-500 yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak dalam penerbangan menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT ini diketahui mengangkut total 10 orang, termasuk awak dan penumpang. Pesawat turboprop ini sebelumnya digunakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendukung kegiatan patroli maritim.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih terus bekerja keras dalam upaya pencarian dan verifikasi di area yang diduga kuat menjadi lokasi jatuhnya pesawat. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menegaskan bahwa prioritas utama dalam operasi ini adalah menemukan titik pasti keberadaan pesawat serta memastikan keselamatan seluruh awak dan penumpang.
Tim SAR Gabungan masih terus berupaya menemukan keberadaan penumpang pesawat ATR 42-500 yang diperkirakan jatuh di puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Perkiraan waktu jatuhnya pesawat adalah sekitar pukul 13.00 Wita pada hari Sabtu, 17 Januari 2026.
Mobilisasi Kekuatan SAR Gabungan: 720 Personel Dikerahkan
Menghadapi kompleksitas medan dan skala operasi, sebanyak 720 personel gabungan dari unsur SAR, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) telah diterjunkan ke lapangan. Pengerahan personel dalam jumlah besar ini menunjukkan keseriusan dan komitmen seluruh pihak dalam menjalankan misi pencarian ini.
Informasi yang dihimpun dari lokasi kejadian menunjukkan bahwa pesawat tersebut diduga menabrak gunung, yang kemudian menyebabkan serpihan badannya terlihat tersebar di area tersebut. Komandan Resimen Arhanud, Kolonel Pas Dadang Hermawan, melaporkan bahwa “Bodi besar pesawat sekilas termonitor namun tertutup, tak sempat didokumentasikan helikopter.” Keterbatasan visibilitas dan kondisi medan yang sulit menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan.
Foto-foto yang beredar dari lokasi operasi menunjukkan tim SAR dari TNI mulai menaikkan kantong jenazah, mengindikasikan kemungkinan adanya korban jiwa dalam insiden ini. Upaya ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan terhadap para korban.
Kronologi Penemuan Serpihan di Puncak Bulusaraung
Rangkaian penemuan serpihan pesawat ATR yang jatuh di Pangkep ini dimulai sejak pagi hari, memberikan gambaran awal mengenai dampak kecelakaan:
- Pukul 07.20 WITA: Tim regu 3 yang beroperasi di Puncak Gunung Bulusaraung (1.353 meter di atas permukaan laut) di wilayah Tompobulu, berhasil menemukan sejumlah serpihan pesawat. Penemuan awal ini menjadi titik awal dari serangkaian identifikasi selanjutnya.
- Pukul 07.46 WITA: Tim berhasil mengidentifikasi serpihan bagian jendela pesawat. Penemuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa pesawat telah mengalami kerusakan parah. Lokasi penemuan berada pada koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT.
- Pukul 07.49 WITA: Ditemukan bagian badan pesawat yang berukuran cukup besar, diperkirakan setara dengan ukuran sebuah mobil bemo. Hal ini menunjukkan skala kerusakan yang dialami oleh pesawat.
- Pukul 07.52 WITA: Bagian moncong pesawat teridentifikasi terbuka, dan ekor pesawat ditemukan di sebelah selatan lereng pada ketinggian 1.201 meter. Penemuan ini membantu tim dalam merekonstruksi arah dan kemungkinan posisi akhir pesawat.
- Pukul 08.02 WITA: Serpihan berukuran besar kembali terpantau dari udara oleh tim Search and Rescue Unit (SRU) menggunakan Helikopter Caracal. Pemantauan udara ini memberikan gambaran yang lebih luas mengenai sebaran puing-puing.
- Pukul 08.11 WITA: Tim di lapangan menyampaikan kebutuhan mendesak akan peralatan tambahan, khususnya perlengkapan mountaineering atau climbing. Peralatan ini sangat diperlukan untuk menjangkau lokasi-lokasi yang memiliki medan terjal dan sulit diakses.
Keberadaan unsur SAR gabungan, TNI dari Kostrad, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di titik-titik prioritas menunjukkan koordinasi yang erat antarlembaga untuk memastikan efektivitas operasi pencarian. Penemuan serpihan ini menjadi bukti nyata atas upaya keras tim SAR gabungan dalam menghadapi tantangan geografis yang ekstrem demi mengungkap misteri hilangnya pesawat ATR 42-500.






